Konten dari Pengguna

Dompet Digital & Rasa Nasionalisme: Literasi Akuntansi Anak Muda di Era Cashless

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Rahmah Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Dok. Pribadi/AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Dok. Pribadi/AI

Kehadiran dompet digital telah mengubah cara anak muda Indonesia bertransaksi dalam kehidupan sehari-hari. Pembayaran yang dahulu dilakukan dengan uang tunai kini bergeser menjadi sekadar sentuhan layar, pemindaian kode, dan notifikasi yang muncul dalam hitungan detik. Kemudahan ini memang menghadirkan efisiensi, namun di balik kepraktisannya tersimpan tantangan besar yang berkaitan dengan literasi akuntansi dan kesadaran sebagai warga negara. Ketika uang tidak lagi terlihat secara fisik, banyak anak muda kehilangan kesadaran akan arus keluar dan masuknya keuangan mereka.Literasi akuntansi dalam konteks sederhana bukanlah kemampuan membuat laporan keuangan perusahaan yang rumit.

Literasi akuntansi bagi anak muda adalah kemampuan mencatat, mengelompokkan, dan mengevaluasi setiap pemasukan dan pengeluaran yang terjadi melalui dompet digital. Tanpa kebiasaan ini, seseorang akan sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara pengeluaran yang produktif dan pengeluaran yang konsumtif. Dompet digital yang menawarkan kemudahan pembayaran, promo, dan cicilan justru mempercepat terjadinya pemborosan jika tidak diimbangi dengan pencatatan yang disiplin. Namun, rendahnya literasi akuntansi membuat banyak anak muda terjebak dalam pola hidup konsumtif yang difasilitasi oleh dompet digital. Fitur paylater, pinjaman instan, dan promo yang menggiurkan membuat mereka terdorong untuk berbelanja melebihi kemampuan keuangan mereka.

Setiap transaksi yang dilakukan melalui dompet digital yang terdaftar dan diawasi secara resmi akan tercatat dalam sistem keuangan nasional. Transaksi tersebut menghasilkan data yang menjadi dasar bagi negara untuk menghitung perputaran ekonomi, penerimaan pajak, dan perumusan kebijakan. Sebaliknya, ketika anak muda lebih memilih transaksi yang tidak tercatat atau menggunakan platform yang tidak jelas legalitasnya, negara kehilangan kesempatan untuk mengelola ekonomi secara akurat dan adil. Kesadaran untuk bertransaksi secara legal adalah bentuk nasionalisme dalam era digital.

Nasionalisme harus diwujudkan dalam sikap ekonomi yang bertanggung jawab, seperti menggunakan produk keuangan dalam negeri yang diawasi oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, membayar pajak atas penghasilan yang diperoleh dari ekonomi digital, dan mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah melalui transaksi yang sehat. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diperluas maknanya agar tidak hanya menekankan aspek moral dan politik, tetapi juga aspek ekonomi dan akuntansi. Sekolah dan perguruan tinggi harus mengajarkan bagaimana membaca laporan keuangan sederhana, bagaimana membuat anggaran bulanan berbasis aplikasi dompet digital, dan bagaimana memahami kewajiban pajak dari aktivitas ekonomi digital.

Dompet digital sejatinya adalah alat netral yang dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi maupun sumber pemborosan. Nilai dari alat tersebut ditentukan oleh literasi penggunanya. Apabila anak muda Indonesia mampu mengelola dompet digital dengan disiplin akuntansi dan kesadaran kewarganegaraan, mereka akan menjadi kekuatan ekonomi nasional yang tangguh. Nasionalisme di era cashless tidak diukur dari seberapa sering seseorang meneriakkan cinta tanah air, melainkan dari seberapa bijak ia mencatat, mengelola, dan mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang ia belanjakan untuk masa depan dirinya dan bangsanya.