Kerja Rangkap: Solusi Finansial atau Bentuk Kelelahan yang Dinormalisasikan

Saya mahasiswa aktif Universitas Pamulang prodi Akuntansi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adinda Rahmah Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerja rangkap atau yang kini populer dengan istilah side hustle, moonlighting, dan gig work telah berubah dari sekadar fenomena sementara menjadi pola kerja yang kian meluas di tengah masyarakat modern. Pada awalnya, kerja rangkap dipandang sebagai strategi cerdas untuk menambah penghasilan, memanfaatkan waktu luang secara produktif, dan membangun kemandirian finansial.
Namun seiring dengan meningkatnya tekanan ekonomi dan ketidakpastian pasar kerja, kerja rangkap tidak lagi semata-mata merupakan pilihan, melainkan menjadi kebutuhan yang dipaksakan oleh keadaan. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa upah pekerjaan utama sering kali tidak lagi sebanding dengan biaya hidup yang terus melonjak, mulai dari kebutuhan pokok, biaya pendidikan, hingga biaya kesehatan.
Di saat yang sama, perusahaan cenderung menawarkan kontrak kerja yang fleksibel tetapi tidak memberikan jaminan keamanan finansial yang memadai, sehingga pekerja merasa perlu mencari sumber pendapatan tambahan agar dapat bertahan. Dalam konteks ini, kerja rangkap tampak sebagai solusi finansial yang rasional dan adaptif, karena memberikan aliran pemasukan kedua yang dapat menutup kekurangan gaji, membantu melunasi utang, dan membuka peluang untuk membangun tabungan darurat atau investasi jangka panjang.
Namun, di balik manfaat finansial tersebut, kerja rangkap juga memunculkan kelelahan yang bersifat sistemik. Jam kerja yang berlebihan hingga lebih dari sepuluh jam sehari menyebabkan tubuh dan pikiran bekerja melebihi kapasitasnya, yang kemudian berujung pada burnout, gangguan tidur, dan penurunan kesehatan mental.
Sayangnya, kelelahan ini dinormalisasi oleh budaya hustle culture yang memuja kerja tanpa henti sebagai bentuk kesuksesan, sehingga pekerja menganggap rasa lelah sebagai hal yang wajar. Padahal, kondisi tersebut menunjukkan adanya masalah struktural, seperti upah yang tidak layak dan minimnya perlindungan bagi pekerja.
Oleh karena itu, kerja rangkap dapat dipahami sebagai solusi finansial jangka pendek sekaligus gejala dari sistem kerja yang tidak sehat, yang membutuhkan perbaikan melalui kebijakan upah layak dan perlindungan pekerja yang lebih baik.
