Globalisasi Pangan dan Percepatan Penyakit Metabolik Datang Lebih Dini

Mahasiswa Gizi Universitas Airlangga
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Adinda Fadhilah Alibasyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa dekade lalu, diabetes tipe 2, penyakit jantung koroner, dan hipertensi hampir selalu diasosiasikan dengan usia paruh baya atau lanjut usia. Penyakit-penyakit tersebut dianggap sebagai konsekuensi alami dari proses penuaan dan akumulasi gaya hidup tidak sehat selama puluhan tahun. Namun saat ini, gambaran itu berubah drastis. Fasilitas kesehatan di Indonesia seperti Klinik, Puskesmas, dan Rumah Sakit semakin sering menemukan pasien usia 20-30 tahun dengan obesitas sentral, resistensi insulin, bahkan prediabetes. Penyakit yang dahulu datang perlahan kini muncul lebih cepat. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan sistem pangan global.
Dalam buku Globalization of Food Systems in Developing Countries, menjelaskan bahwa globalisasi mengubah sistem pangan melalui urbanisasi, liberalisasi perdagangan, investasi asing, dan ekspansi ritel modern. Perubahan ini meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi juga menggeser pola konsumsi masyarakat dari makanan tradisional berbasis bahan segar menuju makanan olahan dan Ultra-Processed Food yang semakin digemari oleh banyak kalangan masyarakat.
Dari Makanan Tradisional ke Ultra-Processed Food
Ultra-processed food (UPF) bukan sekadar makanan kemasan biasa. Ini adalah produk industri yang diformulasikan dengan gula tambahan tinggi, lemak jenuh, garam, serta berbagai aditif untuk meningkatkan rasa dan daya tahan produk. Produk seperti minuman berpemanis, snack kemasan, mie instan, sosis olahan, roti manis, dan berbagai minuman kekinian menjadi bagian rutin konsumsi generasi muda terutama pada Gen Z. Produk-produk ini dirancang untuk hiper-palatable kombinasi gula, lemak, dan garam yang merangsang sistem reward otak dan mendorong konsumsi berulang.
Masalahnya bukan hanya kalori yang tinggi, tetapi sifat adiktif dan frekuensi konsumsi yang meningkat. Globalisasi sistem pangan mempercepat penyebaran produk-produk ini melalui supermarket modern, minimarket waralaba, restoran cepat saji, dan kini aplikasi pesan-antar berbasis digital. Globalisasi hari ini tidak hanya bekerja melalui perdagangan lintas negara, tetapi juga melalui algoritma media sosial yang mendorong konsumsi impulsif seseorang dalam memilih makanan.
Obesitas dan Overweight menjadi Titik Awal Rantai Penyakit
Data nasional menunjukkan dampaknya semakin jelas. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa mencapai 23,4%. Jika digabungkan dengan kategori overweight, lebih dari sepertiga populasi dewasa Indonesia mengalami kelebihan berat badan. Obesitas bukan sekadar persoalan estetika atau angka indeks massa tubuh (IMT). Lemak visceral yaitu lemak yang mengelilingi organ dalam bersifat aktif secara metabolik. Hal tersebut bisa meningkatkan resistensi insulin, memicu inflamasi kronis tingkat rendah, serta mempercepat kerusakan pembuluh darah.
Ketika resistensi insulin terjadi pada usia 20-an, proses menuju diabetes tipe 2 dimulai lebih awal. Itu menunjukkan seseorang bisa hidup puluhan tahun dalam kondisi metabolik yang terganggu sebelum komplikasi berat muncul. Penyakit ginjal kronis, penyakit jantung, dan stroke yang dahulu muncul pada usia 60-an kini berpotensi terjadi di usia 40-an. Inilah yang disebut sebagai percepatan penuaan metabolik.
UPF dan Penyakit Usia Tua yang Datang Lebih Dini
Penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan hubungan konsisten antara konsumsi UPF dan penyakit tidak menular. Meta-analisis dalam The BMJ menunjukkan konsumsi UPF berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat semua sebab. Studi kohort dalam Diabetes Care menemukan bahwa setiap peningkatan 10% energi dari UPF meningkatkan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan. Tinjauan sistematis dalam Nutrients menunjukkan hubungan antara konsumsi UPF dan obesitas sentral. Semakin besar kontribusi UPF dalam pola makan, semakin tinggi juga risiko gangguan metabolik.
Di Indonesia, tren ini terlihat nyata. International Diabetes Federation (2024) memperkirakan lebih dari 19 juta orang Indonesia hidup dengan diabetes. Laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan kasus diabetes tipe 2 pada usia yang semakin muda. Ketika pola konsumsi tinggi gula dan lemak dimulai sejak remaja, maka paparan metabolik berlangsung lebih lama. Penyakit yang seharusnya muncul setelah puluhan tahun kini muncul jauh lebih cepat pada usia muda.
Lingkungan Obesogenik yang Masalahnya Bukan Sekadar Pilihan Individu
Globalisasi sistem pangan menciptakan apa yang disebut sebagai obesogenic environment, lingkungan yang memudahkan konsumsi energi berlebih dan mempersulit pilihan sehat. Minuman tinggi gula sering kali lebih murah dan lebih mudah diakses dibandingkan buah segar. Promosi digital juga memperkuat normalisasi konsumsi tersebut, terutama harga diskon seperti bundling yang akhirnya semakin menambah konsumsi makanan yang tinggi gula maupun tinggi natrium.
Literatur globalisasi pangan menegaskan bahwa perubahan sistem distribusi dan ritel modern menggeser pola konsumsi masyarakat. Tanpa regulasi yang kuat, sistem ini akan terus mendorong dominasi produk dengan margin keuntungan tinggi yang sering kali termasuk kategori UPF. Masalah ini bukan sekadar soal disiplin pribadi. Ketika sistem membanjiri pasar dengan produk tinggi gula dan lemak, pilihan sehat menjadi semakin sulit.
Kebijakan Indonesia yang Tertinggal
Beberapa negara telah merespons dengan kebijakan fiskal dan regulasi tegas. Meksiko, misalnya, menunjukkan bahwa pajak minuman berpemanis menurunkan konsumsi secara signifikan. Evaluasi kebijakan tersebut memperlihatkan perubahan perilaku yang nyata dalam beberapa tahun pertama implementasi. Indonesia masih dalam tahap diskusi panjang mengenai kebijakan serupa. Edukasi gizi memang penting, tetapi tanpa perubahan struktural lingkungan pangan, beban perubahan tetap diletakkan pada individu. Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam literatur globalisasi pangan, sistemlah yang membentuk pilihan. Ketika sistem tidak berubah, pilihan sehat menjadi semakin sulit.
Indonesia menghadapi double burden of malnutrition, stunting masih sekitar 21%, sementara obesitas dan diabetes meningkat. Ini menunjukkan bahwa globalisasi sistem pangan meningkatkan ketersediaan energi, tetapi tidak menjamin kualitas nutrisi. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko memiliki generasi yang secara kronologis muda tetapi secara biologis lebih tua. Penyakit metabolik akan muncul lebih dini, membebani sistem kesehatan, dan menurunkan produktivitas usia kerja.
Globalisasi sistem pangan tidak bisa dihentikan. Namun, seperti yang ditegaskan dalam kerangka FAO, perubahan sistem memerlukan respons kebijakan multisektor. Tanpa intervensi struktural seperti regulasi iklan, pajak minuman berpemanis, dan label nutrisi yang jelas UPF akan terus mendominasi pola konsumsi generasi muda. Penyakit usia tua yang muncul di usia muda bukan sekadar fenomena medis. Ini adalah konsekuensi dari sistem pangan yang tidak terkendali secara baik.
Adinda Fadhilah Alibasyah (NIM. 192231020)
Mahasiswa Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.
Referensi:
Wagner, S., Nørgaard, K., Willaing, I., Olesen, K. and Andersen, H.U. (2023). Upper-extremity impairments in type 1 diabetes: Results from a controlled nationwide study. Diabetes Care, 46(6), pp.1204–1208. Available at: https://doi.org/10.2337/dc23-0063
Elizabeth, L., Machado, P., Zinöcker, M., Baker, P. and Lawrence, M. (2022). Ultra-processed foods and health outcomes: a narrative review, Nutrients, 12(7), 1955. Available at: https://www.mdpi.com/2072-6643/12/7/1955
International Diabetes Federation (2024). IDF Diabetes Atlas. Brussels: International Diabetes Federation. Available at: https://diabetesatlas.org/
Kennedy, G., Nantel, G. and Shetty, P. (2004). Globalization of Food Systems in Developing Countries: Impact on Food Security and Nutrition. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Available at: https://www.fao.org/3/y5736e/y5736e00.htm
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023a). Hasil Utama Survei Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023b). Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Zhang, E.J., Aitchison, L.P., Phillips, N., Shaban, R.Z. and Kam, A.W. (2021). Protecting the environment from plastic PPE. BMJ, 372. Available at: https://doi.org/10.1136/bmj.n109.
