Ada Jeritan Di Pasar Induk Beras Cipinang

Si Tukang Tulis
Tulisan dari Lala Kapita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jeritan hati Rusdi (80) saat memikul beban di Pasar Induk Besar Cipinang. Setiap paginya Rusdi berangkat dari Bogor menuju tempat ia bekerja di daerah Cipinang, Jakarta Timur. Bukan jarak yang dekat bagi lelaki paruh baya ini.
Pukul 04.30 dini hari ia sudah bergegas menaiki mikrolet untuk bekerja dengan upah yang tidak menentu. Sudah 20 tahun lamanya Rusdi menekuni pekerjaan yang tidak sepadan antara upah dan keringat yang tercucur.
Dari jam 8 pagi hingga jam 5 petang ia mulai menunggu datangnya truk pengangkut beras dan mengerahkan seluruh tenaga yang tidak lagi sekuat dulu. Alih-alih banyak yang ia kerjakan namun, hari ini saja belum ada muatan yang ia siap bongkar bersama teman-temannya.
Upah yang tidak pasti menjadi hal yang paling pedih yang ia rasakan. Bayangkan saja dari 1 ton beras yang ia pikul bersama temannya hanya mendapatkan upah 15 ribu, belum lagi dibagi dengan teman seperjuangan lainnya. Tidak adil memang, tapi mau bagaimana lagi?
"Tergantung kerjaannya, kalo gak ada kerjaan ga dibayar paling sekedar uang makan," ujar Rusdi sembari tersenyum gentir saat ditemui Kumparan (Kumparan.com) di daerah Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.
Pedih memang, wajah yang keriput itu masih harus menopang beban yang berat. Ini semua harus ia lakukan hanya untuk menghidup istri tercintanya. Konsumen yang semakin hari semakin menipis juga menjadi faktor berkurangnya pendapatan yang ia peroleh.
"Gatau deh pada kemana, udah gak pada makan nasi kali. Makan mie doang," katanya sembari tertawa namun sedih masih terlihat dari matanya.
Rusdi bekerja setiap senin hingga jumat dari mulai pagi hingga petang menjelang.
"Cuma sampe jumat, sabtu minggu libur saya kaya PNS," tambahnya sembari menyeka keringatnya.
Jelas, dengan upah yang ia dapatkan tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonominya. Namun, semangat Rusdi tidak akan pernah luntur. Semangat Pak.
