Konten dari Pengguna

Belajar untuk Gagal: Terlalu Perfeksionis Juga Tidak Baik

Adinda Nurtopani

Adinda Nurtopani

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Sastra Indonesia.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Nurtopani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mereka yang perfeksionis itu ingin segala-galanya sempurna.

Ilustrasi orang yang terlalu perfeksionis. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang yang terlalu perfeksionis. Foto: Shutterstock

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan American Psychological Association, Curran dan Hill menganalisis data dari 41.641 mahasiswa Amerika, Kanada, dan Inggris dari 164 sampel yang menyelesaikan Skala Perfeksionisme Multidimensional, sebuah ujian untuk perubahan generatif perfeksionisme, dari akhir 1980 sampai 2016.

Diketahui dari penelitian tersebut antara tahun 1989 dan 2016, nilai kesempurnaan perfeksionis meningkat sebesar 10 persen, secara sosial meningkat sebesar 33 persen, dan orientasi lainnya meningkat sebesar 16 persen.

Penyebab seseorang menjadi perfeksionis bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor psikologis, lingkungan, dan pengalaman hidup.

Saya sendiri adalah salah satu orang yang perfeksionis. Saya selalu ingin mendapatkan hasil yang sempurna dalam hal apapun yang saya kerjakan.

Sering kali saya sulit merasa puas dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal apapun yang sudah dilalui, saya selalu merasa ada yang kurang.

Hal yang sebenarnya baik-baik saja dan normal, tidak ada yang salah. Tapi saya selalu saja menemukan apa yang salah, apa yang kurang, dan apa yang gagal.

Alhasil, apapun yang sudah saya lakukan, selalu muncul rasa penyesalan di dalam hati. Saya selalu merasa apabila bisa mengulang kembali, saya seharusnya bisa melakukan dengan lebih baik daripada sebelumnya.

Ilustrasi orang yang stres karena terlalu banyak belajar. Foto: Shutterstock

Ternyata, terlalu perfeksionis tidak selalu baik untuk kesejahteraan. Meskipun perfeksionisme dapat menjadi motivasi dan mendorong untuk mencapai hasil yang baik, namun ada beberapa dampak negatif yang dapat timbul akibat sikap yang berlebihan ini.

Berikut beberapa masalah yang dapat muncul akibat perfeksionisme berlebihan.

  • Stres yang tinggi: Perfeksionis seringkali merasa tertekan untuk mencapai standar yang sangat tinggi. Mereka cenderung sangat kritis terhadap diri sendiri dan takut membuat kesalahan. Hal ini dapat menyebabkan tingkat stres yang tinggi dan dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.

  • Prokrastinasi: Perfeksionis seringkali mengalami kesulitan memulai atau menyelesaikan tugas karena takut bahwa hasil akhir tidak akan sesempurna yang diinginkan. Mereka cenderung terjebak dalam siklus analisis berlebihan dan mencoba menyelesaikan setiap detail sebelum mereka merasa puas. Akibatnya, proyek atau tugas tertunda dan tidak selesai tepat waktu.

  • Rendahnya harga diri: Perfeksionis sering menempatkan standar yang tidak realistis bagi diri sendiri. Ketika mereka tidak dapat mencapai standar tersebut, mereka merasa gagal dan meragukan kemampuan mereka. Ini dapat mengarah pada rendahnya harga diri, perasaan tidak berharga, dan kecenderungan untuk terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

  • Gangguan hubungan interpersonal: Perfeksionis cenderung mengharapkan orang lain untuk mencapai standar yang sama tingginya. Mereka dapat menjadi kritis dan tidak puas dengan kinerja orang lain, yang dapat menyebabkan konflik dan ketegangan dalam hubungan interpersonal.

  • Kehilangan kesempatan: Karena perfeksionis seringkali fokus pada detail dan kekurangan, mereka dapat kehilangan kesempatan yang berharga. Mereka seringkali terjebak dalam upaya untuk membuat segalanya sempurna dan tidak dapat melihat kesempatan yang muncul di sekitar mereka.

Ilustrasi menolak kesalahan. Foto: Shutterstock

Meskipun memiliki standar tinggi dan semangat untuk melakukan yang terbaik adalah hal yang baik, penting untuk mengakui bahwa kesempurnaan mutlak tidak mungkin dicapai dan bisa memberikan tekanan yang tidak perlu pada diri sendiri.

Setelah saya merenungkan mengapa saya seperti ini, ternyata harapan saya yang terlalu berlebihan kepada diri sendiri.

Saya dengan perfeksionisme saya, mengharapkan segala sesuatu bisa terjadi dengan sempurna sesuai dengan ide yang ada di kepala. Setiap detail harus sempurna, setiap tindakan harus tak terbandingkan.

Dan itulah hal yang tanpa sadar saya jadikan beban. Namun, pada akhirnya saya menyadari, bahwa terlalu perfeksionis membuat saya terhimpit.

Ketika saya melepas beban itu, saya menemukan kelegaan dan kebebasan. Karena ternyata tak semuanya harus sempurna, ketidaksempurnaan juga punya pesona tersendiri.

Dalam kegagalan dan kesalahan, saya menemukan pelajaran berharga. Bahwa hidup tak selalu tentang kesempurnaan, namun tentang bagaimana kita tumbuh dan belajar dari kegagalan dan kesalahan tersebut.

Ilustrasi tanaman yang sedang berproses tumbuh. Foto: Shutterstock

Mengembangkan sikap yang lebih seimbang, menghargai kemajuan daripada kesempurnaan mutlak, dan belajar menerima kekurangan adalah langkah-langkah penting untuk mengatasi perfeksionisme yang berlebihan.

Maka dari itu, saya mulai belajar untuk menerima diri ini, dengan semua kelebihan dan kekurangan. Karena nyatanya, terlalu perfeksionis juga tak membawa kebahagiaan. Yang penting adalah menjadi diri yang sejati.

Tak perlu mengejar kesempurnaan yang tak ada, namun nikmati setiap momen dalam ketidaksempurnaan. Karena kita adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang, gagal juga merupakan proses untuk menjadi diri kita yang lebih baik lagi.

Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh.

Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah.

Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua," —Buya Hamka.