Konten dari Pengguna

Dunia yang Keras atau Mentalmu yang Lembek?

Adinda Nurtopani

Adinda Nurtopani

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Sastra Indonesia.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Nurtopani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang sedang stres. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang sedang stres. Foto: Shutterstock

Setiap orang memiliki keunikan dan perbedaan dalam cara mereka menghadapi dan merespons dunia di sekitar mereka. Namun tidak dapat dipungkiri saat ini dunia memang terasa semakin keras.

Pandangan bahwa dunia semakin keras adalah pemahaman yang dapat dipertimbangkan mengingat kompleksitas tantangan dan tekanan yang dihadapi oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap persepsi ini termasuk:

  • Kompetisi yang meningkat: Persaingan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan prestasi sosial, bisa menjadi lebih intens. Tekanan untuk mencapai kesuksesan dan memenuhi harapan sosial dapat menambah beban dan menciptakan lingkungan yang lebih keras.

  • Perubahan sosial dan ekonomi: Perubahan ekonomi dan perubahan dalam struktur sosial dapat menciptakan ketidakpastian dan stres. Ketidakstabilan ekonomi, kesenjangan sosial, dan perubahan nilai-nilai sosial dapat menyebabkan ketegangan dan kesulitan yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari.

  • Teknologi dan media sosial: Kemajuan teknologi dan penggunaan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi dan berkomunikasi. Sementara ini membawa banyak manfaat, itu juga dapat menciptakan tekanan sosial, perbandingan yang merugikan, dan peningkatan kekhawatiran tentang citra diri dan ekspektasi yang tinggi.

  • Lingkungan yang kompleks: Tantangan global seperti perubahan iklim, ketidakadilan sosial, dan konflik politik dapat memberikan dampak yang signifikan pada individu dan masyarakat. Ketidakpastian tentang masa depan dan rasa tanggung jawab terhadap masalah-masalah global ini dapat menyebabkan tekanan tambahan.

Ilustrasi seorang wanita yang mengalami stres. Foto: Shutterstock

Tidak jarang, banyak orang yang stres, depresi, atau bahkan bunuh diri karena tekanan hidup yang terasa begitu berat. Menurut WHO, 2019, sekitar 800.000 orang meninggal akibat bunuh diri per tahun, di dunia.

Apalagi kebanyakan remaja sekarang menurut saya memiliki mental yang lembek. Contohnya, dibentak sedikit tersinggung, dinasihati sedikit merasa tidak adil, diberikan sedikit tugas mengeluh, dan setiap ada sedikit masalah dibesar-besarkan.

Bukannya saya menghina dan tidak mau mengerti kalian, saya pun salah satu orang yang pernah mengalami mental lembek seperti itu. Menjadi orang yang belum bisa menjalani kehidupan. Mental yang terlalu lembek untuk menerima berbagai tekanan hidup.

Ada banyak faktor yang memengaruhi bagaimana seseorang menghadapi kehidupan dan tantangan yang dihadapinya, termasuk faktor genetik, lingkungan, pengalaman masa lalu, dan kesehatan mental.

Saya tahu, kondisi mental setiap orang berbeda-beda. Tapi, mau sampai kapan kamu punya mental seperti itu? Karena dunia ini tidak peduli mentalmu lembek atau tidak.

Yang dunia butuhkan adalah kesiapanmu menghadapi semua. Yang kuat adalah mereka yang bertahan, yang bisa adalah mereka yang mau mencoba, dan yang berhasil adalah mereka yang berani.

Ilustrasi foto seorang wanita yang mendapat banyak tekanan. Foto: Shutterstock

Karena orang yang sukses itu adalah mereka yang berhasil menelan berbagai macam tekanan hidup, bukan mengeluh. Mengeluh terus-menerus tidak akan membuat masalahmu berkurang. Diam pun tidak akan mengubah keadaan. Menyerah akan hidup juga bukan sebuah solusi yang baik.

Jadi, meskipun dunia mungkin terasa keras, penting untuk menemukan cara-cara untuk menghadapinya dan menjaga kesehatan mental serta kesejahteraan kita. Beberapa langkah yang mungkin dapat membantumu meliputi:

  • Self-care: Jaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, cari kegiatan yang menyenangkan dan relaksasi, dan tetap menjaga kesehatan fisik dan mental.

  • Dukungan sosial: Mencari dukungan dari teman, keluarga, atau kelompok dukungan yang dapat memberikan dukungan emosional dan praktis.

  • Mengelola stres: Mengembangkan strategi penanggulangan stres yang sehat seperti olahraga, meditasi, tidur yang cukup, atau menghadiri terapi.

  • Batasi paparan terhadap media sosial dan berita negatif: Sadari pengaruh media sosial dan batasi paparan terhadap konten yang dapat meningkatkan kecemasan atau tekanan

  • Fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan: Alihkan perhatian dan energi pada hal-hal yang dapat Anda kontrol dan pengaruh secara positif dalam hidup Anda.

Ilustrasi wanita yang sedang memanjat. Foto: Shutterstock

Menghadapi dunia yang keras bisa menjadi tantangan, tetapi dengan kesadaran diri, dukungan sosial, dan strategi penanggulangan yang efektif, kita dapat menavigasi tantangan tersebut dan menciptakan kehidupan yang seimbang dan bermakna.

Hidupmu akan berubah ketika kebiasaanmu berubah," —Jack Ma.

Maka dari itu, ubahlah kebiasaan mental lembekmu yang sering mengeluh itu menjadi mental baja yang siap menghadapi kerasnya dunia.