Konten dari Pengguna

Ekstrovert Penyendiri yang Selalu Punya Teman

Adinda Nurtopani

Adinda Nurtopani

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Sastra Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Nurtopani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Loh, ekstrovert kok penyendiri? Gimana maksudnya?

Ada kepribadian yang sering disalahpahami: seseorang yang aktif bersosialisasi, mudah bergaul, tetapi sebenarnya menyukai kesendirian.

Di luar, ia tampak sebagai ekstrovert, mudah membuka percakapan, cepat akrab, dan mampu mencairkan suasana. Namun di dalam, ia menikmati dunia internalnya, nyaman menyendiri, dan tidak takut menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri.

Ilustrasi ekstrovert dan introvert. Foto: Shutterstock

Dua hal ini sering dianggap bertentangan, seakan-akan seseorang harus memilih menjadi ekstrovert atau introvert (penyendiri). Padahal, banyak orang justru hidup di antara keduanya.

Beberapa waktu lalu saya mengalami momen yang mengingatkan saya akan hal itu. Saya bertemu seseorang secara tidak sengaja saat sedang membeli minuman. Awalnya hanya basa-basi singkat, berlanjut menjadi obrolan mendalam, lalu entah bagaimana suasananya mengalir begitu nyaman.

Orang yang baru ditemui hitungan menit bisa terasa seperti teman lama. Tidak ada usaha berlebihan, tidak ada kebutuhan untuk pura-pura, hanya dua orang yang kebetulan nyambung pada waktu yang tepat. Siapa sangka obrolan kecil sambil menunggu minuman bisa membawa kami nongkrong bersama sekelompok teman pada malam yang sama.

Momen itu membuat saya berpikir: mungkin begitulah cara seorang ekstrovert yang penyendiri bekerja. Ia tidak mencari banyak pertemanan, tetapi ketika koneksi terjadi, ia menyambutnya sepenuh hati. Ia betah sendiri, tetapi juga bisa hangat ketika bertemu orang yang vibra­sinya selaras. Ia bukan pencari keramaian, tetapi tidak alergi terhadapnya. Ia bisa dekat dalam waktu singkat bukan karena butuh validasi sosial, tetapi karena ia mampu mengenali dan merespons energi tulus dari orang lain.

Jika dirangkum, orang dengan kepribadian ini biasanya:

  • Tidak takut kesepian, tetapi juga tidak kesulitan bersosialisasi.

  • Memilih kualitas pertemanan, bukan kuantitas.

  • Membuka diri pada koneksi yang natural, bukan dipaksakan.

  • Senang berbincang, tetapi butuh jeda untuk recharge setelahnya.

  • Bisa cepat dekat, tetapi tidak bergantung pada kehadiran orang lain.

Ilustrasi koneksi pertemanan. Foto: Shutterstock

Kedekatan ternyata tidak selalu ditentukan oleh lamanya mengenal. Kadang-kadang, seseorang yang asing bisa terasa dekat hanya karena hatinya nyambung. Koneksi manusia bukan soal frekuensi bertemu, tetapi frekuensi batin yang saling cocok. Kita bisa duduk bersebelahan dengan seseorang selama bertahun-tahun tanpa merasa dekat. Sebaliknya, kita bisa bertemu seseorang hanya sebentar, tetapi meninggalkan kesan panjang.

Paradoksnya, semakin kita nyaman menjadi diri sendiri, semakin mudah kita menemukan orang yang cocok dengan kita. Sebab kita tidak lagi berusaha disukai, kita cukup hadir apa adanya. Dari situlah koneksi tulus tumbuh.

Karena itu, rasanya sayang jika kehidupan yang penuh energi positif diseret oleh komentar negatif orang lain. Kita berhak menikmati versi diri yang sedang berkembang, senang, dan bangga atas kemajuan yang diraih, tanpa rasa takut dinilai. Kita bisa memilih untuk tetap membuka ruang pertemanan baru, sembari tetap menghargai kesunyian yang kita cintai. Dua hal itu tidak pernah saling menghilangkan; justru saling melengkapi.

Beberapa hal yang patut diingat:

  • Kita tidak harus selalu hadir di setiap keramaian untuk disebut ramah.

  • Menikmati kesendirian bukan berarti anti-sosial.

  • Berteman dengan cepat bukan berarti haus perhatian.

  • Kedua sisi diri bisa hidup berdampingan tanpa harus dipertentangkan.

Pada akhirnya, mungkin orang-orang seperti ini bukan ekstrovert penuh, bukan pula introvert murni. Kita adalah para penyendiri yang bisa membuat teman di mana pun berada. Nyaman sendiri, namun tidak menutup pintu untuk koneksi yang hangat. Tidak mengejar perhatian, tetapi tidak menolak ketika semesta mempertemukan dengan orang yang tepat.

Tidak ada yang namanya introvert atau ekstrovert murni. Orang seperti itu akan masuk rumah sakit jiwa," —Carl Jung.