Konten dari Pengguna

Memahami Avoidant Attachment: Saat Hubungan dan Kedekatan Terasa Menakutkan

Adinda Nurtopani

Adinda Nurtopani

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Sastra Indonesia.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Nurtopani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi avoidant attachment yang takut akan cinta. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi avoidant attachment yang takut akan cinta. Foto: Shutterstock

Pernah nggak kamu merasa sulit membuka diri pada orang lain, takut berkomitmen dalam suatu hubungan, bahkan pada orang yang kamu sayang dan cinta? Atau kamu sering menjaga jarak, takut terlalu dekat, karena khawatir akan disakiti?

Kalau iya, bisa jadi kamu memiliki kecenderungan avoidant attachment yakni pola keterikatan yang membuat seseorang memilih “aman” dengan tidak terlalu terikat.

Apa Itu Avoidant Attachment?

Dalam psikologi, attachment style atau gaya keterikatan menggambarkan cara kita membangun hubungan emosional dengan orang lain.

Biasanya, pola ini terbentuk dari pengalaman masa kecil, terutama dari bagaimana orang tua atau pengasuh utama menanggapi kebutuhan emosional kita.

Orang dengan avoidant attachment sering tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa emosi itu tidak penting. Mungkin dulu mereka diajarkan untuk “tidak manja”, “jangan nangis”, atau “hadapi sendiri”.

Akhirnya, mereka belajar bahwa bergantung pada orang lain hanya akan membuat kecewa. Mereka pun membangun “tembok halus”: tampak kuat dan tenang, tapi sebenarnya menyembunyikan ketakutan akan kedekatan.

Tanda-Tanda yang Mungkin Terlihat

Beberapa ciri umum avoidant attachment antara lain:

  • Sulit mengekspresikan perasaan atau menunjukkan kerentanan.

  • Cenderung menarik diri saat hubungan mulai terasa emosional.

  • Tidak nyaman ketika pasangan terlalu bergantung.

  • Merasa lebih aman sendiri atau dalam kontrol.

  • Menyembunyikan masalah karena takut dianggap lemah.

Orang dengan pola ini bukan tidak bisa mencintai, mereka hanya mencintai dengan cara menjaga jarak, agar tidak terluka.

Akar dari Pola Menghindar

Pola avoidant biasanya terbentuk sejak kecil, ketika kebutuhan emosional tidak direspons dengan cukup empati.

Misalnya, ketika seorang anak menangis tapi diabaikan, atau setiap kali ia kecewa, orang dewasa di sekitarnya berkata, “Udah, nggak usah lebay.”

Dari situ, anak belajar bahwa menunjukkan perasaan adalah tanda kelemahan. Saat dewasa, mereka pun sulit percaya bahwa orang lain bisa benar-benar hadir tanpa menghakimi.

Dampak dalam Hubungan

Dalam hubungan romantis, avoidant attachment sering menciptakan pola tarik-ulur.

Ketika pasangan mendekat, mereka merasa terancam dan ingin menjauh. Tapi ketika pasangan menjauh, muncul rasa kehilangan dan sepi.

Bukan karena tidak cinta, tapi karena mereka belum terbiasa merasa aman dalam kedekatan. Mereka takut kehilangan diri sendiri saat terlalu dekat dengan orang lain.

Bisakah Pola Ini Diperbaiki?

Bisa. Tapi butuh kesadaran dan keberanian untuk perlahan membuka diri. Beberapa langkah yang bisa membantu:

  1. Sadari polanya. Akui bahwa kamu sering menghindar saat merasa dekat atau rentan.

  2. Pelan-pelan belajar percaya bahwa idak semua orang akan menyakiti. Mulailah dengan membuka sedikit ruang untuk orang yang kamu rasa aman.

  3. Komunikasikan kebutuhanmu. Katakan, “Aku butuh waktu untuk merasa nyaman,” bukan dengan diam atau menjauh tanpa penjelasan.

  4. Bangun hubungan yang stabil. Pilih orang yang sabar, empatik, dan mampu menghargai ruang pribadimu tanpa menjauhkanmu.

  5. Pertimbangkan terapi. Terapi berbasis attachment bisa membantu memahami akar ketakutan dan membangun pola baru yang lebih sehat.

Menjaga Diri Tanpa Harus Menjauh

Kemandirian adalah hal baik. Tapi ketika kemandirian berubah menjadi pelarian, kita sebenarnya sedang bersembunyi dari kedekatan yang kita butuhkan.

Belajar membuka diri memang menakutkan. Tapi di balik rasa takut itu ada peluang untuk sembuh, untuk mencintai dan dicintai tanpa rasa curiga atau kewaspadaan berlebih.

"Kadang, kita bukan takut kehilangan orang lain, tapi takut kehilangan kendali atas luka lama yang belum sembuh."