Konten dari Pengguna

Hari Keluarga Nasional: Peran Keluarga dalam Mencegah Stunting pada Anak

Adinda Putri

Adinda Putri

Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi (Sumber: Shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi (Sumber: Shutterstock.com)

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga."

Harta Berharga—Bunga Citra Lestari.

Kutipan di atas merupakan lirik lagu soundtrack film “Keluarga Cemara” yang ramai dikenal masyarakat. Keluarga merupakan lingkup kelompok kecil yang dekat dengan kita. Keluarga menjadi lingkungan utama dan pertama yang dikenal oleh anak sebelum mengenal dunia luar.

Badan Kependudukan Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan bahwa pada Hari Keluarga Nasional 2023, akan disuarakan gerakan pentingnya memakan dua butir telur guna mencegah stunting pada masyarakat terutama anak-anak.

Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, Indonesia merupakan negara dengan angka pengidap stunting tertinggi ke-2 di Asia Tenggara dan tertinggi ke-5 di dunia. Pada tahun 2023 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan data stunting indonesia turun menjadi 21,6 persen dari tahun sebelumnya.

Angka ini berada sedikit di atas standar WHO (World Health Organization) yaitu di bawah 20 persen. Namun, meski mengalami penurunan, masalah stunting masih harus diperhatikan oleh masyarakat karena masalah stunting pada anak dapat mempengaruhi kesehatan dan kualitas sumber daya manusia indonesia di masa depan.

Apa Itu Stunting?

Stunting adalah gangguan atau masalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Kondisi ini ditandai oleh tinggi badan yang berada di bawah standar.

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, Kebanyakan kasus stunting di Indonesia ditemukan pada anak dengan rentang usia 24-35 bulan dengan persentase 26,2 persen. Kasus stunting dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari kekurangan gizi dalam waktu yang lama hingga infeksi pada ibu dan rendahnya akses pelayanan kesehatan.

Banyak penyuluhan yang dilakukan untuk menurunkan angka kasus stunting di Indonesia. Pengetahuan dan edukasi mengenai upaya pencegahan stunting merupakan unsur penting dalam penurunan angka stunting di Indonesia. Keluarga merupakan gerbang utama dalam upaya pencegahan stunting.

Pengetahuan orang tua mengenai gizi anak merupakan faktor penentu kesehatan anak. Banyak dari orang tua di Indonesia yang kurang waspada terhadap masalah stunting. Makanan atau minuman yang dikonsumsi oleh anak sehari-hari di rumah dapat menjadi faktor penyebab stunting pada anak.

“Penting banget sih, apalagi kalo anak kan tugas dari calon ibu dan calon ayah, jadi ibu dan ayahnya harus bisa memenuhi gizinya sendiri dulu agar bisa memenuhi gizi anak," Ucap Shafiya, Mahasiswi Politeknik Kesehatan Jakarta III, yang pernah melakukan penyuluhan mengenai stunting di Puskesmas Kel. Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Ia menjelaskan bahwa seorang anak atau bayi harus diberikan asi eksklusif secara full dari 1-6 bulan dan banyak orang tua yang belum sadar tentang pentingnya pemberian asi eksklusif tersebut. Terdapat juga orang tua yang hanya memberikan jajanan kepada anak hanya karena anak tidak ingin makan, padahal hal tersebut bisa mempengaruhi kondisi kesehatan dan gizi pada anak.

"Biasanya lebih ke keluarga yang pengetahuan akan kesehatannya kurang, bahkan ada yang baru tahu pencegahan stunting bisa dilakukan dari remaja putri lewat tablet penambah darah saat menstruasi. Karena masalah kekurangan darah atau anemia bisa berlanjut terus sampai dewasa dan nanti saat ia hamil dan punya keluarga, bayinya bisa mengalami stunting jika sang ibu mengalami kekurangan darah atau gizi," lanjutnya.

Cara Pencegahan Stunting

Terdapat langkah-langkah lain untuk mencegah stunting. Dikutip dari Kemenkes.go.id, cara yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting di antaranya adalah memantau pertumbuhan anak dan memberikan MPASI yang bergizi juga kaya protein untuk bayi di atas usia enam bulan.

Kemudian, menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat juga harus dilakukan sebagai langkah pencegahan masalah stunting dalam keluarga.

Hubungan keluarga yang suportif dan positif memainkan peran penting dalam mencegah masalah stunting pada anak. Dengan memberikan nutrisi yang sehat, perawatan yang tepat, keluarga dapat membantu anak tumbuh sehat secara fisik dan mental.

Penting agar masyarakat dan pemerintah meningkatkan kesadaran akan peran penting hubungan keluarga dalam pencegahan stunting dan mendukung upaya pencegahan stunting melalui program-program yang mendukung keluarga.