Konten dari Pengguna

Bantengan: Tradisi yang Sama, Cerita yang Berbeda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Sabrina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto merupakan dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Foto merupakan dokumentasi pribadi.

Suara sound system menggelegar di tengah kerumunan. Penonton berdesakan, sementara topeng kepala banteng bergerak liar mengikuti irama pertunjukan. Di antara riuh tersebut, setiap orang menyaksikan pemandangan yang sama, tetapi tidak selalu menangkap makna yang sama. Bagi sebagian orang, Bantengan adalah hiburan yang meriah. Bagi yang lain, ia merupakan kebanggaan terhadap budaya desa. Ada pula yang justru memperhatikan apakah pertunjukan tersebut masih membawa bentuk dan nilai Bantengan yang dikenal sejak dahulu.

Di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Bantengan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kesenian ini memadukan pencak silat, tari, musik, dan unsur spiritual dalam satu pertunjukan yang diwariskan antargenerasi. Kehadirannya tidak hanya ditemukan dalam pertunjukan, tetapi juga dalam hajatan, perayaan, dan berbagai kegiatan masyarakat. Karena itu, Bantengan tidak berhenti pada gerak dan musik. Di baliknya terdapat beragam pemaknaan tentang identitas, perubahan zaman, spiritualitas, hingga keaslian sebuah tradisi.

Bantengan sebagai Identitas

Salah satu makna yang paling kuat adalah Bantengan sebagai identitas masyarakat. Filosofi banteng sebagai hewan yang komunal, setia, dan tangguh dianggap memiliki kedekatan dengan karakter masyarakat Donowarih yang menjunjung kebersamaan dan gotong royong. Bantengan menjadi salah satu cara masyarakat mengenali sekaligus menunjukkan identitas budayanya.

Bagi mereka yang telah lama mengenal kesenian ini, Bantengan merupakan warisan leluhur yang perlu diteruskan. Sementara bagi penonton yang mengenalnya melalui pengalaman baru, Bantengan tetap dapat menjadi sesuatu yang membanggakan karena menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang di tengah kehidupan modern. Pada titik ini, perbedaan pengalaman tidak banyak mengubah satu kesimpulan: Bantengan masih dianggap penting sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Ketika Bantengan Berubah

Persoalan mulai muncul ketika Bantengan bersentuhan dengan perubahan zaman. Musik tradisional seperti jidor dan gamelan kini dapat berdampingan dengan musik elektronik dan sound system berukuran besar. Pertunjukan menjadi lebih ramai dan memiliki daya tarik hiburan yang semakin kuat. Sebagian masyarakat melihat perubahan tersebut sebagai bentuk adaptasi yang wajar selama karakter utama Bantengan tetap dipertahankan.

Namun, bagi sebagian lainnya, perubahan memunculkan pertanyaan tentang keaslian. Sound horeg, musik yang semakin dominan, hingga praktik saweran dianggap dapat membuat Bantengan bergerak terlalu jauh dari bentuk yang sebelumnya dikenal. Kekhawatirannya bukan sekadar tentang suara yang berubah, melainkan kemungkinan bergesernya jiwa kesenian. Bantengan yang dahulu lebih dekat dengan tradisi dan kesakralan kini semakin kuat sebagai hiburan.

Di sisi lain, perubahan dapat menjadi jalan agar Bantengan tetap dikenal. Bentuk pertunjukan yang lebih modern membuatnya lebih mudah menarik perhatian masyarakat yang sebelumnya tidak terlalu dekat dengan kesenian tradisional. Modernisasi, dengan demikian, tidak selalu menjadi ancaman, tetapi juga belum sepenuhnya diterima sebagai sesuatu yang bebas dilakukan.

Ruang Sakral yang Dipertanyakan

Perbedaan pemaknaan menjadi lebih sensitif ketika pertunjukan memasuki prosesi kesurupan. Dalam Bantengan, sesaji, mantra, gerak sadar dan tidak sadar, serta kesurupan memiliki kaitan dengan hubungan masyarakat dengan leluhur. Bagi mereka yang menghayatinya, bagian tersebut bukan sekadar atraksi, melainkan unsur yang membuat Bantengan memiliki makna spiritual.

Namun, sebagian penonton memandangnya secara lebih rasional. Ada yang mempertanyakan fenomena kesurupan dan menganggap kepercayaan terhadap unsur mistis bergantung pada keyakinan masing-masing. Keraguan tersebut tidak selalu berarti penolakan terhadap Bantengan secara keseluruhan. Seseorang dapat menikmati pertunjukan sekaligus mempertanyakan aspek spiritual di dalamnya. Bagi sebagian masyarakat yang lebih dekat dengan tradisi, justru hilangnya kesakralan menjadi persoalan karena Bantengan dahulu berkaitan dengan selamatan desa, penghormatan kepada leluhur, dan permohonan perlindungan.

Antara Ekonomi dan Pakem

Bantengan juga semakin bersentuhan dengan kepentingan ekonomi. Ketika pertunjukan menarik banyak orang, kehadirannya dapat menghidupkan aktivitas UMKM di sekitar lokasi. Keramaian memberikan peluang bagi masyarakat untuk berjualan dan memperoleh manfaat ekonomi.

Namun, peluang tersebut juga menghadirkan kekhawatiran. Ketika Bantengan semakin berorientasi pada hiburan dan ekonomi, sebagian masyarakat takut kepentingan komersial akan menggeser pakem. Saweran, misalnya, dapat dipandang sebagai bentuk interaksi dalam pertunjukan, tetapi bagi sebagian lainnya justru menjadi tanda bahwa fungsi Bantengan mulai berubah. Persoalannya bukan apakah Bantengan boleh memberi manfaat ekonomi, melainkan bagaimana manfaat tersebut dapat berjalan tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.

Mengapa Maknanya Beragam?

Perbedaan pemaknaan muncul karena masyarakat tidak datang kepada Bantengan dengan pengalaman yang sama. Ada yang mengenalnya melalui keluarga dan lingkungan desa, ada yang pernah terlibat langsung dalam pertunjukan, sementara yang lain mengenalnya melalui media sosial. Perbedaan sumber pengetahuan membuat setiap orang memiliki titik perhatian yang berbeda.

Kedekatan dengan tradisi, cara memandang spiritualitas, serta sikap terhadap komersialisasi turut membentuk pemaknaan tersebut. Mereka yang terlibat langsung dapat melihat sisi ritual dan aturan yang tidak selalu tampak bagi penonton. Sementara itu, orang yang mengenalnya melalui media atau sebagai penonton mungkin lebih memperhatikan bentuk pertunjukan yang terlihat. Begitu pula dengan ekonomi: ada yang melihatnya sebagai peluang agar Bantengan tetap hidup, tetapi ada pula yang khawatir komersialisasi membuatnya semakin jauh dari akar budaya.

Tradisi yang Terus Dirundingkan

Pada akhirnya, Bantengan di Donowarih tidak memiliki satu cerita yang selesai. Ia terus berada dalam pertemuan antara nilai lama dan kebutuhan baru, antara pengalaman spiritual dan cara pandang rasional, serta antara keinginan mempertahankan pakem dan kebutuhan beradaptasi. Perbedaan tersebut justru menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap masa depan Bantengan.

Di tengah suara jidor yang menjadi ingatan masa lalu dan dentuman sound system yang menandai perubahan zaman, Bantengan terus mencari bentuknya. Ia mungkin tidak selalu tampil seperti dahulu, tetapi nilai yang dianggap penting masih terus dibicarakan dan dirundingkan. Tradisi ini tidak sekadar diwariskan untuk diterima begitu saja, melainkan terus dipertanyakan, dimaknai ulang, dan dirawat bersama. Pada akhirnya, Bantengan adalah tradisi yang sama, tetapi selalu memiliki cerita berbeda bagi mereka yang menyaksikannya.