Konten dari Pengguna

Perilaku Oversharing di Media Sosial: Antara Ancaman dan Peluang

Adinda Aini Syifa

Adinda Aini Syifa

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Ilmu komunikasi S1

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Aini Syifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar overharing Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/senang-beragam-teman-tertawa-dengan-smartphone-di-rumah-3764496/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar overharing Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/senang-beragam-teman-tertawa-dengan-smartphone-di-rumah-3764496/

Apasih Oversharing? Oversharing adalah kebiasaan berbagi informasi pribadi secara berlebihan, baik secara langsung dalam percakapan maupun di media sosial. Kebiasaan ini lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan manfaatnya. Oleh karena itu, oversharing perlu segera diatasi.

Oversharing dapat disebabkan oleh ketidaktah uan seseorang dalam menyaring informasi pribadi yang mungkin dianggap menarik, penting, dan lucu. Mereka tidak mempertimbangkan dampak dari informasi tersebut bagi orang lain.

Berkembangnya teknologi informasi dewasa ini telah memberikan kemudahan pada kehidupan manusia. Sebut saja munculnya telepon seluler pintar, perangkat canggih ini memudahkan seseorang untuk selalu terhubung dengan internet. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 171 juta orang hingga bulan April tahun 2018 atau 64.8% dari seluruh rakyat Indonesia (Pratomo, 2019). Jumlah ini juga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan internet tertinggi ketiga di dunia, di bawah India dan Cina (Kemp, 2020).

Rata-rata penggunaan internet per hari orang Indonesia juga terbilang cukup tinggi, yakni 7 jam 59 menit, lebih tinggi dari rata-rata penggunaan internet dunia yang hanya 6 jam 43 menit. Internet tidak hanya dimanfaatkan untuk mencari informasi saja, namun juga untuk bersosialisasi antar individu. Sosialisasi antar individu di dunia maya semakin terfasilitasi dengan munculnya banyak sekali situs jejaring sosial.

Ilustrasi gambar oversharing dalam media sosial/gedget Foto oleh Kerde Severin dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/fotografi-fokus-selektif-orang-yang-menggunakan-iphone-x-1542252/

Sebuah studi dilakukan oleh Ipsos, sebuah perusahaan riset pasar dunia, setidaknya ada tiga aktivitas yang sering dilakukan orang dengan menggunakan internet, yakni: menggunakan mesin pencari (seperti Google) (74%), mengunjungi situs jejaring sosial (seperti Facebook) (64%), dan mengunjungi situs portal untuk melihat email (55%). Dari rata-rata data penggunaan internet di dunia ini, dapat dilihat bahwa mayoritas masyarakat dunia menggunakan internet untuk mencari informasi melalui mesin pencari seperti Google.

Namun data yang kontras terlihat di negara Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih memanfaatkan internet untuk mengunjungi situs jejaring sosial (78%) dibandingkan menggunakan mesin pencari (40%) dan mengunjungi situs portal untuk melihat email (59%) (Wiltfong, 2013a). Data ini diperkuat dengan hasil survei terbaru dari APJII (April 2018) yang menyatakan alasan masyarakat Indonesia menggunakan internet adalah sebagian besar untuk berkomunikasi lewat pesan dan media sosial.

Perkembangan situs jejaring sosial saat ini memang berjalan sangat cepat. Salah satu situs jejaring sosial yang paling populer saat ini adalah Facebook. Data dari Alexa.com (2020) menyebutkan bahwa Facebook menjadi situs yang paling sering dikunjungi keempat di dunia. Sementara data per 25 Januari 2020 dari Wearesocial menyebutkan Facebook masih menjadi sosial media pertama yang paling banyak diakses di dunia (Kemp, 2020).

Selain itu, data statistik dari Facebook menyebutkan sudah ada 2,5 miliar pengguna aktif Facebook pada Desember 2019 dan diakses rata-rata delapan kali per hari (Ahlgren, 2020). Indonesia menjadi negara urutan keempat pengguna Facebook dengan 120 juta pengguna.

Facebook menawarkan fitur yang cukup lengkap untuk seseorang saling berinteraksi dengan orang lain. Orang dapat berkirim pesan secara terbuka maupun tertutup dengan orang lain, mengunggah foto dan video, menulis catatan, dan melihat semua biodata teman. Selain itu seseorang bisa membagikan informasi ataupun curahan hati kepada siapapun dengan sangat mudah. Selain Facebook, masih ada juga Twitter, Instagram, dan TikTok yang juga cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia untuk media saling berbagi. Lebih lanjut, YouTube juga menjadi media paling populer di Indonesia dan dunia dengan menduduki peringkat ketiga situs yang paling banyak diakses (Alexa.com, 2020).

Ipsos mempublikasikan hasil risetnya mengenai perilaku berbagi (sharing) masyarakat dunia di media sosial. Dari hasil temuan Ipsos, sebanyak 6% masyarakat dunia melakukan perilaku berbagi semua hal, 18% hal-hal penting, 57% melakukan perilaku berbagi beberapa hal saja, dan 19% tidak melakukan perilaku berbagi sama sekali di media sosial.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia berada di peringkat kedua negara yang paling banyak melakukan perilaku berbagi semua hal di media sosial. Sebanyak 15% masyarakat melakukan perilaku berbagi semua hal, 35% hal-hal penting, 45% beberapa hal saja, dan hanya 5% saja yang tidak melakukan perilaku berbagi sama sekali di media sosial (Wiltfong, 2013b). Hasil ini sebenarnya sudah tidak mengejutkan lagi dengan derasnya gelombang pengguna media sosial sejak tahun 2008 lalu di Indonesia dan dengan karakter masyarakat Indonesia yang lebih kolektivistik.

Konten paling besar yang dibagikan adalah gambar (53%), disusul opini (42%), memperbarui status tentang kegiatan yang sedang dilakukan (37%), tautan ke artikel (36%), sesuatu yang disukai (35%), dan memperbarui status tentang yang sedang dirasakan (33%). Sementara konten yang paling jarang dibagi adalah rencana aktivitas atau perjalanan (13%), video klip (17%), dan berita (17%) (Wiltfong, 2013d).

Beberapa peneliti kontemporer menyebut fenomena ini dengan sebutan perilaku oversharing. Dalam Webster’s New World College Dictionary (2008), istilah ini diartikan sebagai terlalu banyak informasi, baik secara sengaja maupun tidak sengaja terungkap. Hoffman (2009) mengartikan istilah oversharing sebagai pengungkapan informasi yang berlebihan atau tidak sesuai dengan konteks tertentu.

Griffiths (2013) menunjukkan bahwa perilaku oversharing di media sosial sama seperti barang-barang lainnya yang menimbulkan efek adiktif. Hal tersebut memicu adanya ketakutan akan kehilangan (fear of missing out) (Przybylski et al., 2013) dan adiksi internet (Problematic Internet Use) (Kuss & Lopez-Fernandez, 2016). Perilaku oversharing juga dapat menjadi pemicu terjadinya perundungan di dunia maya (cyberbullying) (Chan et al., 2019) dan perbandingan diri dengan orang lain yang menurunkan harga diri (Radovic et al., 2017).

Ancaman lainnya yang datang dari perilaku oversharing adalah terbukanya kesempatan tindak kriminal (Mahon, 2015). Perilaku ini dapat memicu pencurian data pribadi, predator anak, hingga penyalahgunaan data untuk tindakan ilegal (Aiken et al., 2016; Paullet & Pinchot, 2012).

Namun, perilaku ini juga bisa menjadi peluang. Dalam perspektif psikologi, perilaku berbagi dapat dianalisis dari neuropsikologi dan psikologi sosial. Studi di Harvard menunjukkan bahwa sistem mesolimbik dopamin lebih aktif ketika seseorang bercerita tentang diri mereka sendiri, yang membuatnya merasa bahagia (Rose, 2012).

Selain menjaga relasi sosial, motif lainnya adalah presentasi diri serta hiburan dan belajar. Studi Youyou et al. (2015) menyebut bahwa perilaku “like” seseorang di media sosial dapat memprediksi kepribadiannya dengan akurat.

Lebih lanjut, temuan ini memberikan peluang praktis dalam pengembangan asesmen kepribadian, metode rekrutmen, hingga praktik konseling daring. Perilaku berbagi juga bermanfaat dalam penyebaran informasi, pemasaran produk, dan penggerakan massa untuk tujuan sosial.

Tulisan ini memberikan informasi mengenai oversharing, namun masih memiliki kekurangan dari sisi objek kajian dan metodologi. Penelitian lebih lanjut terkait topik ini masih sangat diperlukan.

Kesimpulannya perilaku oversharing di media sosial memiliki berbagai motif: menjaga relasi sosial, presentasi diri, dan hiburan atau belajar. Meskipun memiliki dampak negatif jika tidak disikapi dengan bijak, fenomena ini juga membuka banyak peluang positif baik untuk pengembangan keilmuan maupun praktik sosial dan ekonomi.