Ketimpangan Ekonomi Siswa: Biaya Pendidikan dan Kesempatan Belajar

Mahasiswa Universitas Pamulang Semester 2 Jurusan Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Adinda Andaresta Tri Hastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan sering dianggap sebagai jalan untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi setiap orang. Namun, di balik kesempatan tersebut, masih ada persoalan yang sering tidak terlihat secara langsung, yaitu perbedaan kondisi ekonomi antarsiswa.
Dua siswa bisa duduk di kelas yang sama, mendengarkan guru yang sama, dan mengerjakan tugas yang sama. Tetapi, belum tentu mereka pulang ke rumah dengan kondisi yang sama untuk belajar.
Ada siswa yang bisa langsung membuka laptop, mencari materi di internet, mengikuti bimbingan belajar, atau membeli buku tambahan ketika membutuhkan. Ada juga yang harus berbagi ponsel dengan orang tua, menghemat kuota internet, atau berpikir dua kali ketika ada kebutuhan sekolah yang membutuhkan biaya tambahan.
Dari luar, semuanya terlihat sama-sama bersekolah. Tetapi kalau diperhatikan lebih jauh, kesempatan untuk belajar ternyata tidak selalu dimulai dari titik yang sama.
Di sinilah persoalan ketimpangan ekonomi siswa menjadi menarik untuk dibicarakan.
Biaya pendidikan ternyata tidak sesederhana uang sekolah
Ketika membicarakan biaya pendidikan, perhatian sering tertuju pada uang sekolah, seragam, buku, dan alat tulis. Padahal, kebutuhan siswa selama mengikuti pendidikan jauh lebih banyak dari itu.
Transportasi ke sekolah, uang saku, akses internet, perangkat untuk mengerjakan tugas, kegiatan ekstrakurikuler, kursus, sampai berbagai kebutuhan lain juga ikut mendukung proses belajar.
Badan Pusat Statistik melalui Statistik Penunjang Pendidikan 2024 juga melihat berbagai aspek tersebut, mulai dari biaya pendidikan, beasiswa dan bantuan pendidikan, transportasi, ekstrakurikuler, kursus, olahraga, hingga aktivitas membaca siswa.
Artinya, biaya pendidikan sebenarnya tidak berhenti pada uang yang dibayarkan kepada sekolah. Ada banyak pengeluaran lain yang ikut menunjang proses pendidikan.
Dan kebutuhan tersebut tentu tidak selalu mudah dipenuhi oleh setiap keluarga.
Satu tugas, belum tentu satu pengalaman
Bayangkan seorang guru memberikan tugas yang harus dikerjakan secara online.
Bagi siswa yang memiliki laptop atau ponsel sendiri dan internet yang lancar, tugas tersebut mungkin bisa langsung dikerjakan. Tetapi bagi siswa yang harus meminjam perangkat orang tua atau menggunakan kuota dengan terbatas, situasinya bisa berbeda.
Tugasnya memang sama. Aturannya juga sama. Namun, kondisi untuk menyelesaikannya tidak selalu sama.
Hal ini bukan berarti siswa yang memiliki fasilitas lebih lengkap pasti lebih pintar atau siswa yang memiliki keterbatasan fasilitas pasti tertinggal. Banyak siswa tetap mampu berprestasi meskipun memiliki keterbatasan.
Yang menjadi persoalan adalah kesempatan yang mereka miliki untuk belajar dan mengembangkan kemampuan bisa berbeda.
Hal serupa juga dapat dilihat dari kegiatan tambahan. Bimbingan belajar, kursus bahasa, pelatihan komputer, kegiatan olahraga, atau pengembangan bakat dapat menjadi pengalaman yang membantu siswa. Namun, mengikuti kegiatan tersebut tentu membutuhkan waktu dan biaya.
Bagi sebagian keluarga, biaya tersebut mungkin masih dapat dijangkau. Bagi keluarga lainnya, kebutuhan tersebut harus disesuaikan dengan pengeluaran rumah tangga yang lain.
Ketimpangan kadang tidak terlihat
Yang membuat persoalan ini menarik adalah ketimpangan ekonomi tidak selalu terlihat jelas di lingkungan sekolah.
Siswa bisa memakai seragam yang sama, duduk di bangku yang sama, dan mengikuti pelajaran yang sama. Tetapi setelah bel pulang berbunyi, kondisi mereka bisa sangat berbeda.
Ada yang pulang ke rumah dengan ruang belajar sendiri. Ada yang harus belajar di ruang keluarga. Ada yang memiliki akses internet sepanjang hari. Ada pula yang harus menunggu sampai mendapatkan kesempatan menggunakan perangkat milik anggota keluarga.
Perbedaan seperti ini mungkin terlihat kecil. Namun, jika berlangsung terus-menerus, tentu dapat memengaruhi pengalaman belajar seorang siswa.
Karena itu, menurut saya, kesetaraan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari apakah seorang anak bisa masuk sekolah. Kita juga perlu melihat apakah ia mempunyai kesempatan yang cukup untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Teknologi bisa membantu, tetapi juga punya tantangan
Perkembangan teknologi memberikan banyak peluang dalam dunia pendidikan. Materi pembelajaran bisa diakses lebih luas, guru dapat menggunakan media yang lebih beragam, dan siswa memiliki lebih banyak pilihan sumber belajar.
Pemerintah juga mendorong digitalisasi pembelajaran sebagai salah satu upaya memperluas akses pendidikan. Namun, penggunaan teknologi juga perlu memperhatikan kondisi siswa yang belum memiliki perangkat atau akses internet yang memadai.
Jika pembelajaran semakin bergantung pada perangkat dan internet, siswa yang memiliki akses terbatas bisa menghadapi hambatan tambahan.
Teknologi seharusnya menjadi jembatan untuk memperluas kesempatan belajar, bukan justru membuat jarak antara siswa semakin terasa.
Sekolah punya peran yang cukup besar
Sekolah memang tidak mungkin menghilangkan perbedaan ekonomi yang dimiliki setiap keluarga. Namun, sekolah dapat membantu agar perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk belajar.
Fasilitas seperti perpustakaan, komputer, internet sekolah, dan sumber belajar lainnya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dengan begitu, siswa yang tidak memiliki fasilitas lengkap di rumah tetap mempunyai tempat untuk belajar dan mencari informasi.
Guru juga dapat mempertimbangkan kondisi siswa ketika memberikan tugas. Tidak semua kegiatan pembelajaran harus membutuhkan biaya tambahan. Jika ada sumber belajar yang bisa diperoleh secara gratis atau fasilitas yang tersedia di sekolah, pilihan tersebut dapat dimanfaatkan.
Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana siswa diperlakukan di lingkungan sekolah.
Perbedaan kondisi ekonomi seharusnya tidak menjadi alasan bagi seorang siswa untuk merasa malu atau minder. Sekolah perlu menjadi tempat yang membuat siswa merasa aman untuk belajar, bukan tempat yang membuat mereka semakin sadar bahwa kondisi ekonominya berbeda dengan teman-temannya.
Pendidikan yang setara bukan berarti semuanya harus sama
Mungkin kita sering menganggap bahwa memberikan perlakuan yang sama kepada semua siswa sudah cukup untuk disebut adil.
Padahal, kondisi setiap siswa memang berbeda.
Memberikan tugas yang sama kepada semua siswa terlihat adil. Tetapi jika sebagian siswa memiliki fasilitas yang jauh lebih terbatas, pengalaman mereka dalam mengerjakan tugas tersebut tentu berbeda.
Karena itu, kesetaraan pendidikan bukan berarti semua siswa harus mempunyai fasilitas yang sama persis. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap siswa mendapatkan kesempatan yang layak untuk belajar dan mengembangkan potensinya.
Pada akhirnya, ketimpangan ekonomi dalam pendidikan bukan hanya persoalan tentang siapa yang mampu membayar lebih banyak. Ini juga tentang siapa yang mempunyai lebih banyak pilihan ketika belajar.
Siswa tidak memilih lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi tertentu. Karena itu, lingkungan pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perbedaan tersebut tidak menjadi alasan seorang siswa kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Pendidikan yang setara bukan berarti semua siswa harus memiliki kehidupan yang sama. Kesetaraan berarti setiap siswa, dengan kondisi keluarga yang berbeda-beda, tetap memiliki kesempatan untuk belajar, mencoba, berkembang, dan menunjukkan kemampuannya.
Kita mungkin tidak bisa membuat semua siswa memulai dari titik yang sama. Tetapi setidaknya, sekolah dapat membantu agar perbedaan titik awal tersebut tidak menentukan sejauh mana seorang siswa boleh melangkah.
