Konten dari Pengguna

Media Sosial dan Perubahan Perilaku Belanja Remaja di Era Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Andaresta Tri Hastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi remaja berbelanja melalui media sosial. Sumber: Dokumentasi pribadi (AI).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi remaja berbelanja melalui media sosial. Sumber: Dokumentasi pribadi (AI).

Pernahkah kamu membuka media sosial hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi tiba-tiba menemukan barang yang rasanya ingin sekali dibeli?

Awalnya hanya melihat video. Kemudian muncul seseorang yang sedang mencoba sebuah produk. Setelah itu ada video lain yang memberikan ulasan. Belum selesai mencari tahu, muncul promo dengan tulisan “diskon hari ini” atau “stok terbatas”.

Tanpa sadar, kita mulai membuka keranjang belanja.

Padahal sebelumnya kita tidak pernah merencanakan untuk membeli barang tersebut.

Fenomena seperti ini semakin sering terjadi di tengah perkembangan media sosial dan perdagangan digital. Media sosial yang awalnya digunakan untuk berkomunikasi dan mencari hiburan kini juga menjadi tempat untuk menemukan produk, melihat rekomendasi, membandingkan harga, bahkan melakukan transaksi.

Bagi remaja dan generasi muda, kondisi ini menarik untuk diperhatikan karena media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Apa yang muncul di layar tidak hanya memengaruhi apa yang kita lihat, tetapi dalam situasi tertentu juga dapat memengaruhi apa yang ingin kita beli.

Media sosial dan kebiasaan belanja

Perubahan cara berbelanja tidak bisa dilepaskan dari perkembangan social commerce. Melalui media sosial, konsumen dapat melihat konten sekaligus memperoleh informasi mengenai produk.

Penelitian mengenai Gen Z di Indonesia yang diterbitkan pada 2024 menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor yang berkaitan dengan keputusan Gen Z dalam berbelanja melalui social commerce. Penelitian tentang Gen Z dan social commerce.

Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan belanja di media sosial tidak hanya berkaitan dengan harga atau kebutuhan. Ada unsur sosial yang ikut berperan.

Kita bisa melihat produk karena teman membagikannya. Kita tertarik karena influencer menggunakannya. Kita semakin yakin setelah membaca komentar pengguna lain. Bahkan, sebuah barang bisa terasa lebih menarik karena sedang menjadi tren.

Pada akhirnya, keputusan membeli dapat terbentuk dari berbagai informasi yang kita temui ketika sedang menggunakan media sosial.

Ketika keinginan muncul setelah melihat konten

Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana media sosial dapat membuat seseorang menginginkan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Misalnya, seseorang awalnya tidak memiliki rencana membeli sepatu baru. Namun, setelah melihat beberapa video tentang sepatu tertentu, ia mulai tertarik. Kemudian ia mencari harga, melihat ulasan, dan membandingkan produk tersebut dengan barang lain.

Di titik ini, media sosial bukan hanya memberikan informasi. Media sosial juga dapat menjadi bagian dari proses terbentuknya keinginan.

Penelitian tahun 2024 mengenai perilaku online impulse buying menunjukkan bahwa berbagai stimulus di lingkungan digital, termasuk tekanan waktu, keuntungan ekonomi, pengaruh sosial, dan tampilan visual, dapat berkaitan dengan respons emosional dan pembelian impulsif. Penelitian tentang online impulse buying pada pengguna Shopee Video

Hal tersebut bukan berarti setiap orang yang melihat promosi akan langsung membeli.

Namun, semakin banyak rangsangan yang diterima konsumen, semakin penting kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan.

“Racun” media sosial dan budaya ikut tren

Istilah “racun” mungkin sudah tidak asing bagi pengguna media sosial.

Istilah tersebut biasanya digunakan ketika seseorang berhasil membuat orang lain tertarik membeli sebuah produk setelah melihat konten atau rekomendasinya.

Sebenarnya, fenomena ini menarik jika dilihat dari sudut pandang ekonomi.

Mengapa seseorang membeli produk yang sebelumnya tidak dibutuhkan?

Salah satu jawabannya bisa berkaitan dengan pengaruh sosial. Manusia hidup dalam lingkungan sosial dan keputusan yang diambil tidak selalu terlepas dari orang-orang di sekitarnya.

Ketika sebuah produk digunakan banyak orang dan terus muncul di media sosial, produk tersebut dapat terlihat semakin familiar. Jika ditambah dengan ulasan positif atau rekomendasi dari orang yang dipercaya, ketertarikan terhadap produk tersebut bisa semakin besar.

Penelitian tentang budaya konsumen digital pada komunitas anak muda di Jakarta yang diterbitkan pada 2026 juga menunjukkan bahwa budaya konsumsi digital dapat dipahami melalui hubungan antara anak muda, teknologi, dan berbagai aktor dalam lingkungan digital. Penelitian tentang budaya konsumen digital anak muda di Jakarta

Dengan demikian, perilaku konsumsi generasi muda tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan pribadi. Lingkungan digital tempat mereka berinteraksi juga menjadi bagian dari proses tersebut.

Bukan berarti media sosial harus dijauhi

Membahas pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumsi bukan berarti media sosial selalu memberikan dampak buruk.

Justru ada banyak manfaat yang bisa diperoleh.

Konsumen sekarang lebih mudah mencari informasi mengenai produk. Kita bisa membandingkan harga dari beberapa penjual, membaca pengalaman konsumen lain, mencari alternatif produk, dan mengetahui berbagai pilihan sebelum membeli.

Media sosial juga memberikan peluang bagi pelaku usaha, terutama usaha kecil, untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen.

Jadi, persoalannya bukan apakah media sosial harus digunakan atau tidak.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan media sosial ketika mengambil keputusan ekonomi.

Pentingnya literasi ekonomi di era digital

Di sinilah pendidikan ekonomi memiliki peran.

Dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Perspektif Pendidikan Ekonomi: Antara Teori dan Realitas Sosial, ekonomi ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan sosial. Keputusan ekonomi manusia berkaitan dengan perilaku dan kehidupan masyarakat.

Buku tersebut juga menjelaskan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai fenomena sosial dan informasi yang berkembang di lingkungan digital.

Artinya, pendidikan ekonomi tidak harus selalu membahas teori di dalam kelas.

Fenomena belanja melalui media sosial pun sebenarnya dapat menjadi contoh pembelajaran ekonomi yang dekat dengan kehidupan siswa.

Misalnya, siswa dapat diajak mengamati satu produk yang sedang viral. Mereka dapat melihat bagaimana produk tersebut dipromosikan, mengapa orang tertarik membelinya, bagaimana harga memengaruhi keputusan, serta apakah pembelian tersebut didasarkan pada kebutuhan atau sekadar keinginan.

Dengan cara seperti itu, siswa belajar memahami ekonomi melalui kehidupan nyata.

Jangan hanya pintar menggunakan teknologi

Perkembangan teknologi membuat transaksi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diikuti dengan kemampuan mengelola keputusan keuangan.

Penelitian di Indonesia pada 2025 mengenai literasi keuangan digital dan perilaku kredit Gen Z menunjukkan adanya keterkaitan antara literasi keuangan digital dengan perilaku kredit dalam penggunaan fintech. Penelitian tentang literasi keuangan digital dan perilaku kredit Gen Z

Hal ini menjadi semakin relevan ketika berbagai layanan digital membuat proses transaksi menjadi sangat cepat.

Kita bisa menemukan barang dalam hitungan detik, melakukan pembayaran dalam beberapa klik, dan menerima barang tanpa harus datang langsung ke toko.

Karena semuanya mudah, kita justru perlu memiliki kebiasaan untuk berpikir sebelum membeli.

Sebelum menekan tombol “checkout”, misalnya, kita bisa bertanya:

Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?

Apakah saya membelinya karena kebutuhan atau karena sedang tren?

Apakah saya mampu membelinya tanpa mengganggu kebutuhan lain?

Apakah informasi mengenai produk tersebut benar-benar dapat dipercaya?

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu kita menjadi konsumen yang lebih sadar.

Pada akhirnya, keputusan tetap ada di tangan kita

Media sosial akan terus berkembang. Tren akan terus bermunculan. Cara berjualan pun akan semakin kreatif.

Di tengah perkembangan tersebut, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif. Mereka juga perlu memahami bagaimana teknologi dapat berhubungan dengan keputusan ekonomi sehari-hari.

Buku Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Perspektif Pendidikan Ekonomi sendiri membahas digitalisasi, kecerdasan buatan, perubahan nilai dan gaya hidup, serta tantangan pendidikan di era Society 5.0.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Kita tetap bisa menikmati konten, mengikuti tren, menemukan produk menarik, bahkan belanja online.

Namun, ada satu kebiasaan yang mungkin perlu dipertahankan di tengah kemudahan tersebut: berhenti sebentar sebelum membeli.

Karena di era ketika iklan bisa muncul dalam hitungan detik dan tombol “checkout” hanya berjarak satu sentuhan, kemampuan untuk bertanya “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?” menjadi semakin penting.

Bukan karena kita tidak boleh membeli.

Tetapi karena kita sebaiknya tahu mengapa kita membeli.