Promo Datang, Dompet Hilang: Kenapa Gen Z Mudah Tergoda Belanja?

Mahasiswa Universitas Pamulang Semester 2 Jurusan Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Adinda Andaresta Tri Hastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Promo datang, notifikasi muncul, lalu tangan tanpa sadar membuka aplikasi belanja online. Awalnya hanya ingin melihat-lihat, tetapi beberapa menit kemudian barang sudah masuk keranjang. Ditambah tulisan “diskon terbatas”, “gratis ongkir”, atau “tinggal beberapa lagi”, keputusan untuk checkout terasa semakin sulit ditunda.
Fenomena seperti ini cukup dekat dengan kehidupan Gen Z. Belanja online kini bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian yang terhubung dengan media sosial, tren, konten kreator, dan berbagai program promosi. Tidak jarang seseorang membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena merasa sedang mendapatkan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.
Jika dilihat dari perspektif ekonomi mikro, kebiasaan tersebut sebenarnya menarik. Di balik satu kali checkout terdapat keputusan konsumen dalam menentukan kebutuhan, mempertimbangkan harga, membandingkan manfaat, hingga mengalokasikan pendapatan yang terbatas.
Ketika Diskon Mengubah Keputusan
Salah satu hal yang membuat promo begitu menarik adalah perubahan persepsi terhadap harga.
Sebuah barang seharga Rp200 ribu mungkin terasa mahal. Namun, ketika ditampilkan sebagai “diskon 50 persen menjadi Rp100 ribu”, konsumen dapat merasa sedang mendapatkan keuntungan. Padahal, tetap saja ada Rp100 ribu yang harus dikeluarkan.
Dalam ekonomi mikro, harga merupakan salah satu faktor yang memengaruhi permintaan. Ketika harga suatu barang berubah, keputusan konsumen untuk membeli juga dapat berubah. Namun, dalam kehidupan nyata, keputusan tersebut tidak hanya ditentukan oleh harga.
Promosi, kualitas, merek, tren, kemudahan transaksi, hingga pengalaman orang lain juga dapat memengaruhi pilihan.
Hal ini terlihat dalam aktivitas live shopping. Berdasarkan survei JakPat yang dikutip Katadata, sebanyak 71 persen responden tertarik berbelanja melalui live shopping karena adanya diskon dan promosi. Faktor berikutnya adalah harga yang lebih murah sebesar 66 persen dan kesempatan berinteraksi langsung dengan penjual sebesar 65 persen.
Artinya, promo memang memiliki peran dalam membentuk keputusan pembelian.
Gen Z dan Budaya “Checkout”
Bagi Gen Z, pengalaman berbelanja juga semakin terhubung dengan dunia digital.
Produk yang sedang viral dapat muncul di TikTok, Instagram, YouTube, atau platform lainnya. Dari sana, konsumen dapat langsung mencari produk, melihat ulasan, membandingkan harga, dan melakukan pembelian.
Proses yang dahulu membutuhkan beberapa langkah kini dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit.
Perkembangan ini membuat batas antara “melihat konten” dan “berbelanja” semakin tipis. Seseorang bisa awalnya hanya menonton video rekomendasi skincare, pakaian, makanan, atau aksesori, tetapi kemudian berakhir dengan membuka halaman produk.
Menurut saya, di sinilah menariknya melihat perilaku konsumsi Gen Z dari sudut pandang ekonomi mikro. Pilihan konsumsi tidak selalu muncul karena kebutuhan yang sudah direncanakan. Pilihan tersebut juga dapat terbentuk karena informasi dan rangsangan yang terus muncul di sekitar konsumen.
Bukan Berarti Gen Z Tidak Bisa Mengatur Keuangan
Membicarakan perilaku konsumsi Gen Z juga tidak seharusnya langsung berujung pada anggapan bahwa generasi ini boros.
Justru, data terbaru menunjukkan bahwa konsumen online semakin memperhatikan nilai yang mereka dapatkan dari sebuah transaksi.
Riset The 2026 E-Commerce Savvy Shopper Report yang diberitakan Katadata menyebut sekitar 28 persen konsumen e-commerce Indonesia masuk kategori savvy shoppers. Kelompok ini mempertimbangkan produk, ulasan, keaslian barang, perbandingan penawaran, keamanan transaksi, dan berbagai faktor lainnya. Riset tersebut juga mencatat bahwa Gen Z lebih aktif memanfaatkan bundling dan promo; 65 persen Gen Z dalam data tersebut mengisi keranjang belanja menggunakan penawaran tersebut.
Data tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik: konsumen muda bukan hanya mengejar harga murah, tetapi juga berusaha mencari nilai terbaik dari uang yang mereka keluarkan.
Jadi, persoalannya bukan sekadar “Gen Z suka belanja”, melainkan bagaimana mereka menentukan apakah suatu penawaran benar-benar memberikan manfaat.
Harga Naik, Konsumen Tetap Punya Pilihan
Fenomena promo juga menjadi semakin relevan ketika harga barang mengalami perubahan.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan dan 0,30 persen secara bulanan. Inflasi sejak awal tahun mencapai 2,17 persen.
Perubahan harga tersebut tentu tidak dirasakan dengan cara yang sama oleh setiap orang. Pola konsumsi setiap individu berbeda, begitu pula pendapatan dan kebutuhan masing-masing.
Ketika harga suatu produk meningkat, konsumen dapat melakukan berbagai penyesuaian. Mereka dapat mengurangi jumlah pembelian, mencari merek alternatif, memilih produk pengganti, menunda pembelian, atau tetap membeli apabila barang tersebut dianggap penting.
Misalnya, ketika harga sebuah merek pakaian meningkat, konsumen mungkin mencari merek lain dengan kualitas yang dianggap sebanding. Ketika harga makanan tertentu naik, konsumen dapat memilih menu lain.
Inilah konsep barang substitusi yang sebenarnya sering kita lakukan tanpa sadar.
Promo Tidak Selalu Berarti Hemat
Ada satu hal yang menurut saya perlu lebih sering dipikirkan ketika melihat promo: apakah kita benar-benar menghemat, atau hanya mengeluarkan uang lebih sedikit untuk sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan?
Misalnya, seseorang mendapatkan voucher potongan Rp50 ribu. Secara nominal memang terlihat menguntungkan. Namun, jika sebelum melihat voucher tersebut orang tersebut tidak memiliki rencana untuk membeli barang apa pun, maka tetap terdapat pengeluaran tambahan.
Dalam kondisi seperti ini, diskon dapat mengubah keputusan konsumsi.
Konsumen yang sebelumnya tidak berniat membeli menjadi memiliki alasan untuk membeli. Dari sisi pelaku usaha, strategi tersebut dapat meningkatkan minat terhadap produk. Dari sisi konsumen, manfaat yang diperoleh harus dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan.
Karena itu, “murah” dan “hemat” sebenarnya bukan hal yang selalu sama.
Ketika FOMO Ikut Masuk ke Keranjang
Selain harga, ada faktor lain yang semakin sering muncul dalam aktivitas belanja digital, yaitu Fear of Missing Out atau FOMO.
Ketika sebuah produk terlihat sedang digunakan banyak orang, viral di media sosial, atau hanya tersedia dalam jumlah terbatas, konsumen dapat merasa harus segera membeli sebelum kesempatan tersebut hilang.
Padahal, kebutuhan seseorang tidak otomatis berubah hanya karena sebuah produk sedang viral.
Di sinilah preferensi konsumen menjadi penting. Setiap orang memiliki kebutuhan, selera, dan prioritas yang berbeda. Produk yang dianggap penting oleh seseorang belum tentu memiliki manfaat yang sama bagi orang lain.
Media sosial kemudian membuat proses pembentukan preferensi tersebut semakin dinamis. Tren yang muncul hari ini dapat dengan cepat memengaruhi apa yang dianggap menarik oleh konsumen.
Pelaku Usaha Juga Harus Beradaptasi
Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan konsumen. Pelaku usaha juga ikut mengalami perubahan.
Bagi UMKM, platform digital membuka kesempatan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Produk lokal dapat dipromosikan melalui media sosial, marketplace, maupun live shopping tanpa harus memiliki toko fisik yang besar.
Namun, persaingannya juga semakin terbuka.
Konsumen dapat membandingkan harga dari banyak penjual dengan cepat. Jika satu toko memberikan harga lebih rendah atau menawarkan promo yang lebih menarik, konsumen dapat berpindah ke toko lain.
Artinya, pelaku usaha harus mempertimbangkan harga, biaya produksi, kualitas, pelayanan, dan strategi promosi secara bersamaan.
Menjual dengan harga murah memang dapat menarik perhatian, tetapi jika harga tersebut tidak mampu menutup biaya produksi, strategi tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Konsumen Semakin Dihadapkan pada Banyak Pilihan
Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen pada Agustus 2026 berada pada level 118,5, meningkat dibandingkan 116,8 pada Juli. Angka tersebut menunjukkan bahwa keyakinan konsumen berada pada level optimis.
Di tengah kondisi tersebut, konsumen tetap menghadapi banyak pilihan dalam mengalokasikan pendapatannya.
Mereka dapat memilih makan di luar atau memasak sendiri. Membeli barang baru atau menggunakan barang yang sudah dimiliki. Memilih produk bermerek atau alternatif yang lebih terjangkau. Membeli sekarang atau menunggu promo berikutnya.
Semua keputusan tersebut merupakan bagian dari ekonomi mikro.
Ekonomi mikro pada akhirnya bukan hanya tentang kurva permintaan dan penawaran yang dipelajari di kelas. Ia juga hadir ketika seseorang membandingkan harga sebelum checkout.
Jadi, Kenapa Kita Mudah Tergoda?
Menurut saya, jawabannya bukan semata-mata karena Gen Z tidak bisa menahan diri.
Kita hidup dalam lingkungan yang membuat proses konsumsi menjadi semakin mudah. Produk dapat ditemukan melalui media sosial, harga dapat dibandingkan dalam hitungan detik, pembayaran dapat dilakukan secara digital, dan promo terus muncul dalam berbagai bentuk.
Pelaku usaha pun memahami perilaku tersebut dan menggunakan strategi promosi untuk menarik perhatian konsumen.
Karena itu, kemampuan konsumen untuk menentukan prioritas menjadi semakin penting.
Sebelum menekan tombol checkout, mungkin ada baiknya kita bertanya tiga hal sederhana: Apakah saya membutuhkan barang ini? Apakah harganya sesuai dengan kemampuan saya? Dan apakah saya tetap akan membelinya jika tidak ada promo?
Jika jawabannya tetap “iya”, mungkin memang barang tersebut dibutuhkan.
Namun, jika jawabannya “tidak”, bisa jadi yang membuat kita ingin membeli bukan kebutuhannya, melainkan promonya.
Pada akhirnya, ekonomi mikro bukan hanya tentang bagaimana perusahaan menjual dan bagaimana konsumen membeli. Ekonomi mikro juga tentang bagaimana kita membuat pilihan ketika uang yang kita miliki terbatas, sementara keinginan dan pilihan terus bertambah.
Jadi, ketika promo datang dan dompet mulai menghilang, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya harga barangnya, tetapi juga alasan di balik keputusan kita untuk checkout.
