Konten dari Pengguna

UMKM Ketika Biaya Usaha Naik: Harga Jual dan Konsumen Ikut Terdampak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Andaresta Tri Hastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kegiatan usaha UMKM. Sumber: Dokumentasi pribadi (AI).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kegiatan usaha UMKM. Sumber: Dokumentasi pribadi (AI).

UMKM menghadapi tantangan ketika biaya usaha meningkat, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga biaya operasional. Kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya produksi, harga jual, dan daya beli konsumen. Bagi pelaku UMKM, kenaikan biaya tidak hanya berdampak pada keuntungan, tetapi juga menuntut mereka untuk menentukan strategi harga yang tepat agar produk tetap terjangkau dan mampu bersaing di pasar.

Pada 2026, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, keterbatasan modal, hingga persaingan usaha yang semakin ketat. Kondisi tersebut tercermin dalam Indeks Bisnis UMKM BRI Triwulan II 2026.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi mikro sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika seorang penjual makanan menghadapi kenaikan harga ayam, cabai, minyak goreng, atau beras, misalnya, perubahan tersebut tidak berhenti pada biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku dapat memengaruhi harga jual yang ditetapkan penjual dan pada akhirnya memengaruhi keputusan konsumen.

Ketika Biaya Produksi Mengalami Kenaikan

Dalam kegiatan usaha, biaya produksi merupakan salah satu pertimbangan utama dalam menentukan harga jual. Sederhananya, seorang pelaku usaha harus memastikan bahwa pendapatan yang diperoleh dari penjualan dapat menutup biaya yang dikeluarkan dan masih memberikan keuntungan.

Masalah muncul ketika biaya produksi meningkat, sementara harga jual tidak mudah dinaikkan.

Misalnya, seorang pelaku usaha makanan menjual satu porsi makanan seharga Rp20.000. Pada kondisi awal, harga bahan baku dan biaya operasional memungkinkan penjual memperoleh keuntungan dari harga tersebut. Namun, ketika harga ayam, minyak goreng, cabai, kemasan, atau biaya lainnya meningkat, biaya untuk menghasilkan satu porsi makanan ikut bertambah.

Dalam kondisi seperti ini, penjual pada dasarnya memiliki beberapa pilihan. Pertama, menaikkan harga jual. Kedua, mempertahankan harga tetapi mengurangi ukuran atau isi produk. Ketiga, mencari bahan baku alternatif dengan harga yang lebih murah. Keempat, melakukan efisiensi terhadap biaya operasional.

Tidak ada pilihan yang sepenuhnya tanpa konsekuensi.

Jika harga dinaikkan terlalu tinggi, konsumen mungkin mengurangi pembelian atau beralih kepada produk pesaing. Jika ukuran produk dikurangi, konsumen dapat merasa bahwa nilai yang diperoleh tidak lagi sama. Sementara itu, jika penjual memilih bahan baku yang lebih murah, kualitas produk berpotensi berubah.

Di sinilah ekonomi mikro dapat digunakan untuk memahami keputusan yang diambil oleh pelaku usaha.

Harga Jual Tidak Bisa Ditentukan Hanya dari Biaya

Salah satu hal penting dalam ekonomi mikro adalah bahwa harga tidak hanya berkaitan dengan biaya produksi. Pelaku usaha juga harus memperhatikan permintaan konsumen dan kondisi persaingan.

Seorang penjual mungkin ingin menaikkan harga karena biaya produksinya meningkat. Namun, konsumen tidak selalu bersedia menerima kenaikan tersebut. Kemampuan membeli setiap konsumen berbeda-beda. Selain itu, konsumen juga memiliki pilihan untuk membeli produk lain yang sejenis.

Contohnya, jika sebuah warung menaikkan harga makanan dari Rp20.000 menjadi Rp25.000, konsumen akan mempertimbangkan apakah kenaikan harga tersebut sebanding dengan kualitas, porsi, rasa, lokasi, dan pelayanan yang diberikan.

Jika di sekitar warung tersebut terdapat banyak penjual lain yang menawarkan produk serupa dengan harga lebih rendah, kenaikan harga dapat membuat sebagian konsumen berpindah.

Artinya, keputusan harga harus mempertimbangkan permintaan dan persaingan, bukan hanya menghitung biaya.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM. Mereka harus mencari titik harga yang masih dapat menutup biaya usaha, memberikan keuntungan, tetapi juga tetap dapat diterima konsumen.

Konsumen Juga Mengalami Dampaknya

Dari sisi konsumen, kenaikan biaya usaha pada akhirnya dapat terlihat melalui perubahan harga barang dan jasa.

Ketika harga makanan, minuman, transportasi, atau kebutuhan sehari-hari meningkat, konsumen perlu menyesuaikan pengeluaran. Salah satu bentuk penyesuaian yang dapat dilakukan adalah mengurangi jumlah pembelian, memilih produk yang lebih murah, menunda pembelian tertentu, atau mengubah prioritas konsumsi.

Dalam ekonomi mikro, perilaku tersebut berkaitan dengan keterbatasan pendapatan dan pilihan konsumen. Konsumen memiliki kebutuhan yang banyak, tetapi sumber daya yang dimiliki terbatas. Ketika harga suatu barang meningkat, konsumen harus menentukan kembali barang mana yang menjadi prioritas.

Misalnya, konsumen yang sebelumnya membeli makanan di luar rumah beberapa kali dalam seminggu dapat mengurangi frekuensinya ketika harga makanan meningkat. Bukan berarti kebutuhan makan menghilang, tetapi konsumen dapat mengubah cara memenuhi kebutuhan tersebut.

Kondisi tersebut kemudian kembali memberikan dampak kepada pelaku UMKM. Ketika konsumen mengurangi pembelian, volume penjualan dapat ikut terpengaruh.

Dengan demikian, kenaikan biaya produksi dapat menciptakan hubungan yang saling berkaitan: biaya produksi naik, pelaku usaha menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga, konsumen merespons perubahan harga, dan perubahan permintaan kemudian kembali memengaruhi pendapatan pelaku usaha.

Harga Bahan Pangan dan Usaha Makanan

Contoh yang mudah dilihat terdapat pada usaha makanan. Harga bahan baku seperti ayam, cabai, beras, dan minyak goreng memiliki pengaruh langsung terhadap biaya produksi.

Bank Indonesia mencatat bahwa kelompok volatile food pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,88% secara bulanan. Beberapa komoditas yang memberikan tekanan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Bagi konsumen, perubahan tersebut dapat terlihat ketika harga makanan yang dibeli mengalami kenaikan. Namun, bagi pelaku usaha makanan, persoalannya lebih kompleks karena bahan baku merupakan bagian dari biaya yang harus dikeluarkan secara berulang.

Seorang pedagang makanan tidak hanya membeli bahan baku. Ia juga harus membayar gas, listrik, kemasan, transportasi, sewa tempat jika ada, serta berbagai biaya operasional lainnya. Apabila beberapa komponen biaya meningkat secara bersamaan, tekanan terhadap keuntungan menjadi semakin besar.

Karena itu, kenaikan harga satu komoditas mungkin terlihat sederhana dari sisi konsumen, tetapi dapat memiliki dampak yang lebih luas bagi pelaku usaha yang menggunakannya sebagai bahan produksi.

Persaingan Membuat Pelaku UMKM Harus Berhati-Hati

Kenaikan biaya tidak otomatis berarti pelaku usaha dapat menaikkan harga sesuai dengan kenaikan biaya tersebut.

Persaingan menjadi salah satu alasan utama.

Dalam pasar yang memiliki banyak penjual dengan produk sejenis, konsumen memiliki lebih banyak pilihan. Pelaku UMKM harus mempertimbangkan harga yang ditawarkan pesaing. Mereka juga perlu memperhatikan kualitas produk, pelayanan, lokasi, kemudahan pembelian, serta faktor lain yang menjadi pertimbangan konsumen.

Misalnya, dua penjual menjual produk yang hampir sama. Jika salah satu penjual menaikkan harga cukup tinggi sementara penjual lainnya mempertahankan harga, konsumen mungkin membandingkan keduanya sebelum melakukan pembelian.

Hal ini membuat pelaku UMKM perlu mencari strategi selain sekadar menaikkan harga. Efisiensi menjadi salah satu pilihan.

Pelaku usaha dapat mengevaluasi penggunaan bahan baku, mengurangi pemborosan, mencari pemasok alternatif, memperbaiki proses produksi, atau mengatur jumlah produksi berdasarkan tingkat permintaan.

Dengan cara tersebut, kenaikan biaya dapat ditekan tanpa seluruh bebannya harus dialihkan kepada konsumen.

Tidak Semua Konsumsi Mengalami Penurunan

Meskipun terdapat tekanan terhadap daya beli, kondisi tersebut tidak berarti seluruh aktivitas konsumsi berhenti.

Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran pada Agustus 2026 masih tumbuh sebesar 0,5% secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi tetap berjalan meskipun konsumen dan pelaku usaha harus melakukan penyesuaian terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Hal ini penting karena perilaku konsumen tidak selalu sama untuk setiap jenis barang.

Ketika pendapatan atau daya beli mengalami tekanan, konsumen mungkin mengurangi pembelian barang tertentu, tetapi tetap mempertahankan pengeluaran untuk kebutuhan yang dianggap penting. Bahkan dalam beberapa kondisi, konsumen dapat mengganti merek atau jenis produk tanpa sepenuhnya menghentikan konsumsi.

Bagi UMKM, perubahan pola tersebut menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pelaku usaha tidak hanya perlu mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan, tetapi juga perlu memahami perubahan kebutuhan dan preferensi konsumennya.

Tantangan Menjaga Keuntungan

Bagi pelaku UMKM, tujuan mempertahankan usaha bukan hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga menjaga agar kegiatan usaha tetap menghasilkan keuntungan.

Ketika biaya meningkat, keuntungan dapat tertekan apabila harga jual dan jumlah penjualan tidak mengalami perubahan yang cukup untuk menutup kenaikan biaya.

Namun, menaikkan harga juga memiliki risiko. Jika kenaikan harga menyebabkan permintaan turun secara signifikan, tambahan pendapatan per produk belum tentu menghasilkan peningkatan keuntungan secara keseluruhan.

Karena itu, pelaku usaha perlu mempertimbangkan hubungan antara harga dan jumlah barang yang dapat terjual.

Sebagai contoh sederhana, menjual 100 produk dengan keuntungan Rp5.000 per produk menghasilkan keuntungan kotor Rp500.000. Jika harga dinaikkan sehingga keuntungan per produk menjadi Rp7.000, tetapi jumlah yang terjual turun menjadi 60 produk, keuntungan kotor yang diperoleh menjadi Rp420.000.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa kenaikan keuntungan per unit belum tentu berarti keuntungan total meningkat. Dalam praktiknya, tentu perhitungan UMKM jauh lebih kompleks karena terdapat biaya tetap dan biaya variabel lainnya. Namun, contoh sederhana tersebut menggambarkan pentingnya mempertimbangkan respons konsumen terhadap perubahan harga.

UMKM Perlu Menyesuaikan Diri

Dalam menghadapi kenaikan biaya, pelaku UMKM perlu melakukan penyesuaian secara hati-hati. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghitung kembali struktur biaya secara berkala.

Pelaku usaha perlu mengetahui biaya bahan baku, tenaga kerja, kemasan, transportasi, listrik, sewa, serta biaya lainnya. Dengan pencatatan yang lebih baik, pelaku usaha dapat mengetahui komponen mana yang paling banyak menyerap biaya dan mana yang masih dapat diefisienkan.

Selain itu, pelaku UMKM dapat mempertimbangkan variasi produk. Produk dengan harga yang berbeda dapat memberikan pilihan kepada konsumen sesuai kemampuan masing-masing. Strategi seperti paket hemat, ukuran produk yang berbeda, atau promosi tertentu juga dapat menjadi alternatif selama tetap sesuai dengan kondisi keuangan usaha.

Yang tidak kalah penting adalah mempertahankan kualitas. Ketika harga harus disesuaikan, pelaku usaha tetap perlu mempertimbangkan kepercayaan konsumen. Konsumen tidak hanya membeli berdasarkan harga, tetapi juga berdasarkan kualitas dan nilai yang mereka rasakan dari produk tersebut.

Ekonomi Mikro dalam Kehidupan Sehari-hari

Dari kondisi tersebut, terlihat bahwa ekonomi mikro bukan sekadar teori yang dipelajari di ruang kelas. Konsep seperti biaya produksi, harga, permintaan, penawaran, persaingan, dan perilaku konsumen sebenarnya terjadi dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.

Ketika harga cabai naik, seorang pedagang harus menghitung kembali biaya produksinya. Ketika harga makanan meningkat, konsumen harus menentukan apakah tetap membeli atau mencari alternatif lain. Ketika pesaing menawarkan harga lebih rendah, pelaku usaha harus mempertimbangkan strategi agar produknya tetap diminati.

Semua keputusan tersebut merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan ekonomi.

Menurut saya, kondisi UMKM saat menghadapi kenaikan biaya juga menunjukkan bahwa hubungan antara produsen dan konsumen sangat erat. Keputusan yang diambil oleh satu pihak dapat memengaruhi pihak lainnya. Pelaku usaha perlu menjaga keberlangsungan usahanya, sementara konsumen perlu menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan daya belinya.

Pada akhirnya, kenaikan biaya usaha bukan hanya persoalan mengenai naik atau turunnya harga. Di balik perubahan harga terdapat proses pengambilan keputusan yang melibatkan biaya produksi, keuntungan, persaingan, daya beli, dan perilaku konsumen.

Karena itu, memahami ekonomi mikro menjadi penting bukan hanya bagi mahasiswa ekonomi atau pelaku usaha, tetapi juga bagi masyarakat secara umum. Setiap kali kita memutuskan untuk membeli suatu produk, memilih antara beberapa barang, atau melihat perubahan harga di sekitar kita, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan konsep-konsep ekonomi mikro yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Adinda Andaresta Tri Hastusi, Mahasiswa Universitas Pamulang