Ketika ‘Anak Perempuan Jangan Terlalu Sekolah’ Masih Jadi Nasihat Keluarga

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adinda Aulia Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak tempat di Indonesia, pendidikan untuk perempuan masih menghadapi tantangan yang tidak terlihat namun sangat mendalam: budaya patriarki. Salah satu wujudnya adalah pesan yang masih sering diterima oleh anak perempuan, yaitu, “Jangan terlalu tinggi pendidikannya, nanti susah mencari pasangan. ” Ungkapan ini lebih dari sekedar kata-kata, melainkan mencerminkan pandangan yang masih beranggapan bahwa perempuan tidak membutuhkan pendidikan tinggi, karena pada akhirnya mereka “hanya” akan menjadi istri dan ibu rumah tangga.
Pendidikan: Hak atau Pilihan Keluarga?
Di banyak keluarga di daerah pedesaan atau pinggiran kota, pendidikan untuk perempuan sering kali dianggap sebagai pilihan kedua. Jika keadaan ekonomi tidak mendukung, maka prioritas pendidikan akan diberikan kepada anak laki-laki, dengan alasan bahwa merekalah yang “nanti akan menafkahi keluarga. ” Perempuan dianggap cukup belajar hingga tingkat SMA atau bahkan SMP, sebelum disiapkan untuk menikah.
Namun, pendidikan tidak hanya tentang mendapatkan gelar atau bekerja di kantor. Pendidikan membentuk pola pikir, meningkatkan rasa percaya diri, dan memberikan perempuan kemampuan untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam hidup mereka—baik sebagai individu, istri, ibu, maupun anggota masyarakat.
“Terlalu Pintar” Jadi Masalah?
Ironisnya, semakin tinggi pendidikan yang dimiliki seorang perempuan, semakin besar pula stigma yang melekat padanya. Ia dianggap akan “melawan,” “sulit diatur,” atau bahkan “tidak bisa patuh kepada suami. ” Beberapa pria, atau lebih tepatnya keluarga pria, mengaku enggan menikahi perempuan berpendidikan tinggi karena dianggap akan “menyaingi” suami. Di sinilah masalah utamanya: ketakutan akan kesetaraan.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang terdidik cenderung memiliki keluarga yang lebih sehat, pengelolaan keuangan yang lebih baik, dan anak-anak yang juga mendapatkan pendidikan yang tinggi. Kemajuan perempuan berarti kemajuan bagi keluarga. Dan pada akhirnya, kemajuan bagi bangsa.
Mengubah Narasi, Menyuarakan Kesetaraan
Narasi konservatif seperti “perempuan tidak perlu sekolah tinggi” perlu ditantang dengan narasi yang berlawanan: bahwa perempuan memiliki hak, pantas, dan perlu mendapatkan pendidikan yang tinggi. Orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan tokoh agama memiliki peranan yang signifikan dalam membangun pemahaman baru yang lebih adil dan setara.
Mengubah budaya bukanlah hal yang gampang. Namun, perubahan bisa dimulai dari percakapan sederhana di dalam keluarga: bahwa anak perempuan tidak hanya boleh bermimpi besar—mereka harus diberikan izin untuk mengejar impian tersebut, tanpa batas.
