Konten dari Pengguna

Mengintip Fenomena Istilah Budak Cinta Pada Kisah Mahabharata dan Masa Kini

Adinda Destiana Aisyah

Adinda Destiana Aisyah

Aktif di bidang kepenulisan fiksi dan non-fiksi. Lulusan Fakultas Sastra Indonesia Universitas Pamulang.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Destiana Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image from Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Image from Unsplash.com

Anda pasti tidak asing dengan istilah gaul yang kini telah menyatu menjadi bentuk bahasa baru, yaitu bucin. Kata tersebut merupakan bentuk istilah baru yang kini telah dinormalisasikan menjadi bentuk bahasa baru yang banyak dikenal kaum muda. Bucin merupakan kata yang mewakili sebuah bentuk perasaan cinta yang dianggap berlebihan. Bucin adalah akronim dari kata Budak Cinta. Seperti yang dimuat dalam liputan6.com terkait bucin atau budak cinta yang memiliki pengertian mengarah pada orang-orang yang tergila-gila dengan kisah cinta yang sedang dirajutnya.

Kata bucin sendiri meledak pada tahun 2019 dan menjadi kata yang paling banyak dicari pada saat itu, bahkan hingga saat ini kita dapat mendengar kata ini di manapun dan kapanpun. Namun, tahukah Anda bahwa fenomena bucin tersebut juga dapat kita temukan pada kisah Mahabharata, seolah hal tersebut sudah lumrah sejak zaman kisah Mahabharata lahir. Walaupun istilah tersebut baru muncul, tetapi fenomena yang mewakili kata tersebut sudah ada pada cerita itu.

Kisah Mahabharata merupakan karya sastra yang dikenal oleh banyak orang dengan berbagai versi dan tersaji dengan bahasa yang indah. Cerita di dalamnya selalu sarat akan ajaran moral yang bermanfaat untuk kehidupan. Mahabharata merupakan wiracarita atau cerita kepahlawanan yang kini kembali dikisahkan dengan bahasa yang sederhana oleh Nyoman S. Pendit. Dalam versi ini, tanah kelahiran Mahabharata yaitu India masih menjadi sesuatu yang digambarkan dengan kental.

Setelah membaca bab dua pada kisah Mahabharata yang berjudul “Dewabrata, Putra Raja Santanu dan Dewi Gangga.” Ada hal menarik yang membuat saya berpikir bahwa fenomena bucin juga terdapat pada kisah Mahabharata dalam versi Nyoman S. Pendit tersebut. Hal ini tentu saja membuat saya tertegun hingga menyimpulkan satu fakta. “Cinta memang dapat membutakan segalanya, bahkan hingga membuat diri sendiri menjadi budak sekalipun.” Cinta memang buta, menjadi kalimat yang mewakili dalam penggalan cerita pada bab dua tersebut.

Kisah Mahabharata yang dimuat pada bab dua tersebut mengisahkan seorang raja bernama Santanu yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang gadis bernama Dewi Gangga. Mereka bertemu di tepi Sungai Gangga, dan saat itu dalam hitungan detik saja Raja Santanu langsung terpikat oleh kecantikan gadis yang merupakan bidadari dari kahyangan tersebut. Hingga akhirnya Raja Santanu mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Dewi Gangga sebagai istrinya. Namun, Dewi Gangga tidak serta-merta menerima lamaran Raja Santanu begitu saja, ia memberikan empat syarat kepada Raja Santanu.

Empat syarat yang diberikan oleh Dewi Gangga kepada Raja Santanu adalah, pertama tidak seorang pun termasuk Raja Santanu boleh bertanya siapa sebenarnya sosok Dewi Gangga dan dari mana asal-usulnya. Kedua, Raja Santanu tidak boleh menghalangi apapun yang dilakukan oleh Dewi Gangga, baik atau buruk, benar atau salah, wajar atau ganjil. Ketiga, Raja Santanu tidak boleh memarahi Dewi Gangga dengan alasan apapun. Keempat, Raja Santanu tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat perasaan gadis itu tidak enak.

Dalam kisah tersebut, Raja Santanu yang sudah dimabuk cinta, dan dipenuhi hasrat ingin menikahi Dewi Gangga karena terbuai oleh kecantikannya, tanpa berpikir panjang langsung bersumpah akan memenuhi semua syarat yang dikatakan oleh gadis jelita tersebut. Raja tidak menaruh curiga sedikit pun, bahkan tidak merasa heran dengan syarat-syarat aneh yang diberikan oleh Dewi Gangga kepadanya. Tanpa memikirkan asal-usul gadis cantik itu, Raja Santanu bahkan rela memberikan seluruh cinta, kekayaan, dan kerajaannya, bahkan seluruh kehidupannya akan dipersembahkan kepada Dewi Gangga seorang sebagai bukti cintanya yang begitu dalam.

Sepenggal kisah ini bukanlah hal yang asing bagi kita, siapapun yang dimabuk asmara, terbuai cinta, tersihir oleh keindahan paras seseorang, seketika ia akan buta dan tuli. Tidak peduli dengan latar belakang dan seluk-beluk, cinta tetaplah hal yang utama. Seseorang bahkan rela mengorbankan apapun yang ada dalam dirinya demi memperjuangkan sepotong cinta. Hal ini tentu saja berkaitan dengan istilah bucin, yaitu Budak Cinta. Siapapun yang sedang jatuh cinta, bahkan rela menjadi budak hingga melakukan segalanya tanpa pikir panjang.

Sekilas membandingkan dengan fenomena bucin yang juga terjadi pada masa kini dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Misalnya, seorang perempuan yang rela memberikan apapun dalam dirinya demi cinta dan kasih pada seorang lelaki, atau bahkan seorang laki-laki yang rela melakukan apapun demi membuktikan rasa cintanya pada sang kekasih. Karena faktanya jika seseorang terlalu cinta pada lawan jenis, maka akal dan logikanya akan berpengaruh dan dipertaruhkan.

Beberapa cerita yang sepintas pernah kita dengar atau bahkan dialami. Ada seorang perempuan yang rela membelikan sebuah ponsel canggih untuk kekasihnya, tetapi dibalas dengan perselingkuhan. Bahkan ada kisah seorang pria di China yang rela menghabiskan uang sebesar Rp. 513 miliar untuk membahagiakan kekasihnya. Kisah-kisah tersebut merupakan bentuk nyata dari seseorang yang dibutakan oleh cinta. Apakah Anda pernah mengalami hal yang serupa? Atau lebih parah?

Namun, terlalu tergila-gila oleh cinta hingga mengorbankan segalanya rupanya tidak selalu membawa dampak baik, kita juga dapat melihat dampak buruk dari istilah bucin itu sendiri. Ada banyak kasus pembunuhan yang berawal dari cerita cinta yang buta. Ketika seseorang sudah memberikan segalanya untuk sang kekasih, tetapi tidak mendapatkan hal yang serupa, maka tidak menutup kemungkinan cinta yang buta itu akan membawa petaka. Kekecewaan yang tumbuh karena cinta yang berlebihan akan lebih terasa menyakitkan.

Hal ini juga dapat kita temukan pada bagian akhir bab dua Epos Mahabharata tersebut. Ketika Raja Santanu mulai gerah dengan rahasia yang disembunyikan oleh Dewi Gangga, ketika setiap kali gadis cantik itu hamil, dia tidak pernah membawa pulang anaknya. Dewi Gangga selalu pergi ke sungai untuk melahirkan anaknya, dan kembali ke istana dengan tangan kosong, dan perasaan yang biasa saja. Hal tersebut terulang hingga tujuh kali, dan Raja Santanu harus diam membisu ketika dirinya kehilangan buah hatinya karena sumpah yang telah dikatakannya dahulu. Namun, ketika tiba anak kedelapannya lahir, Raja Santanu mengingkari sumpahnya dan baru mengetahui bahwa selama ini Dewi Gangga selalu membuang darah dagingnya ke sungai setelah dilahirkan. Raja merasa kecewa dan marah kepada Dewi Gangga, dan menganggap perempuan itu sangat kejam.

Dalam kisah Mahabharata tersebut, kita bisa merasakan kekecewaan yang muncul karena cinta dan paras yang membutakan. Hal ini juga bisa terjadi pada kita jika terlalu tergila-gila ketika jatuh cinta, hingga kehilangan akal sehat dan logika. Ada banyak kisah serupa yang dapat kita temukan di sekitar, ketika seseorang harus kehilangan hal yang paling berharga dalam kehidupannya hanya karena sepotong cinta, atau keindahan paras yang sementara. Kisah ini dapat dijadikan renungan dan pembelajaran untuk kehidupan kita.

Bucin menjadi istilah gaul yang kita kenal sebagai suatu perasaan tergila-gila pada cinta. Namun, alangkah baiknya jika kita tidak terjebak pada istilah tersebut. Ketika jatuh cinta pada seseorang, alangkah baiknya akal dan logika tetap terjaga sehingga tidak mendatangkan kekecewaan yang membuat sedih dan patah hati. Membuktikan atau memperjuangkan cinta bukan berarti mengorbankan segalanya hingga mempertaruhkan semua yang kita miliki tanpa menilai dan mencari tahu sosok yang kita cintai itu terlebih dahulu. Ketika memperjuangkan cinta, jangan sampai melupakan diri sendiri. Karena cinta yang baik bukan yang memberikan kebohongan untuk diri sendiri, tetapi cinta yang memberikan kejujuran, dan ketenangan untuk dua insan yang merasakannya.

Kisah dalam cerita Mahabharata memberikan fakta bahwa fenomena bucin juga terdapat di dalamnya, dan cerita tersebut juga banyak terjadi di sekeliling kita. Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dalam kisah tersebut, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena manusia yang pintar adalah ketika dirinya menemukan hal baik dalam bacaan yang dinikmatinya, dan ia mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.