Loud Quitting: Tren Pekerja Muda Melawan Tempat Kerja Toxic

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen dari Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adinda Putri Baharuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Loud quitting belakangan ini makin marak terjadi dan menjadi perbincangan hangat di kalangan pekerja muda. Jika sebelumnya publik diramaikan dengan tren quiet quitting—yaitu bekerja ala kadarnya sesuai deskripsi pekerjaan—kini muncul fenomena loud quitting yang aksinya jauh lebih terbuka dan berani.
Secara sederhana, loud quitting adalah kondisi di mana seorang karyawan secara terang-terangan menunjukkan ketidakpuasannya terhadap lingkungan kerja. Mereka tidak lagi memilih diam, tetapi berani mengutarakan kritik langsung kepada manajemen, menolak lembur tanpa kompensasi secara terbuka, hingga membagikan pengalaman buruk tempat kerjanya di media sosial.
Bagi manajemen perusahaan, fenomena loud quitting mungkin dianggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan dari Gen Z dan Milenial. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang lebih jernih, loud quitting sebenarnya adalah reaksi alami dari akumulasi kekecewaan karyawan terhadap lingkungan kerja yang toxic.
Ada dua faktor utama yang memicu lahirnya fenomena loud quitting di dunia kerja saat ini:
Kurangnya Transparansi dan Keadilan Perusahaan:
Pekerja muda saat ini sangat menghargai kejujuran. Ketika perusahaan menuntut loyalitas tanpa batas tetapi tidak memberikan kejelasan karir, beban kerja berlebih, dan gaji yang layak, keberanian untuk bersuara secara terbuka menjadi hal yang tak terhindarkan.
Kekuatan Media Sosial sebagai Alat Tawar:
Di era digital, karyawan menyadari bahwa suara mereka memiliki panggung. Keberanian menyuarakan ketidakadilan lewat fenomena loud quitting sering kali menjadi satu-satunya cara untuk memicu perubahan di internal perusahaan yang selama ini enggan mendengarkan aspirasi pegawai.
Tentu saja, aksi loud quitting bukan tanpa risiko. Konfrontasi terbuka bisa memengaruhi reputasi profesional individu jika tidak disampaikan dengan bijak dan berbasis data. Namun, pesan utamanya sudah sangat jelas: era di mana karyawan harus terus pasrah menerima perlakuan tidak adil di tempat kerja sudah berakhir.
Pada akhirnya, maraknya fenomena loud quitting harus menjadi sinyal peringatan bagi para pemimpin perusahaan. Sudah saatnya manajemen berhenti menyalahkan mentalitas pekerja muda dan mulai fokus membenahi budaya kerja dari dalam.
