Konten dari Pengguna

Ketika Bus Di Kota Kediri Tak Lagi Sekadar Mengantar, Tapi Juga Mengajak Membaca

Adi Wicaksono

Adi Wicaksono

Sekretaris Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kediri. Ceritified of Public Relation Officer. Magister of Marketing Management

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adi Wicaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sabtu pagi, 24 Januari 2026, suasana Kota Kediri berjalan seperti biasa. Jalanan dilalui kendaraan, aktivitas warga berdenyut pelan. Namun di salah satu bus yang berkeliling kota, ada pemandangan yang berbeda. Bukan obrolan soal tujuan atau klakson lalu lintas, melainkan buku-buku terbuka dan percakapan tentang bacaan. Inilah TransLiteria.

Bagi Dinas Perhubungan Kota Kediri, keterlibatan dalam TransLiteria bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Indra, Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Kediri, menyebut semuanya bermula dari koordinasi yang sederhana, lalu berkembang menjadi kolaborasi lintas sektor dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Kediri. Dari obrolan, lahir gagasan. Dari gagasan, lahir pengalaman baru bagi masyarakat.

Indra sedang bertugas di Bus Satria dalam TransLiteria, membawa pengalaman baru baca buku di bus. Sumber: koleksi pribadi (2026)
zoom-in-whitePerbesar
Indra sedang bertugas di Bus Satria dalam TransLiteria, membawa pengalaman baru baca buku di bus. Sumber: koleksi pribadi (2026)

“Kegiatan ini baik. Selain untuk menumbuhkan minat baca, juga untuk mengenalkan Kota Kediri sebagai city of tourism,” ujar Indra.

Selama ini, kegiatan Dishub yang melibatkan transportasi identik dengan edukasi lalu lintas, pengenalan sarana angkutan, atau city tour. Namun TransLiteria membawa warna yang berbeda. Ada satu hal unik yang bahkan tak terduga.

“Di TransLiteria ini, penumpangnya ternyata punya hobi dan minat yang sama, yaitu literasi. Jadi di dalam kendaraan, mereka punya pengalaman baru, membaca dan berbagi buku sambil keliling kota,” katanya.

Bus yang biasanya hanya menjadi alat berpindah tempat, berubah fungsi menjadi ruang belajar, ruang berbagi, bahkan ruang bertukar cerita. Bagi Dishub, ini memberi sudut pandang baru tentang manfaat transportasi publik.

“Kami senang ternyata bus ini punya manfaat lebih. Dan ini masih sangat bisa dikembangkan ke depannya,” lanjutnya.

Pada jilid pertama TransLiteria, peserta diajak melintasi kawasan Jalan Stasiun. Kawasan ini merupakan wajah baru Kota Kediri yang direncanakan menjadi area wisata dan pusat pertumbuhan ekonomi. Di situlah literasi dan kota bertemu. Membaca sambil mengenal ruang, berpikir sambil bergerak.

Kolaborasi antara literasi dan layanan publik seperti transportasi, menurut Indra, ternyata bukan hal yang sulit. Justru saling menguatkan. Dishub dapat mengenalkan transportasi dan potensi kota, sementara dinas yang bergerak di bidang arsip dan perpustakaan bisa menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda dari biasanya.

Tentu tidak tanpa tantangan. Sarana transportasi masih terus disesuaikan agar lebih optimal untuk kegiatan semacam ini. Salah satu upaya yang disiapkan ke depan adalah mengaktifkan layar televisi di dalam bus, agar bisa dimanfaatkan sebagai media edukasi dan penayangan video pendukung literasi.

Respon peserta pada TransLiteria jilid pertama menjadi alasan kuat untuk melanjutkan program ini. Tanggapan positif membuat Dishub melihat bahwa kegiatan semacam ini bukan hanya layak, tapi juga dibutuhkan.

Harapannya sederhana, namun bermakna. TransLiteria bisa rutin dilaksanakan dan melibatkan lebih banyak dinas terkait, sehingga cakupan dan manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.

Di akhir, Indra menyampaikan pesan yang relevan untuk siapa pun yang tinggal dan beraktivitas di Kota Kediri. Ruang publik adalah milik bersama. Ketika dimanfaatkan secara positif, dampaknya bisa dirasakan jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

“Manfaatkan semaksimal mungkin ruang publik untuk hal-hal yang positif. Baik untuk individu maupun komunitas,” pesannya.

Karena ternyata, sebuah bus tidak hanya bisa mengantar ke tujuan. Ia juga bisa mengantar orang-orang kembali pada kebiasaan membaca, berpikir, dan berbagi.