Konten dari Pengguna

Ketahui Yuk, Lima Jenis Defense Mechanism yang Dilakukan oleh Kita

ADISSA PUTRI DHANI SAMUDERA

ADISSA PUTRI DHANI SAMUDERA

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ADISSA PUTRI DHANI SAMUDERA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cemas. Source : freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cemas. Source : freepik.com

Kalian pasti pernah berada di situasi yang sulit seperti banyaknya pekerjaan yang menumpuk, diabaikan oleh dosen, bertengkar dengan teman, dan hal serupa lainnya. Ketika mengalami hal tersebut, kita seringkali memendam kekesalan atau mencari distraksi agar perasaan negatif yang kita rasakan mereda. Tahukah kalian kalau ternyata yang kita lakukan itu dinamakan defense mechanism?

Pertanyaannya sekarang, apakah kamu tahu apa itu defense mechanism?

Dewasa ini, istilah defense mechanism mungkin sudah cukup umum. Namun, bagi yang belum tau, defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri merupakan reaksi psikologis manusia yang terjadi pada alam bawah sadar. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, defense mechanism berfungsi untuk membebaskan kita dari emosi atau perasaan negatif seperti stres, benci, atau cemas, untuk sementara waktu.

Saat ini, terdapat lebih dari 10 jenis teori defense mechanism yang sudah ada. Walaupun begitu, di antara banyaknya jenis defense mechanism, terdapat 5 jenis yang paling sering dilakukan oleh kita.

Yuk, kita bahas bersama!

1. Represi

Pernahkah kamu bertengkar dengan pacar, tetapi akhirnya memilih untuk memendam kekesalanmu? Bisa jadi kamu melakukan represi tuh! Represi merupakan defense mechanism paling dasar yang kita miliki. Jadi, ketika kita sedang mengalami sedih, sakit hati, atau emosi negatif lainnya, tubuh akan berusaha menekan ingatan buruk ke alam bawah sadar supaya kita bisa melupakannya. Akan tetapi, ingatan itu sebenarnya tidak hilang ya, teman-teman. Ingatan itu masih ada dan sewaktu-waktu masih dapat muncul kembali ketika kamu mengalami kejadian serupa.

2. Reaksi Formasi

Apa itu reaksi formasi? Orang-orang yang menggunakan mekanisme tipe ini sebenarnya menyadari bagaimana perasaan mereka, namun memilih untuk menyamarkannya secara berlawanan dari perasaan aslinya.

Umpamanya nih, kamu sedang mengalami patah hati yang mendalam, namun kamu memilih untuk menunjukkan ke dunia bahwa kamu bahagia dan tidak peduli.

3. Pengalihan

Kamu terlambat datang ke kampus sehingga dosen memarahimu selama 1 jam. Telingamu sudah panas mendengar khotbah dadakan yang diberikan oleh dosenmu, tetapi kamu tahu bahwa kamu tidak bisa marah ke dosen tersebut. Akibatnya, kamu melampiaskan emosi tersebut ke rekanmu yang tidak bersalah.

Itulah ciri orang yang melakukan mekanisme pengalihan. Pengalihan dilakukan dengan cara melampiaskan emosi ke sasaran yang lebih lemah yang sebenarnya tidak berkaitan dengan pemicu awalnya.

4. Rasionalisasi

"Itu bukan salah ku, harusnya..."

Tentu kamu sering mendengar kalimat tersebut, bukan? Ya, disinilah rasionalisasi berperan. Mekanisme ini dilakukan dengan mencari alasan yang logis dan dapat diterima untuk membenarkan perilaku.

5. Sublimasi

Andaikata kamu dihina oleh temanmu sendiri, kamu memilih untuk menyalurkan rasa frustasi tersebut melalui kickboxing atau olahraga lainnya. Inilah yang disebut dengan sublimasi. Mekanisme ini dilakukan dengan melampiaskan emosi ke hal-hal yang positif dan dapat diterima secara sosial.

Apakah defense mechanism itu normal?

Setelah kita membahas ke-5 jenis defense mechanism diatas, tentu timbul pertanyaan di benakmu, "Apakah defense mechanism itu normal?" Jawabannya tentu saja normal.

Defense mechanism merupakan suatu hal yang normal dan alami pada manusia.

Teman-teman tidak perlu khawatir karena defense mechanism pada hakikatnya bertindak sebagai perisai psikologis terhadap kecemasan atau ketidaknyamanan yang kalian alami. Biarpun begitu, berdasarkan penjelasan dari banyak penelitian, defense mechanism tidak baik jika dilakukan secara terus-menerus karena nantinya akan menipu perasaanmu sendiri. Oleh karena itu, untuk menyiasatinya kamu harus lebih jujur ​​pada diri sendiri dan berdamai emosi yang kamu rasakan.

Setelah teman-teman membaca penjelasan mengenai ke-5 jenis defense mechanism diatas, tentu kita sudah menyadari betapa bermanfaatnya mekanisme ini bagi kehidupan kita, apalagi bagi orang-orang yang sedang banyak masalah. Namun, perlu diingat juga bahwa mekanisme ini tidak baik untuk dijadikan kebiasaan sehari-hari ya!

Referensi :

1. Feist J, Feist GJ, Roberts TA. Theories of Personality. 9th ed. New York : McGraw-Hill Education; 2018

2. Bailey R. Defense mechanisms [Internet]. StatPearls [Internet]. U.S. National Library of Medicine; 2021 [cited 2021Dec19]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559106/