Collective Grief, saat Ibu Ikut Merasa Sedih Melihat Kemalangan Anak Orang Lain

Moms, pernahkah Anda merasa ikut sedih, sesak, bahkan menangis saat melihat berita tentang kemalangan yang menimpa anak lain? Meski tidak mengenal anak tersebut maupun keluarganya, terkadang ada perasaan pilu yang sulit dijelaskan.
Apalagi, saat membayangkan bagaimana jika kejadian serupa menimpa anak sendiri. Ada rasa takut, khawatir, sekaligus sedih membayangkan apa yang harus dilalui anak tersebut dan orang tuanya.
Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa perasaan ini berkaitan dengan fenomena collective grief atau kedukaan kolektif dalam psikologi sosial.
Mengenal Collective Grief pada Ibu
Dalam psikologi sosial, collective grief menggambarkan kesedihan yang dirasakan bersama ketika suatu peristiwa menyakitkan menyentuh perasaan banyak orang, termasuk mereka yang tidak mengalaminya secara langsung.
Roslina menjelaskan, fenomena ini juga dapat muncul ketika seorang ibu melihat penderitaan anak lain melalui berita atau visual yang beredar.
"Dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut Kedukaan Kolektif alias ‘Collective Grief.’" ujar Roslina saat dihubungi kumparanMOM, Rabu (14/10).
Ia melanjutkan, kondisi tersebut berkaitan dengan identitas sosial yang sama atau shared social identity yang membuat para ibu merasa terhubung secara emosional dengan anak-anak yang mengalami kemalangan.
"Ketika seorang ibu melihat anak lain menderita, ego personalnya melebur menjadi kesadaran kolektif: 'Satu anak yang sakit, semua hati ibu tersakiti.'" tambah Roslina.
Mengapa Ibu Bisa Ikut Merasakan Kesedihan?
Saat melihat kemalangan yang menimpa anak lain, seorang ibu bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi anak tersebut atau orang tuanya. Pengalaman menjadi ibu juga bisa membuat isu yang berkaitan dengan keselamatan dan kesejahteraan anak terasa lebih dekat secara emosional.
Berita tentang anak yang sakit, menjadi korban kekerasan, atau mengalami musibah pun bisa memunculkan kekhawatiran tersendiri. Bahkan, tak jarang muncul pikiran, bagaimana jika kejadian serupa menimpa buah hati sendiri?
Perasaan ini menunjukkan adanya empati terhadap penderitaan orang lain. Kesedihan yang muncul tidak selalu berarti seorang ibu mengalami hal yang sama, tetapi bisa menjadi cerminan kepedulian terhadap anak-anak dan keluarga yang sedang menghadapi masa sulit.
Pada akhirnya, kepedulian seorang ibu tidak selalu berhenti pada anaknya sendiri. Ada harapan yang sama agar setiap anak bisa tumbuh dengan aman, sehat, dan terlindungi dari berbagai kemalangan.
