Kumparan Logo

Dokter: Mood Swing pada Anak Berkaitan dengan Kondisi Pencernaannya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak kesal. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak kesal. Foto: Shutter Stock

Saluran cerna sering disebut sebagai 'otak kedua' karena ternyata punya hubungan yang erat dengan otak. Melalui gut-brain axis (GBA), saluran cerna dan otak dapat saling berkomunikasi. Hubungan ini melibatkan sistem saraf, sistem imun, serta mikrobiota yang hidup di dalam usus.

Karena itu, kesehatan saluran cerna anak bukan hanya berkaitan dengan pencernaan, seperti sembelit atau diare. Kondisi usus dan mikrobiota juga sedang banyak diteliti kaitannya dengan emosi, perilaku, dan fungsi kognitif anak.

Gut-Brain Axis, Saat Usus dan Otak Saling Berkomunikasi

Ilustrasi mikrobiota usus yang sehat. Foto: Chizhevskaya Ekaterina/Shutterstock

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), menjelaskan bahwa sistem saraf, sistem imun, dan mikrobiota saling berkaitan dalam mekanisme gut-brain axis.

“Memang gut-brain axis itu berhubungan. Jadi sistem saraf berhubungan dengan sistem imun, sistem imun berhubungan dengan mikrobiota,” ujar dr. Andy dalam acara launching Gut and Immunity Council di Penang Bistro Gatot Subroto, Rabu (9/9).

Komunikasi antara usus dan otak dapat berlangsung melalui berbagai jalur, termasuk sistem saraf, sistem imun, hormon, serta zat yang dihasilkan oleh mikrobiota usus. Karena itu, kondisi saluran cerna dapat memberikan sinyal yang berkaitan dengan fungsi tubuh di luar sistem pencernaan.

Peran Mikrobiota dalam Gut-Brain Axis

Ilustrasi mikrobiota di pencernaan anak. Foto: Shutterstock

Di dalam saluran cerna terdapat triliunan mikroorganisme yang secara keseluruhan disebut mikrobiota usus. Komposisinya dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk pola makan, lingkungan, penggunaan antibiotik, serta kondisi sejak awal kehidupan.

Mikrobiota ini tidak hanya membantu proses yang berlangsung di saluran cerna. Mereka juga dapat berinteraksi dengan sistem imun dan sistem saraf serta menghasilkan berbagai metabolit yang berperan dalam komunikasi antara usus dan otak.

Dr. Andy mencontohkan serotonin sebagai salah satu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa nyaman dan regulasi suasana hati.

“Bila kita memberikan makanan yang tepat, seperti prebiotik, probiotik, semua seimbang, dan sebagainya, usus itu bisa menghasilkan beberapa neurotransmitter yang penting, misalnya serotonin, salah satunya. Itu salah satu yang bisa memberikan rasa nyaman di otak,” jelasnya.

Meski begitu, hal ini bukan berarti memberikan makanan atau suplemen tertentu secara otomatis akan membuat anak lebih tenang atau lebih pintar. Hubungan antara mikrobiota, perkembangan otak, dan fungsi kognitif anak masih terus diteliti.

Lalu, Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Usus Anak?

Ilustrasi camilan sehat untuk anak. Foto: Shutter Stock

Karena mikrobiota menjadi salah satu bagian dalam gut-brain axis, menjaga pola makan anak tetap beragam dan seimbang menjadi penting.

Namun, orang tua tidak perlu buru-buru memberikan berbagai jenis probiotik, prebiotik, atau suplemen hanya karena ingin menjaga kesehatan usus dan otak anak.

Kebutuhan nutrisi setiap anak berbeda. Yang terpenting adalah memastikan anak mendapatkan makanan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhannya ya, Moms.