Kumparan Logo

Karhutla Berkepanjangan Bisa Picu Kelelahan Mental pada Ibu, Ini Kata Psikolog

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu sedih, stres dan kehilangan jati diri. Foto: aslysun/Shuttterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu sedih, stres dan kehilangan jati diri. Foto: aslysun/Shuttterstock

Karhutla di Kalimantan yang tak kunjung mereda bukan hanya berdampak pada kualitas udara dan kesehatan fisik keluarga, tetapi juga bisa menjadi beban psikologis ibu. Di tengah kondisi udara yang memburuk, ibu harus berupaya melindungi anak agar tetap sehat, meski ruang geraknya terbatas dan situasi di luar rumah sulit dikendalikan.

Ketika anak mulai sakit, aktivitas sehari-hari terganggu, hingga kegiatan belajar harus dilakukan dari rumah, beban yang dirasakan ibu bisa semakin berat. Apalagi, ibu kerap menjadi sosok yang diandalkan untuk menjaga kondisi emosional keluarga, sekaligus memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.

Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi.,Psikolog menjelaskan, dalam perspektif Teori Sistem Keluarga, ibu berfungsi sebagai pengatur emosi utama di rumah. Karena itu, ketika keluarga menghadapi situasi penuh tekanan seperti karhutla berkepanjangan, ibu berpotensi mengalami tekanan psikologis yang besar.

“Dalam situasi berisiko seperti Karhutla yang berkepanjangan, sementara sumber daya untuk menghadapinya minim, pilihan teras begitu sempit atau terbatas, maka tekanan psikologis yang dialami ibu potensial menjadi begitu besar," ujar Roslina saat dihubungi kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Beban Ibu Bisa Berlipat saat Keluarga Ikut Sakit

Ilustrasi Anak Demam Foto: Thanes.Op/Shutterstock

Tekanan yang dialami ibu bisa semakin berat ketika anak atau pasangan turut jatuh sakit akibat kondisi lingkungan. Pada saat yang sama, ibu tetap perlu mengurus kebutuhan rumah tangga, mendampingi anak, dan berusaha menjaga agar seluruh anggota keluarga tetap aman.

Kondisi ini berkaitan dengan role overload, yaitu situasi ketika tuntutan peran yang harus dijalani seseorang terasa melampaui kapasitas dan sumber daya yang dimilikinya.

Dalam situasi karhutla, ibu juga menghadapi dilema. Di satu sisi, ada dorongan kuat untuk melindungi anak dari paparan asap. Namun, di sisi lain, ibu tidak memiliki kendali penuh untuk memperbaiki kualitas udara di lingkungan tempat tinggalnya.

Roslina menjelaskan, kondisi ketika usaha untuk melindungi anak terus terbentur oleh situasi yang tidak kunjung membaik dapat memunculkan perasaan tidak berdaya.

“Nah, ketika usaha proteksi maksimal ibu terbentur oleh lingkungan yang tak kunjung membaik, muncul perasaan tak berdaya atau ‘Learned Helplessness’." tambah Roslina.

Learned helplessness merupakan kondisi ketika seseorang merasa tidak mampu mengubah keadaan yang terus-menerus menimbulkan tekanan. Dalam konteks ini, ibu mungkin sudah berusaha membatasi aktivitas anak di luar rumah dan melakukan berbagai upaya perlindungan, tetapi tetap merasa cemas karena ancaman kabut asap belum juga mereda.

Waspadai Kelelahan Emosional pada Ibu

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Shutterstock

Jika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa dukungan dan kesempatan untuk memulihkan diri, ibu juga berisiko mengalami kelelahan emosional kronis atau parental burnout.

Roslina menjelaskan, kondisi tersebut dapat muncul ketika ibu terus menghadapi pertentangan antara tuntutan untuk melindungi anak dan keterbatasannya dalam mengendalikan situasi.

Dalam kondisi seperti ini, penting untuk memahami bahwa ibu juga membutuhkan perlindungan dan dukungan. Upaya menjaga kesehatan anak di tengah karhutla tidak seharusnya membuat kebutuhan emosional ibu diabaikan.

Dukungan pasangan dan keluarga, misalnya dengan berbagi tanggung jawab pengasuhan serta pekerjaan rumah tangga, dapat membantu meringankan beban yang dirasakan ibu. Memberi ruang bagi ibu untuk beristirahat dan menyampaikan kecemasannya tanpa dihakimi juga menjadi bagian penting dari dukungan tersebut.

Sebab, di tengah situasi yang tidak mudah dikendalikan, ibu tidak harus menghadapi seluruh beban seorang diri. Menjaga kesehatan keluarga juga berarti memastikan ibu memiliki ruang untuk menjaga dirinya sendiri.