Kenapa ADHD Lebih Banyak Terdeteksi pada Anak Laki-laki? Ini Penjelasannya

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) lebih sering terdiagnosis pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Tapi, apakah artinya anak laki-laki memang lebih banyak mengalami ADHD?
Menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, P.si., ada pengaruh gender dalam pola ADHD yang terdiagnosis pada anak. Salah satunya berkaitan dengan bagaimana gejala ADHD muncul dan terlihat dalam keseharian.
“Betul, ada pengaruh gender. Prevalensi ADHD lebih sering terdiagnosis pada anak laki-laki,” ujar Roslina saat dihubungi kumparanMOM, Rabu (30/9).
Gejala ADHD pada Anak Laki-laki Lebih Mudah Terlihat
Pada anak laki-laki, gejala ADHD rata-rata lebih sering muncul dalam bentuk perilaku yang terlihat secara eksternal. Misalnya, hiperaktif, impulsif, hingga kesulitan mengendalikan perilaku.
Karena perilakunya lebih mudah terlihat, orang tua maupun orang-orang di sekitar anak dapat lebih cepat menyadari adanya pola yang berbeda dan mencari bantuan profesional.
“Pada anak laki-laki, gejalanya rata-rata lebih sering tampil eksternal (seperti: hiperaktif, impulsif, sulit mengendalikan perilaku yang seringkali tampil dalam tipe Hyperactivity Impulsivity Type atau Combine Type) sehingga lebih mudah terlihat,” tambah Roslina.
Berbeda dengan anak laki-laki, menurut Roslina, ADHD pada anak perempuan dapat lebih dominan berupa inattention atau kesulitan memusatkan perhatian.
Anak juga bisa tampak sering melamun, kesulitan mengorganisasi diri, atau menggunakan strategi kompensasi. Dalam setting klinis, Roslina menyebut ADHD pada anak perempuan lebih sering berada dalam tipe Predominantly Inattentive.
Akibatnya, gejalanya mungkin tidak selalu terlihat sebagai perilaku yang mengganggu atau menonjol. Inilah salah satu hal yang dapat membuat ADHD pada anak perempuan lebih mudah luput dari perhatian.
Jadi, Apakah Anak Laki-laki Lebih Banyak Mengalami ADHD?
Lebih banyaknya diagnosis ADHD pada anak laki-laki tidak serta-merta berarti seluruh perbedaannya hanya disebabkan oleh jumlah anak yang mengalami ADHD.
Roslina menjelaskan bahwa sebagian perbedaan prevalensi kemungkinan mencerminkan perbedaan biologis sekaligus perbedaan pola perilaku eksternal.
Dengan kata lain, cara gejala ADHD muncul pada anak dapat memengaruhi seberapa mudah kondisi tersebut dikenali dan kemudian terdiagnosis.
Karena itu, mengenali ADHD bukan hanya dengan melihat apakah anak hiperaktif atau sulit diam. Kesulitan memusatkan perhatian, sering melamun, hingga kesulitan mengorganisasi diri juga dapat menjadi bagian dari pola yang perlu diperhatikan.
Jadi, Moms, jika orang tua melihat pola perilaku atau kesulitan perhatian yang menetap dan mengganggu keseharian anak, konsultasi dengan profesional dapat membantu mendapatkan pemahaman yang lebih tepat.
