Konten dari Pengguna

AI dan Masa Depan Dunia Kerja: Teman Baru atau Pengganti Manusia?

Adit Imam Al-farizi

Adit Imam Al-farizi

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adit Imam Al-farizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi dengan bantuan AI oleh Penulis
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi dengan bantuan AI oleh Penulis

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Jika sebelumnya AI hanya dianggap sebagai teknologi canggih, sekarang AI sudah digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari membantu menulis, mencari informasi, membuat gambar, hingga membantu menyelesaikan pekerjaan.

Kehadiran AI kemudian menimbulkan pertanyaan baru, terutama bagi generasi muda yang nantinya akan memasuki dunia kerja. Apakah AI akan menjadi teman yang membantu manusia bekerja atau justru mengambil alih pekerjaan manusia?

AI sebagai Teman Baru di Dunia Kerja

Sama seperti ChatGPT yang dapat membantu mahasiswa memahami materi atau mencari ide tugas, AI juga dapat menjadi alat bantu bagi pekerja. AI bisa digunakan untuk mengolah informasi, membuat rancangan tulisan, menganalisis data, hingga membantu pekerjaan yang membutuhkan proses berulang.

Dengan bantuan tersebut, manusia dapat menghemat waktu dan lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas serta pengambilan keputusan. Namun, penggunaan AI bukan berarti manusia tidak lagi dibutuhkan. AI tetap membutuhkan manusia untuk memberikan arahan, memeriksa hasil, dan menentukan apakah informasi yang diberikan benar atau sesuai dengan kebutuhan.

Apakah AI Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia?

Kekhawatiran mengenai AI yang menggantikan manusia memang semakin sering dibicarakan. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan perubahan teknologi akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dunia kerja hingga 2030.

Di sisi lain, perkembangan AI juga dapat menciptakan jenis pekerjaan dan kebutuhan keterampilan baru. Artinya, perubahan akibat AI tidak hanya berbicara mengenai pekerjaan yang hilang, tetapi juga pekerjaan yang berkembang dan keterampilan baru yang dibutuhkan.

Karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan teknologi.

Kemampuan Manusia Tetap Penting

Kemampuan seperti berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi tetap memiliki peran penting. Teknologi dapat membantu manusia mengerjakan sesuatu, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Hal ini juga sejalan dengan pandangan UNESCO yang mendorong penggunaan AI secara aman, etis, dan berpusat pada manusia dalam pendidikan maupun kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, AI mungkin bukan sekadar teknologi yang akan menggantikan manusia. AI justru dapat menjadi “teman baru” manusia dalam bekerja, selama digunakan dengan bijak. Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia akan bekerja bersama AI, tetapi seberapa siap manusia belajar dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Sumber: World Economic Forum. The Future of Jobs Report 2025.

UNESCO. Guidance for Generative AI in Education and Research.