Generasi Muda dan Dunia Kerja: Apakah Kuliah Masih Menjadi Satu-Satunya Jalan?

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adit Imam Al-farizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak anak muda, kuliah masih dianggap sebagai salah satu langkah utama untuk mendapatkan pekerjaan dan membangun masa depan. Namun, dunia kerja saat ini semakin berubah. Perusahaan tidak hanya mencari seseorang berdasarkan pendidikan formal, tetapi juga mempertimbangkan keterampilan, pengalaman, kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi.
Perubahan tersebut membuat generasi muda memiliki pertanyaan baru: apakah ijazah saja masih cukup untuk menghadapi dunia kerja?
Dunia Kerja Terus Berubah
Perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, kondisi demografi, dan perubahan kebutuhan industri ikut membentuk dunia kerja global. World Economic Forum memperkirakan bahwa hingga 2030, berbagai perubahan tersebut dapat menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan dapat terdampak hingga mengalami perpindahan atau hilangnya kebutuhan terhadap peran tersebut. Secara keseluruhan, laporan tersebut memperkirakan pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan.
Artinya, dunia kerja bukan sekadar tentang mencari pekerjaan yang sudah ada sekarang. Generasi muda juga perlu mempersiapkan diri untuk pekerjaan yang mungkin berkembang di masa depan.
Kuliah Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Bekal
Pendidikan formal tetap memiliki peran penting. Kuliah dapat memberikan pengetahuan, pengalaman organisasi, jaringan pertemanan, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan. Namun, pendidikan formal perlu dilengkapi dengan keterampilan yang relevan.
World Economic Forum mencatat bahwa keterampilan yang dibutuhkan pekerja terus berubah. Kemampuan teknologi memang semakin penting, tetapi kemampuan seperti berpikir kreatif, ketahanan diri, fleksibilitas, dan kepemimpinan juga tetap dibutuhkan.
Tantangan Generasi Muda Tidak Sedikit
Mendapatkan pekerjaan yang baik juga bukan perkara mudah. ILO mencatat bahwa pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 67 juta anak muda yang menganggur secara global, sementara sekitar 20% anak muda berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak bersekolah, atau tidak mengikuti pelatihan (NEET).
Pada akhirnya, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh tempat seseorang kuliah atau gelar yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan untuk terus berkembang menghadapi perubahan.
Sumber: World Economic Forum, The Future of Jobs Report 2025.
International Labour Organization, World Employment and Social Outlook: Trends 2025.
International Labour Organization, Global Employment Trends for Youth 2024.
ILO, Skills for youth employment.
