Media Sosial: Teman yang Selalu Ada atau Justru Membuat Kita Terlalu Bergantung?

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adit Imam Al-farizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial kini hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur, membuka media sosial. Saat sedang menunggu sesuatu, scrolling. Bahkan sebelum tidur pun terkadang masih melihat berbagai konten yang muncul di layar. Media sosial memang memberikan banyak kemudahan. Kita bisa mendapatkan informasi, berkomunikasi dengan orang yang jauh, mencari hiburan, bahkan belajar berbagai hal baru.
Namun, semakin sering digunakan, muncul pertanyaan: apakah kita yang menggunakan media sosial, atau justru media sosial yang mulai mengatur kebiasaan kita? Media Sosial Sudah Menjadi Bagian dari Kehidupan.
Platform digital membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Seseorang bisa mengetahui kabar temannya tanpa harus bertemu secara langsung. Informasi dari berbagai tempat di dunia juga dapat diketahui hanya dalam beberapa menit.
Hal tersebut membuat media sosial memiliki sisi positif yang besar. UNICEF juga mencatat bahwa media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar, berkomunikasi, bermain, dan mengekspresikan diri.
Ketika Scrolling Sulit Dihentikan
Masalahnya muncul ketika penggunaan media sosial mulai sulit dikendalikan. Notifikasi, video pendek, komentar, dan berbagai konten yang terus muncul dapat membuat seseorang terus membuka aplikasi. WHO melaporkan bahwa dalam survei terhadap hampir 280.000 remaja di 44 negara dan wilayah di Eropa, Asia Tengah, dan Kanada, 11% menunjukkan tanda penggunaan media sosial yang bermasalah pada 2022, meningkat dari 7% pada 2018.
Angka tersebut bukan berarti semua pengguna media sosial mengalami masalah. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan media sosial perlu diperhatikan.
FOMO dan Tekanan Mengikuti Tren
Media sosial juga membuat seseorang lebih mudah mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain. Teman sedang berlibur, seseorang membeli barang baru, atau sebuah tren sedang ramai dibicarakan. Tanpa sadar, kita bisa merasa harus ikut agar tidak tertinggal.
Perasaan seperti takut ketinggalan informasi atau tren sering disebut FOMO (Fear of Missing Out). Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan seseorang.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan kita, bukan sesuatu yang mengendalikan kehidupan kita.
Sumber: WHO, Teens, screens and mental health (2024).
WHO, A focus on adolescent social media use and gaming (2024).
UNICEF, Social media – Turning clicks into conversations.
