Foto: Lansia Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot Tengah Sawah Kudus

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ngatini (80), lansia asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjalani hari-harinya seorang diri di sebuah gubuk reyot di tengah area persawahan. Selama lebih dari 10 tahun, ia bertahan hidup tanpa anak maupun keluarga yang mendampingi.

Gubuk berukuran sekitar 2 x 3 meter itu berada di RT 9/RW 1, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Bangunan tersebut didirikan oleh kepala desa setempat, sementara tanah yang ditempatinya merupakan milik warga sekitar yang memperbolehkan Ngatini tinggal di sana karena merasa iba dengan kondisinya.

Dari luar, kondisi gubuk tampak memprihatinkan. Tumpukan botol plastik bekas terlihat memenuhi halaman. Atap bangunan sudah berlubang, sedangkan dinding yang terbuat dari anyaman bambu telah rusak dan berlubang di sejumlah bagian. Lantai gubuk pun masih berupa tanah.

Di tengah persawahan yang ditanami pohon pisang dan bibit tebu, Ngatini menjalani kesehariannya seorang diri.

"Saya tinggal sendirian di sini. Memilih di sini ya mau bagaimana lagi karena tidak punya saudara, tidak punya anak. Istilahnya saya di sini ngenger (dibantu orang)," kata Ngatini, Kamis (8/10).

Setiap malam, Ngatini mengandalkan aliran listrik dari tetangga untuk menerangi gubuknya. Saat malam tiba, ia harus menghadapi gigitan nyamuk. Ketika hujan deras dan angin kencang datang, ia tetap bertahan di dalam gubuk yang dindingnya tidak lagi mampu menutup rapat.

Ngatini (80) duduk termenung di gubuknya yang sederhana di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (8/10). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Ngatini mengandalkan bantuan dari warga sekitar. Sesekali, ia juga mendapatkan makanan atau minuman dari karyawan toko retail modern di sekitar tempat tinggalnya.

Sementara untuk mandi, ia menumpang di rumah tetangga.

"Kalau mandi nebeng tetangga dekat sini," ujarnya.

Bantuan berupa beras juga kerap diterimanya. Namun, Ngatini mengaku tidak mengetahui pasti bantuan tersebut berasal dari instansi mana. Selain itu, warga yang mengenalnya terkadang datang memberikan beras secara langsung.

Meski hidup dalam keterbatasan, Ngatini mengaku tetap merasa nyaman tinggal di gubuk tersebut. Ia bahkan menolak jika harus dipindahkan ke tempat yang lebih layak.

"Saya tetap nyaman di sini, tidak mau pindah walaupun kondisinya seperti ini," tuturnya.

Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, Ngatini sesekali mengumpulkan botol plastik bekas yang ditemukannya saat berjalan di sekitar lingkungan. Botol-botol tersebut kemudian dikumpulkan di halaman gubuk untuk dijual.

"Kalau saya sedang jalan dan nemu botol plastik saya ambil saya kumpulkan untuk dijual sedapatnya," ungkapnya.

Penghasilan dari menjual botol plastik bekas itu tidak menentu. Dalam sekali penjualan, ia biasanya hanya mendapatkan sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Uang tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

"Saya tidak jual kiloan, seadanya saja di rumah. Biasanya pembeli datang ke sini, terkadang ngasih Rp10 ribu sampai Rp15 ribu," imbuhnya.