Konten dari Pengguna

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia, Jilid Penutup

Aditia Rizki Nugraha

Aditia Rizki Nugrahaverified-green

Petrichor.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditia Rizki Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia, Jilid Penutup
zoom-in-whitePerbesar

SMP L(Sudah Makan Pergi Latihan)

"Bola basket selalu menjadi cinta pertamaku, aku mencintai permainan itu. Aku bermain hampir setiap hari dan terkadang lebih dari itu. Aku menikmati setiap menit dan detiknya." Jo Jo White, guard Boston Celtics medio 1969. Sekitar sembilan bulan lalu, Aditia Nugraha, sempat membuat sebuah cerbung (cerita bersambung) tentang bagaimana ia yang sedari bocah menggemari sepak bola dan segala hal yang bersangkutan dengan olahraga itu. Saat itu, sembilan bulan lalu, cerbung Aditia--yang belakangan ini ingin dipanggil Coach untuk membahagiakan dirinya sendiri agar bisa mengenang beberapa hal mengasikan--sampai disebuah kisah tentang kompetisi Tarkam (Antar Kampung) yang mengantarkannya berkunjung ke Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Namun, siapa sangka dan siapa yang mau menyangka saat itu, jika laga pertamanya di Ibu Kota menjadi laga terakhirnya merasakan sebuah kompetisi sepak bola (dalam arti yang sebenar-benarnya kompetisi). Saat itu, dia sudah duduk di kelas enam Sekolah Dasar (SD) dan memutuskan melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sialnya tidak memiliki ekstrakulikuler sepak bola (ada, sih, kegiatan sepak bola di luar sekolah, tapi itu di luar tanggung jawab sekolah, hanya SSB yang dikelola oleh guru olahraga, yang sialnya lagi, guru itu sudah kepalang menjadi musuh Coach karena dulu melarang siswa memiliki gaya rambut mohawk tipis--enggak mohawk banget, sedikit, hanya tipis sedikit di sisi). Alhasil, Coach enggan ikut serta di kegiatan bola yang dinaungi langsung oleh--kita sebut saja Pak Devi. Mengakali keinginannya untuk berolahraga, karena saat itu kemampuan akademiknya hanya sebatas mengeja angka dari 1-10 dengan Bahasa Inggris. Coach bergabung dengan ekskul bola basket, olahraga yang baru ia kenal di tahun 2007. Kebetulan, Coach punya teman dekat yang juga suka basket dan di 2007 itu ia menonton laga basket pertamanya di TV antara Boston Celtics dan lupa lawannya apa, katabya. Yang kemudian Celtics itu sendiri menjadi tim favoritnya sampai akhir hayat, aamiin. Memang cukup mudah untuk Coach mencintai, menggemari, dan mengidolai sebuah klub hanya lewat satu tatapan dan tontonan, sama halnya ketika ia mencintai AC Milan untuk pertama kali pada final Liga Champions 2003. Sayangnya, itu tidak berlaku kepada percintaannya di masa ia mendekati akhil baligh dan lewat akhil baligh. Tapi, woy, beda konteks. Di 2007 itu, Celtics kebetulan juara NBA (ada Ray Allen, Rajon Rondo, Kevin Garnet, dan Paul Pierce). Pikir Coach saat itu: Mungkin sudah saatnya banting setir jadi atlet basket. Tak butuh waktu lama, tepatnya di kelas dua SMP, Coach mulai meniti karier (belajar cara main basket). Singkat cerita, sudah beberapa bulan ia berlatih--ya kalau diceritakan, latihan basket begitu saja, latihan dribel dulu, baru cara menembak, dan paling sulit layup, bung! Traveling lagi, traveling lagi, kapan main basketnya. Coach pun mengikuti kompetisi pertamanya sesaat sebelum naik ke kelas tiga. Laga perdanannya Porseni Kabupaten dan akhirnya kalah di tangan sekolah asal kota. Memasuki kelas tiga, sebagai senior, Coach kian getol bermain basket, bukan hari latihan pun ia dan kawan-kawannya sering kali melakukan latihan tambahan. Basket jadi cinta keduanya setelah sepak bola--tapi juga kesenangan pertamanya di sekolah menegah. Dari basket itu, Coach mulai kembali sering ikut sebuah kompetisi, kali ini di level sekolah menengah. Tapi, ya, begitu. Kekalahan selalu menghiasi jalannya karier Coach sebagai siswa yang mengikuti ekskul bola basket--kalah tidak masuk final dan tidak menjuarai kompetisi. Sampai-sampai pada satu laga, pernah, Coach dan kawan-kawannya menggunakan aksi mitos untuk meraih sebuah kemenangan. Saat itu, pada sebuah kompetisi di SMA Negeri 1 Sukabumi, Coach dkk. berempug, mendiskusikan bahwa semua anggota tim hari itu akan menggunakan celana dalam dengan posisi di balik (celana dalam terbalik). Sebuah mitos yang tersohor sangat di masa Coach menjadi pemain ekskul basket. Tanpa ada tawar-menawar keputusan sudah ditetapkan. Jelang pertandingan berlangsung, Coach dkk. bergantian masuk kamar mandi untuk mengganti posisi celana dalam mereka. Ajaibnya, di laga perdana mereka saat itu, Coach dkk. berhasil meraih kemenangan, ini entah tim lawannya tak bagus-bagus amat atau memang mitos celana dalam terbalik memang benar adanya. Namun, melihat hasil pertandingan selanjutnya, mitos itu rasanya tidak benar-benar berlaku saat menghadapi tim yang memiliki kualitas jauh di atas kita. Begitu juga yang dirasakan Coach dan kolega. Nihil kemenangan di laga kedua menggunakan celana dalam terbalik, apalagi menghadapi tim yang jelas-jelas punya sejarah jadi jawara. Tapi, dengan membalikkan celana dalam di laga itu, Coach dkk. punya alasan untuk berdalih: 'Celana dalamnya bukan yang kemaren dipake!". Setelah sadar dari permitosan celana dalam, Coach dkk. mulai lebih giat berlatih, terlebih pada tahun terakhirnya di SMP, Coach cs. ingin memberikan gelar juara sebagai oleh-oleh untuk sekolah. Sampailah mereka di kompetisi terakhir pada tingkat SMP. Beruntungnya Coach bermain di markas sendiri, di Cibadak, di lapangan basket SMP MY Cibadak, di Jalan Pelabuhan Ratu, Kab. Sukabumi. Saat itu Coach bersekolah di SMP 1 Cibadak atau akrab disapa Z-VIR (Z(S)erdadu Vinggir Rumah Sakit)--karena SMP Coach ada di seberang Rumah Sakit Siliwangi dan harusnya, sih, disapa Z-DIR (Z(S)erdadu Depan Rumah Sakit).

Oh, ya, kata Coach ada juga julukan lain untuk sekolahnya dulu. STOENDAK (SMP Negeri Satoe Cibadak), mungkin dedengkot seklah Coach dulu adalah seorang pemerhati sejarah yang ingin melestarikan bahasa zaman old. Ntaps! Sebuah keuntungan tentunya bermain di daerah sendiri (ya, kalo kalah minimal anggkot carteran SMP lawan bisa jadi sasaran amuk massa). Tapi, untungnya sekolah Coach bisa melenggang hingga babak final, Bung! Melawan SMP 1 Cicurug--yang sialnya banyak dari anggota SMP itu menjadi kawan Coach di SMA 1 Cicurug nanti--sekolah yang bergelimangan gelar basket di tingkat kabupaten-kota. "Dasar anak kampung," kata Coach mengulang salah satu ucapan pemain SMP lawan ketika laga final. Wah, psywar, Bung! Tapi, mendengar cerita Coach soal tampilan mereka ketika bertanding, sih, agak cocok rasanya disebut kampungan. Sepatu anggota tim Coach beragam, beragam merk dan jenis. Ada yang menggunakan sepatu basket, sepatu sekolah (merk Warrior, Piero dll). Soal aksesoris pun tak kalah mencolok, handband warna kuning dipakai di lengan dekat siku, mirip-mirip Michael Jordan-lah. Seandainya laga itu bukan soal mencari poin terbanyak, tim Coach mungkin bisa meraih juara pertama bahkan sebelum kompetisi dimulai. Sayangnya, permainan basket adalah permainan lima lawan lima dalam 10 menit dikali empat dengan cara memasukkan bola ke keranjang lawan sebanyak-banyaknya. Jadi, Coach dkk. jelas kalah jauh soal kualitas melakukan ini. Sekali lagi, Coach dkk. harus menerima sebuah kekalahan, bedanya kali ini mereka kalah dalam sebuah laga final setelah berkali-kali ikut kejuaraan. Trofi bertuliskan Juara II CSB (Cibadak Strret Ball) resmi direngkuh oleh tim basket sekolah Coach dkk. yang merupakan satu-satunya trofi Coach di masa sekolah, karena siapa yang menyangka, dan siapa juga yang mau meyangka lagi, Coach akan berhenti main basket selama dua hampir tiga tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA). Coach, sih, katanya sudah pernah ikut latihan di SMA 1 Cicurug tempat ia ber-SMA dulu. Tapi, seperti yang pernah diceritakan Coach tadi. Di SMA itu nyatanya diisi oleh lawan-lawan Coach di final CSB Cup. Wah, kata Coach, sih, suasananya kaku sangat, apalagi pelatih di sana ternyata adalah pelatih dari lawan Coach di CSB Cup. Dua kali saja dia ikut latihan sebelum akhirnya memantapkan pilihan untuk resign sebagai student athlete. Tapi, ya, begitu, cinta pertama biasanya sulit dilupakan, begitupun yang dirasakan oleh Coach saat tidak ikut ekskul basket di SMA. Mau ikut futsal, aduh sudah kadung tidak mengasah skill bermain bola yang ia tinggalkan untuk bola basket. Namun, begitulah cinta pertama, kata Coach dia kerap kali bermain basket di sela-sela waktu istirahat atau ikut 'nimbrung' bersama rekan-rekan lain yang iseng shooting-shooting bola basket sehabis pulang sekolah.

*** Coach tinggal beberapa minggu lagi lulus dari SMA, saat itu sekolahnya yang memang punya hajat tahunan menyelenggarakan kompetisi basket tingkat SMA melakukan sleksi kembali untuk mencari skuat sebagai tim kedua (lapis a.k.a pengisi kuota peserta). Kesempatan itu, jelas betul menggugah keinginan Coach untuk ikut serta. Kapan lagi, sebelum lulus SMA bisa ikut kompetisi, pikir Coach, sebuah pemikiran sederhana remaja yang ingin unjuk gigi--siapa tahu bisa menarik perhatian lawan jenis yang diincar, ditarget, diidamkan, didoakan, sebelum akhirnya diikhlaskan. Coach pun ikut seleksi, kemudian lolos dan tergabung di tim lapis dua SMA 1 Cicurug. Dengan jersey biru-biru bertuliskan SMANSA, Coach dkk. barunya di tim lapis legit (dua) memulai sebuah kompetisi (yang jadi kompetisi pertama dan terakhir Coach di SMA). Ya, namanya lapis dua, sekadar pemanis, materi pemain seadanya, di grup tim Coach berada, mereka jadi target empuk bagi lawan mendulang poin. Ya, namanya juga tim pelengkap kuota peserta, menang syukur, kalah mau bagaimana lagi, Bung? Sudah main saja bersyukur. Kompetisi pertama dan terakhir Coach di tingkat SMA pun berakhir hanya dengan rasa menyenangkan, tak puas, pun tak kecewa. Kalau diibaratkan, laga itu adalah game sore-sore yang dimainkan hanya untuk mencari keringat. Namun, kompetisi itu sebenarnya menjadi cara Coach untuk menentukan kemana ia mau melangkah selanjutnya. Setelah lulus SMA, Coach memutuskan merantau ke arah timur, jauh sekali dari Sukabumi. Dengan bermodalkan tes tulis dan fisik di Bogor dan Jakarta. Coach akhirnya lolos ke salah satu perguruan tinggi di Kota Gudeg di jurusan Kepelatihan Olahraga. Tapi, memang dasarnya coba-coba, Coach yang tidak tahu-menahu soal jurusan ini kaget lantaran kuliah yang ia jalani hanya diisi dengan lari-larian, berenang, main basket, main bola, dan beragam jenis olahraga lain selama hampir delapan semester dan akhirnya terhenti di semester sembilan ketika ia harus memaksa dirinya lulus. Coach memang asal memilih jurusan, yang penting kuliah jadi sarjana, kerja, beres. Tapi, ia sadar tak jika pilihannya mengambil jurusan itu membawanya menuju beragam pemahaman. Coach memang mengambil jurusan kepelatihan, bodohnya lagi ia mengambil konsenterasi basket. Tapi kata Coach, pilihan itu adalah pilihan paling rasional karena olahraga yang terakhir kali ia mainkan adalah basket saat berkompetisi dengan tim lapis legit di SMA. Coach sempat ingin kembali pada cinta pertamanya, sepak bola, dan mendalaminya sedalam mungkin. Entah sebagai pemain atau pelatih. Namun, cinta pertama memang tak harus selalu dimiliki, terkadang ia hanya bisa dikenang dan Coach memilih untuk mengenangnya dengan hanya sesekali bermain sepak bola atau futsal yang kian populer dan mendalami cinta pertamanya di masa SMP, bola basket.

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia, Jilid Penutup (1)
zoom-in-whitePerbesar

Di tingkat perguruan tinggi, Coach paham dirinya tidak lagi bisa bersaing, meski sempat berhasrat dan giat berlatih di dua tahun pertamanya. Coach paham, kemampuannya tidak lagi bisa berkembang dengan pengalaman gerak dan bertanding yang sangat minim ketimbang rekan dan rival saingannya untuk masuk tim utama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), oleh karenanya dia hanya mengikuti kompetisi antar-kelas, antar-fakultas untuk merasakan sebuah atmosfer kompetisi. Untuk beberapa kali, Coach bilang sempat menyesal mengambil konsenterasi ini dan tidak pindah ketika ada kesempatan. Namun, ia ditampar keras-keras oleh pemahaman lain ketika ia mulai menceburkan diri ke dalam dunia melatih sesungguhnya. Pilihannya merelakan cinta pertama (sepak bola) dan memperjuangkan cinta pertama masa SMP-nya memberikannya ilmu baru dan uang untuk bertahan hidup di Kota Gudeg yang istimewa. Dua tahun berkuliah, Coach akhirnya mendapat tawaran untuk melatih sebuah SMP di Jl. Doktor Sutomo No.16, Baciro, Gondokusuman, dekat Stasiun Lempuyangan, SMP Kanisius Gayam kata Coach namanya. Saat itu, Coach masih berstatus jomblo dan mahasiswa semester empat. Dan pada hari pertamanya melatih, Coach akhirnya benar-benar merasakan untuk pertama kalinya dipanggil Coach dalam arti yang sesungguhnya oleh anak didik (student athlete). Namun, euforia itu buyar lantaran Coach justru kebingungan memberikan materi latihan apa di hari pertamanya melatih. Kata Coach, mensiasati kebingungannya saat itu, anak didiknya hanya diminta bermain kucing-kucingan. Kata Coach lagi, saking buntunya saat itu, ia hanya ingat satu kata pelatihnya di kampus, Pak Budi Aryanto, "Mbonten enten pelatih sing sempurno." Berangkat dari situ, Coach memulainya dari nol, memulai latihan untuk anak didik barunya dan memulai dari nol untuk mencari ilmu melatih. Tak ada halangan berarti bagi Coach di latihan-latihan berikutnya, hanya saja kuota siswa yang kian banyak mengikuti ekskul basket membikin Coach cukup kewalahan sehingga meminta izin agar sekolah menambah satu kuota pelatih anyar, untuk ini Coach punya alasan lain--untuk mengajak rekannya yang lain mendapat penghasilan agar bisa bertahan hidup dan membeli rokok ketengan di warung Burjo. Ahkhirnya bergabunglah Riskan sebagai rekan Coach di SMP Kanisius Gayam basketball academy dengan moto: Kanisius Gayam, Bisa! Rizkan, berhubung satu rumpun dengan Coach, cukup cair dan mudah berdiskusi dengannya, sehingga tanpa berlama-lama mereka membentuk duet pelatih anyar di Kota Gudeg dengan julukan 'Duo Somplak'. Karena menang kalah, tertawa selalu jadi candu yang tak pernah hilang di ruang ganti pemain atau lapangan saat latihan. Sekitar tiga bulan melatih bersama, Coach dan Riskan menjalani kompetisi pertama mereka sebagai pelatih di sebuah komptisi, penyelenggaranya SMA Kollse de Britto. Lawan mereka saat itu adalah SMP Budya Wacana. Kata Coach, di laga pertama saja sudah bertemu tim kuat dengan pemain-pemain yang tinggi melebih pelatih mereka. Masalahnya, mereka masih SMP, Bung! Dengan tim yang baru berusia kurang lebih tiga bulan, Coach dan Riskan menjalani laga perdana yang pada akhirnya berujung pada kekalahan. Skornya pun tak tanggung-tanggung, SMP Kanisius Gayam besutan Coach dihajar 71-2.

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia, Jilid Penutup (2)
zoom-in-whitePerbesar

Tak hanya skor 71-2 yang membikin Coach dan Riskan justru tertawa, tapi juga salah satu pemain SMP BW malah berhasil melakukan dunk dan sialnya Coach juga Riskan menyaksikan dengan jelas proses dunk itu. Edan! Sembari geleng-geleng kepala dan tertawa, begitu ekspresi mereka, kata Coach. Usai laga, Coach dan Riskan sadar betul kekalahan ini bukanlah salah para pemain. Sudah jelas, di laga perdana ini, membentuk mental dan pengalaman bermain serta pembendaharaan gerak adalah fokus utama yang ditekankan Coach saat itu. Di laga perdana, mereka pulang tanpa penyesalan. Usai laga itu, Coach melanjutkan profesinya sebagai pelatih bersama rekannya, Riskan, masih di SMP Kansisius Gayam dekat Lempuyangan. Selama hampir satu tahun melatih, Coach dan timnya masih nihil kemenangan dari berbagai kompetisi yang diikuti. Hingga akhirnya di tahun kedua, menjelang Coach kudu angkat kaki dari Kota Gudeg. Mereka bisa meraih kemenangan perdananya di sebuah kompetisi. Saat itu sebuah kejuaraan di GOR Klebengan dekat Fakultas Perikanan, mempertemukan SMP Kanisius Gayam dengan salah satu sekolah negeri (Coach lupa katanya SMP berapa). Di laga itu, hampir 70% pemain Coach sudah berlatih bersamanya selama dua tahun penuh dengan 30% di antaranya adalah pemain kelas satu yang baru berlatih beberapa bulan dan masih belum tahu mana traveling mana double. Saat itu, Coach punya pemain bernama Adit dengan tinggi cukup mumpuni 175 cm, berposisi center, serta Adi dan Carlos, pemain mungil dengan kecepatan dan kemampuan dribel paling ciamik di tim. Dipimpin mereka, Kanisius mampu mengakhiri laga dengan kemenangan 25-7. Sebuah laga yang pada akhirnya siapa disangka dan siapa yang mau meyangka, menjadi laga terakhir Coach sebagai seorang pelatih. Karena usai laga itu, satu bulan kemudian, Coach lebih dulu pamit angkat kaki dari Kota Gudeg sementara Riskan menyusul beberapa bulan kemudian.

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia, Jilid Penutup (3)
zoom-in-whitePerbesar

Coach sendiri sebetulnya sudah merangkap menjadi pelatih di sekolah lain, hanya saja di tingkat sekolah menengah, Coach menangani SMA 1 Mlati di daerah Sleman, belakang Terimnal Jombor, Condong Catur. Namun, Coach hanya berjodoh selama enam bulan saja di sana, tapi melatih tingkat menengah memang lebih menguras isi kepala Coach karena mereka sudah bermain dengan pola dan taktik yang lebih kompleks. Di sana, Coach pun mengaku merasa sangat terbantu untuk meng-upgrade pengetahuannya di dunia kepelatihan, mengatasi tim yang sedang di ambang kekalahan, mengatasi tim yang sedang kejar-kejaran angka hingga detik akhir kuarter empat. Di sana, Coach mengaku berterimakasih karena pernah merasakan sebuah kompetisi di mana penontonnya berteriak memberikan dukungan sepanjang pertandingan. Di sana pula, Coach menyesali karena tak pernah mencari kesempatan melatih di tingkat itu sedari lama atau setidaknya memberikan durasi lebih panjang pada kesempatan tersebut. Pada akhirnya, Coach sadar betul telah gagal menjadi seorang atlet bahkan mendekati menjadi atlet pun belum. Tapi, kekalahan 71-2 hingga kemenangan di pengujung waktunya di Kota Gudeg membikin dia berpikir, apakah dia sudah berhasil menjadi manusia? Mengingat hasil yang didapatkannya saat itu tak hanya berbentuk rupiah untuk sekadar membeli Mi Dok-dok atau Josua (Jos Susu) di Burjonan, melainkan pemahaman bagaimana memaki student athlete di tingkatan umur yang berbeda hingga berdoa dengan cara dan kepercayaan masing-masing dalam satu lingkaran untuk meminta keselamatan dan kemenangan di sebuah laga. Sudah lebih dari cukup untuk membuatnya yakin, telah menjadi manusia seutuhnya, setidaknya, sedikit banyaknya, untuk diri sendiri. Persembahan untuk Pak Danang guru olahraga SMP Kanisius, Bu Wiji bendahara dan TU-nya, Satrio, Danang, Adit (jangkung), Bagus, Bagus 2 (kecil), Ucok, Satrio, Carlos, Bagas, Adit 2 (kocak) dam semua anggota Kanisius bola basket akademi dekat Lempuyangan. Persembahan untuk SMA Mlati 1 dan maaf untuk janji kepada Revo, Awan, Yoga, Ijah, Sekar, Melani, dkk. lain yang tidak terpenuhi. Tamat, di Jakarta.