Konten dari Pengguna

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia

Aditia Rizki Nugraha

Aditia Rizki Nugrahaverified-green

Petrichor.

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditia Rizki Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia
zoom-in-whitePerbesar

Tahun 2008 menjadi awal saya jatuh cinta pada bola basket. Tanpa berniat mengkhianati sepakbola yang sejak umur lima tahun sudah saya mainkan di halaman rumah tetangga saya (karena rumah saya ga ada halaman belakangnya he-he).

Jikalau ditarik mundur, sekitar tahun 2000-an, saya mulai menendang si kulit bundar. Saya ingat betul bola pertama saya—orang-orang kampung saya menyebutnya bola bliter. Dengan jahitan kulit sintetis nyaris lebih terlihat seperti plastik. Namanya bocah, tak peduli bahan atau kualitas. Bola tetaplah bola.

Kegilaan saya terhadap bola terus berlanjut tanpa menemui halangan berarti. Gila bola saya kemudian berkembang dengan mencintai Timnas Sepakbola Indonesia dan Klub AC Milan.

Hampir setiap kali pertandingan Timnas disiarkan stasiun televisi, hampir setiap kesempatan itu pula saya duduk di sofa depan televisi dan mempersiapkan mata saya agar tak melewatkan satu momen pun di pertandingan itu.

Bagi saya, dulu sampai sekarang, mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan di stadion oleh puluhan ribu orang adalah penggetar hati terasyik. Sah-sah saja kalian menyebut saya cengeng karena menangis oleh hal semacam itu. Tapi bagaimanapun saya menerima dengan senang hati kecengengan saya untuk Indonesia.

Saya kembali teringat Piala Tiger (sekarang AFF Cup) pertama yang saya tonton. Tahun 2004 di mana Indonesia masih bisa membantai negara-negara Asia Tenggara hingga belasan gol.

Nama-nama seperti Ilham Jaya Kusuma, Kurniawan "Kurus" Dwi Yulianto, Hendro Kartiko menjadi pemain kejayaan Indonesia dulu. Kejayaan mereka saat saya berumur 6-10 tahun.

Gagal Jadi Atlet Berhasil Jadi Manusia (1)
zoom-in-whitePerbesar

Kekalahan Indonesia di final Piala Tiger 2004 adalah air mata pertama saya untuk sepak bola Indonesia. Saya ingat betul menangis di depan orang banyak (waktu itu televisi hanya ada di beberapa rumah saja di kampung saya). Mereka pun hanya mendiamkan saya karena mengerti kekalahan itu menyakitkan.

Belasan tahun berselang, puluhan pertandingan Indonesia tak sekalipun saya lewatkan walau harus menumpang di rumah tetangga atau hanya lewat layar handphone saat kehidupan di dunia semakin canggih.

Kembali ke masa kecil, impian saya mungkin tak jauh berbeda dari para pria penggila bola sedari bocah cilik. Menjadi pemain timnas adalah impian terbahagia saya saat itu. Untuk memenuhi hasrat impian, saya pun mulai serius bermain bola dengan ikut di salah satu sekolah sepak bola (SSB) di dekat kampung saya saat itu akhir 2004. Sepatu pertama saya adalah sepatu merk kappa, pemberian ibu hasil kerja kerasnya berdagang beberapa hari.

Sejumlah anak asyik bermain sepak bola. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah anak asyik bermain sepak bola. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Pelita Tunas, anak dari Tim Pelita Jaya yang saat itu bermarkas di Jakarta adalah tim yang saya bela untuk pertama kalinya di tingkat junior. Tim saya sendiri tidak berlatih di Jakarta, hanya cabang Pelita Jaya yang dibina oleh salah satu pengurusnya saat itu.

Awal tahun 2005 menjadi pengalaman pertama saya bermain dengan menggunakan sepatu bola. Sebelumnya saya hanya bermain dengan bertelanjang kaki atau menggunakan sendal tali merek hommyped pemberian kawan. Sembilan gol menyambut debut pertama saya yang dipasang sebagai second striker saat game 7 lawan 7 di latihan perdana saya. Selebrasi gol saya: melebarkan tangan ke samping membentuk sayap pesawat. Layaknya Montella saat membela AS Roma dulu.

Semenjak hari itu, saya semakin mencintai sepak bola.

Bersambung...