Konten dari Pengguna

Budaya Batal Janji di Kota Besar: Fenomena Baru Anak Muda Indonesia

Aditiya Duwi Kurniawan

Aditiya Duwi Kurniawan

Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditiya Duwi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang berjanji (sumber: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang berjanji (sumber: Pixabay)

Di kota-kota besar Indonesia, ada satu kebiasaan yang semakin sering terjadi: rencana hangout yang disusun panjang lebar tiba-tiba batal di menit terakhir. Grup WhatsApp sudah ramai sejak tiga hari sebelumnya, lokasi sudah ditentukan, bahkan menu sudah dibahas. Namun ketika hari itu tiba, satu pesan muncul: “Guys, aku kayaknya nggak jadi ya.”

Fenomena ini dikenal sebagai cancel plan culture budaya membatalkan janji di detik-detik akhir. Meski terdengar sepele, kebiasaan ini mulai membentuk pola sosial baru di kalangan anak muda, terutama mereka yang hidup di kota besar.

Salah satu penyebab utamanya adalah energi sosial yang cepat habis. Setelah menghadapi macet, tekanan kerja, dan ritme hidup yang serba cepat, banyak anak muda yang sudah kelelahan sebelum akhir pekan tiba. Nongkrong yang dulu terasa menyenangkan kini berubah menjadi aktivitas yang menguras energi.

Selain itu, hiburan di rumah semakin nyaman. Film terbaru bisa ditonton dari kasur, makanan enak bisa tiba dalam 20 menit, dan komunikasi bisa dilakukan lewat video call. Di tengah semua kemudahan itu, keluar rumah terasa seperti tugas ekstra.

Ada juga faktor kecemasan sosial. Banyak orang merasa tidak siap bertemu ketika sedang burnout atau tidak dalam kondisi terbaik. Ketakutan terlihat “tidak maksimal” membuat mereka lebih memilih membatalkan rencana daripada datang dengan mood yang buruk.

Yang menarik, cancel plan culture menciptakan lingkaran sosial baru. Semakin sering orang membatalkan rencana, semakin normal dan dapat diterima perilaku itu. Banyak anak muda kini membuat rencana tanpa benar-benar merasa wajib datang. Rencana lebih menjadi bentuk menjaga komunikasi, bukan komitmen yang harus ditepati.

Meski begitu, budaya ini bukan tanpa sisi positif. Cancel plan culture membuka ruang untuk lebih jujur soal batasan diri. Banyak anak muda mulai berani berkata bahwa mereka lelah, butuh istirahat, atau merasa tidak stabil secara mental. Ini adalah perubahan penting dalam kultur pertemanan modern.

Pada akhirnya, budaya batal janji bukan sekadar tren malas keluar rumah. Ia mencerminkan dinamika hidup urban, tekanan mental, dan perubahan cara anak muda menjaga hubungan. Mungkin yang kita butuhkan bukan rencana yang selalu jadi, melainkan teman yang memahami bahwa istirahat pun adalah bagian dari hidup.