Menelisik Stilistika dalam Fenomena Flexing di Media Sosial

Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aditiya Duwi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital hari ini, bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana membangun citra diri. Salah satu fenomena yang cukup mencolok adalah flexing di media sosial praktik memamerkan kekayaan, gaya hidup mewah, atau pencapaian personal. Menariknya, flexing tidak hanya tampak pada visual (foto atau video), tetapi juga sangat kuat pada pilihan bahasa yang digunakan. Di sinilah stilistika, sebagai kajian tentang gaya bahasa, menjadi penting untuk menelaah bagaimana makna dibentuk, dipertegas, bahkan dimanipulasi.
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji gaya bahasa dalam praktik flexing di media sosial, khususnya pada caption atau narasi yang menyertainya. Objek telaahnya adalah penggunaan diksi, majas, dan struktur kalimat yang mencerminkan upaya konstruksi citra diri sebagai “sukses”, “berkelas”, atau “berkuasa”.
Secara stilistika, flexing sering ditandai oleh pilihan kata yang bersifat hiperbolik. Kata-kata seperti “gila sih ini”, “auto sultan”, atau “kerja santai hasil maksimal” bukan sekadar informasi, tetapi mengandung efek emosional yang berlebihan. Hiperbola ini berfungsi untuk memperbesar kesan keberhasilan, meskipun realitas di baliknya belum tentu sebanding. Gaya bahasa seperti ini memperlihatkan bahwa bahasa tidak netral; ia sengaja dibentuk untuk memengaruhi persepsi pembaca.
Selain hiperbola, terdapat pula penggunaan metafora yang khas. Misalnya, ungkapan “main di level berbeda” atau “naik kelas” sering digunakan untuk menunjukkan peningkatan status sosial. Metafora ini menarik karena meminjam konsep ruang atau tingkatan untuk menggambarkan posisi sosial seseorang. Dalam kajian stilistika, hal ini menunjukkan adanya pergeseran makna dari konkret ke abstrak yang bertujuan memperhalus sekaligus meninggikan citra diri.
Tidak hanya itu, struktur kalimat dalam flexing juga cenderung sederhana namun penuh tekanan makna. Kalimat pendek seperti “Kerja diam-diam, hasilnya boom!” atau “Dulu diremehkan, sekarang dicari” mengandung efek retoris yang kuat. Struktur ini menciptakan kontras antara masa lalu dan masa kini, sehingga memperkuat narasi kesuksesan. Dalam perspektif stilistika, pola ini menunjukkan bagaimana ritme dan susunan kalimat dapat memengaruhi daya persuasi sebuah teks.
Menariknya, gaya bahasa flexing juga sering memanfaatkan campuran bahasa (code-mixing), seperti penggunaan bahasa Inggris di tengah kalimat Indonesia: “Stay humble, but hustle hard” atau “No caption needed, just vibes.” Campuran ini bukan sekadar variasi linguistik, melainkan strategi simbolik untuk menampilkan identitas modern, global, dan berkelas. Dalam konteks ini, bahasa menjadi penanda sosial yang sangat kuat.
Namun, di balik semua gaya tersebut, ada tujuan yang lebih dalam membangun legitimasi sosial. Dengan bahasa yang “bergaya”, pelaku flexing berusaha mendapatkan pengakuan, validasi, bahkan kekuasaan simbolik di ruang digital. Stilistika membantu kita memahami bahwa apa yang tampak sebagai “kata-kata biasa” sebenarnya adalah konstruksi yang sarat kepentingan.
Dari sudut pandang kritis, fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah bahasa dalam flexing mencerminkan realitas, atau justru menciptakan ilusi? Ketika hiperbola dan metafora digunakan secara berlebihan, batas antara fakta dan pencitraan menjadi kabur. Hal ini bisa berdampak pada pembaca, terutama generasi muda, yang mungkin menginternalisasi standar kesuksesan yang tidak realistis.
Dengan demikian, kajian stilistika terhadap flexing tidak hanya berhenti pada analisis bentuk bahasa, tetapi juga membuka pemahaman tentang relasi antara bahasa, kekuasaan, dan identitas. Bahasa yang digunakan dalam media sosial bukan sekadar ekspresi diri, melainkan juga alat untuk membangun dan memengaruhi realitas sosial.
Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa dalam fenomena flexing memiliki peran penting dalam membentuk makna dan citra diri. Melalui diksi yang hiperbolik, metafora yang sugestif, serta struktur kalimat yang retoris, bahasa menjadi medium utama dalam praktik pamer sosial ini. Oleh karena itu, stilistika hadir sebagai alat analisis yang relevan untuk membongkar lapisan makna di balik kata-kata yang tampak sederhana, namun sebenarnya penuh strategi.
