Memahami Mekanisme Kontraksi Kelvin-Helmholtz dan Neraca Termal Planet Raksasa

Seorang profesional bidang Hukum Internasional dan Tata Kelola Global. Banyak menyelesaikan kursus online spesialis di Harvard Law School (Program tentang Hukum Internasional), University of Oxford, Stanford University, serta Leiden University.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Aditiya Widodo Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita mulai dengan sebuah fakta Astronomi yang mungkin akan membuat anda terkejut. Matahari adalah pusat tata surya. Tapi coba tebak, Jupiter dan Saturnus, dua planet raksasa itu, memancarkan lebih banyak energi daripada yang mereka terima dari Matahari. Aneh, bukan? Logikanya, planet hanya menyerap sinar Matahari lalu memantulkan atau memancarkannya kembali.
Tapi berdasarkan data observasi dari wahana Pioneer, Voyager, dan Cassini menunjukkan sesuatu yang mencolok. Jupiter memancarkan 1,67 kali energi yang diterimanya. Saturnus bahkan lebih ekstrem, sekitar 1,78 kali. Artinya, ada sumber energi internal yang bekerja di perut mereka. Coba tebak apakah itu? Jika anda menjawab nuklir ataupun reaktor kimia, maka jawaban anda kurang tepat. Lalu apa? Jawabannya, yaitu kontraksi Kelvin-Helmholtz. Fenomena ini adalah bukti langsung bahwa gravitasi masih bekerja di dalam planet hingga sekarang.
Untuk memahami sumber energi ‘ekstra’ yang membuat Jupiter dan Saturnus memancar lebih terang dari yang diduga, kita harus membongkar dulu satu per satu definisi fisik dari proses yang bekerja di dalam perut mereka. Langsung saja kita masuk ke pembahasannya.
Definisi Kontraksi Kelvin-Helmholtz
Kontraksi Kelvin-Helmholtz adalah proses di mana sebuah benda langit perlahan-lahan menyusut akibat gravitasinya sendiri. Saat menyusut, material di dalamnya bergerak menuju pusat. Gerakan ini menghasilkan gesekan dan kompresi. Gesekan mengubah energi gerak menjadi panas. Kompresi juga menaikkan suhu. Jadi, energi potensial gravitasi—energi yang tersimpan karena posisi massa terhadap pusat planet—berubah menjadi energi termal.
Hukum kekekalan energi tetap berlaku, di mana energi gravitasi yang hilang (karena planet mengecil) muncul sebagai panas. Inilah inti mekanisme yang ditemukan oleh Lord Kelvin dan Hermann von Helmholtz pada abad ke-19. Mereka awalnya mencoba menjelaskan sumber panas Matahari. Tapi untuk planet raksasa, mekanisme ini justru sangat cocok.
Sekarang kita tahu bahwa Jupiter menyusut sekitar 1–2 cm per tahun. Saturnus menyusut sedikit lebih cepat karena massanya lebih kecil sehingga tekanan gravitasi lebih efektif memampatkan material. Proses ini lambat, tapi dalam skala waktu jutaan tahun, akumulasi panasnya sangat besar. Inilah sumber kelebihan energi yang diamati
Termodinamika di Balik Panas Internal Planet
Mari masuk ke fisika dasarnya. Ketika sebuah planet berkontraksi, lapisan luar menekan lapisan dalam. Tekanan ini melakukan kerja pada material interior. Dalam termodinamika, kerja mekanik bisa berubah menjadi panas jika prosesnya tidak sepenuhnya reversibel. Planet bukan sistem ideal. Ada viskositas, ada friksi antar lapisan gas dan cairan logam hidrogen. Akibatnya, sebagian besar energi potensial gravitasi yang dilepaskan tidak bisa kembali menjadi energi mekanik. Ia terjebak sebagai panas. Panas ini kemudian merambat ke luar melalui konveksi.
Di Jupiter dan Saturnus, interiornya sangat panas, sekitar 20.000 K di inti Jupiter, lebih panas dari permukaan Matahari. Panas ini naik ke lapisan atas, lalu dipancarkan sebagai radiasi inframerah. Inilah yang diamati teleskop dan wahana antariksa. Fakta penting, tanpa kontraksi, planet akan mendingin lebih cepat dan luminositas internalnya akan turun drastis dalam ratusan juta tahun. Tapi umur tata surya sudah 4,5 miliar tahun. Artinya, kontraksi masih berlangsung hingga sekarang.
Neraca Termal: Memisahkan Panas Matahari dari Panas Dalam
Setiap planet tentunya memiliki neraca energi. Di sisi masuk, radiasi Matahari yang diserap. Di sisi keluar, total radiasi inframerah yang dipancarkan planet. Jika keduanya sama, planet hanya memantulkan atau memancarkan ulang apa yang diterima. Tapi untuk kasusnya Jupiter dan Saturnus, sisi keluar lebih besar. Kelebihannya disebut fluks panas internal. Untuk Jupiter, fluks internal sekitar 5,44 watt per meter persegi. Untuk Saturnus, sekitar 2,01 watt per meter persegi. Angka ini kecil jika dibandingkan dengan fluks Matahari di Jupiter (sekitar 12 watt per m²) atau Saturnus (sekitar 3,7 watt per m²).
Tapi ingat, Jupiter dan Saturnus sangat besar. Total kelebihan energi Jupiter setara dengan 2,5 kali seluruh konsumsi energi listrik umat manusia saat ini. Sumber kelebihan ini tidak bisa berasal dari pendinginan primordial saja, karena jika hanya mengandalkan panas sisa pembentukan, planet akan mendingin dalam waktu kurang dari satu miliar tahun.
Kontraksi menyediakan pasokan panas berkelanjutan. Perhitungan menunjukkan bahwa laju kontraksi saat ini mampu menghasilkan 60–70% dari kelebihan luminositas Jupiter. Sisanya berasal dari diferensiasi gravitasi yaitu helium yang lebih berat tenggelam ke inti, melepas energi potensial. Untuk Saturnus, kontribusi kontraksi justru lebih dominan karena interiornya lebih kompresibel.
Semua penjelasan di atas bersumber dari berbagai publikasi kredibel di antaranya penelitian ilmuwan seperti W.B. Hubbard (1989) dari Lunar and Planetary Laboratory (Universitas Arizona), T. Guillot (2005) dari Observatoire de la Côte d'Azur (CNRS, Prancis), serta tim Ingersoll & Porco (2019) dari Caltech dan Space Science Institute menggunakan data dari wahana antariksa NASA (Voyager 1, 1979; Cassini, 2000–2017; Juno, 2016–sekarang) dengan metodologi, pertama, mengukur total radiasi inframerah yang keluar dari planet menggunakan instrumen radiometer inframerah di wahana.
Kedua, menghitung radiasi Matahari yang benar-benar diserap planet berdasarkan jarak planet-Matahari, albedo (daya pantul), dan geometri orbit. Ketiga, mengurangi kedua nilai tersebut untuk mendapatkan fluks panas internal. Keempat, membandingkan hasilnya dengan laju penyusutan planet yang dideteksi dari perubahan medan gravitasi (diukur melalui efek Doppler pada sinyal komunikasi wahana).
Kelima, memasukkan semua data ke dalam model interior planet yang menggunakan persamaan keadaan materi (tekanan, temperatur, densitas) dan persamaan transportasi panas (konveksi) sehingga mereka dapat memprediksi bahwa kontraksi Kelvin-Helmholtz sedang berlangsung dan menjadi sumber utama kelebihan energi tanpa perlu mengamati langsung proses di interior.
Mengapa Uranus dan Neptunus Tidak Mengikuti Pola yang Sama
Pembaca jeli pasti bertanya, kalau kontraksi terjadi di semua planet raksasa, mengapa Uranus dan Neptunus tidak menunjukkan kelebihan energi sebesar Jupiter dan Saturnus? Hal ini dikarenakan Uranus hampir tidak memiliki fluks panas internal. Neptunus punya sedikit, tapi tidak konsisten.
Jawabannya terletak pada struktur interior dan sejarah pembentukan. Uranus dan Neptunus memiliki massa lebih kecil, sehingga tekanan interior tidak cukup tinggi untuk membuat hidrogen metalik. Akibatnya, konveksi panas dari inti ke permukaan terganggu. Ada lapisan hambat termal yang memperlambat naiknya panas. Selain itu, kedua planet ini mungkin pernah mengalami tubrukan raksasa di masa lalu yang membalikkan orientasi sumbu rotasi dan mengacaukan stratifikasi termal interiornya. Panas internal tetap ada, tapi tidak bisa keluar dengan efisien. Jadi, bukan berarti kontraksi tidak terjadi. Kontraksi tetap terjadi, tapi panas yang dihasilkan terperangkap di dalam. Ini membuktikan bahwa mekanisme Kelvin-Helmholtz tidak otomatis menghasilkan kelebihan luminositas besar. Ia bergantung pada efisiensi transportasi panas. Perbandingan antara Jupiter-Saturnus dengan Uranus-Neptunus justru menjadi konfirmasi paling kuat bahwa kontraksi gravitasi memang sumber utama panas internal planet raksasa. Karena jika kontraksi tidak signifikan, maka Uranus dan Neptunus akan memiliki kelebihan energi yang sama dengan Jupiter. Kenyataannya tidak demikian. Maka, planet yang lebih masif dengan interior yang lebih konvektif mampu mengubah kontraksi lambat menjadi pancaran energi yang terukur. Inilah sebabnya Jupiter dan Saturnus menyala lebih terang dalam inframerah dari yang seharusnya.
