Mengkaji Deformabilitas Tidal Bintang Neutron dan Jejaknya pada Sinyal Inspiral
Tulisan dari Aditiya Widodo Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bintang neutron merupakan objek dengan medan gravitasi permukaan terkuat kedua di alam semesta, setelah lubang hitam. Percepatan gravitasi di permukaan bintang neutron tipikal bermassa 1,4 kali massa Matahari dan radius 12 kilometer adalah sekitar 2 × 10¹¹ meter per detik kuadrat, atau kira-kira 20 miliar kali gravitasi Bumi dan untuk bintang yang lebih masif atau lebih kompak seperti dengan radius 10 km, percepatan gravitasi-nya bisa mencapai 3 × 10¹¹ m/s². Di dalamnya, materi terkompresi melebihi kerapatan inti atom, yakni di atas 2,8 kali 10 pangkat 14 gram per sentimeter kubik. Dalam kondisi ini, gaya nuklir kuat dan interaksi lemah memainkan peran dominan, menciptakan fase materi yang belum dapat direproduksi di laboratorium mana pun di Bumi. Akibatnya, persamaan keadaan yang menghubungkan tekanan dan densitas energi menjadi parameter paling krusial namun paling tidak diketahui dalam astrofisika bintang neutron. Ketika dua bintang neutron membentuk sistem biner dan saling mengorbit, masing-masing bintang dikenai medan gravitasi pasang-surut dari pasangannya. Medan ini tidak seragam dimana gradien gravitasi menyebabkan sisi bintang yang menghadap pasangan tertarik lebih kuat daripada sisi yang membelakangi. Respons bintang terhadap gaya pasang-surut ini ditentukan sepenuhnya oleh bagaimana materi di dalamnya mampu mengatur ulang distribusi massanya. Semakin lunak persamaan keadaan, semakin besar distorsi yang terjadi. Sebaliknya, persamaan keadaan yang sangat kaku akan membuat bintang hampir berbentuk bola sempurna meskipun berada di dekat pasangan masif. Distorsi ini dalam relativitas umum, merupakan perubahan distribusi massa memodifikasi metrik ruang-waktu di sekitar bintang, yang pada gilirannya mengubah momen kuadrupol sistem biner. Momen kuadrupol inilah yang menentukan amplitudo dan polarisasi gelombang gravitasi yang dipancarkan. Dengan demikian, setiap perubahan kecil pada struktur internal bintang akan tertulis secara halus namun terukur dalam sinyal gelombang gravitasi yang mencapai detektor di Bumi. Dari respons material tersebut, lahirlah besaran-besaran fisika yang terdefinisi secara ketat dalam relativitas umum, yaitu bilangan Love dan deformabilitas tidal, yang menjadi jembatan antara struktur internal dan sinyal yang terdeteksi. Bilangan Love Relativistik dan Deformabilitas Tidal Kuantitas yang secara kuantitatif mengukur respons pasang-surut sebuah bintang adalah bilangan Love, dilambangkan dengan k₂. Dalam mekanika klasik, bilangan Love mencerminkan elastisitas bulk suatu benda. Untuk relativitas umum, definisi ini diperluas dengan memasukkan efek kurvatur ruang-waktu dan tekanan internal relativistik. Bilangan Love untuk bintang neutron berkisar antara 0,05 hingga 0,20, jauh lebih kecil dibandingkan dengan planet gas raksasa seperti Jupiter yang memiliki k₂ sekitar 0,5. Nilai rendah ini mengindikasikan bahwa bintang neutron secara efektif sangat kaku terhadap deformasi pasang-surut, meskipun sebenarnya gaya pasang-surut yang bekerja bisa mencapai triliunan kali lebih besar daripada gaya pasang-surut Bumi terhadap Bulan. Deformabilitas tidal λ didefinisikan sebagai perbandingan antara momen kuadrupol massa yang terinduksi dan kekuatan medan pasang-surut eksternal. Secara dimensional, λ memiliki satuan panjang pangkat lima. Agar dapat dibandingkan antarbintang dengan massa berbeda, para astrofisikawan menggunakan parameter tak berdimensi Λ, yang dirumuskan sebagai Λ sama dengan dua per tiga dikali k₂ dikali rasio jari-jari terhadap massa pangkat lima. Parameter Λ inilah yang kemudian menjadi target utama pengukuran dalam analisis gelombang gravitasi. Semakin besar Λ, semakin mudah bintang dideformasi, yang berarti persamaan keadaan cenderung lebih lunak. Perhitungan Λ memerlukan penyelesaian persamaan struktur relativistik untuk bintang neutron yang ditambah dengan persamaan perturbasi linier orde dua. Persamaan perturbasi ini menurunkan fungsi radial y(r) yang memenuhi persamaan diferensial Riccati orde satu. Fungsi ini bergantung pada turunan tekanan terhadap densitas energi, yang secara langsung mencerminkan kekerasan materi pada setiap lapisan radial. Nilai y di permukaan bintang, bersama dengan parameter kompakness C yang merupakan rasio massa terhadap jari-jari, menjadi masukan bagi rumus analitik yang menghubungkan k₂ dengan besaran-besaran makroskopis tersebut. Rumus ini mengandung suku logaritmik yang murni berasal dari efek relativitas umum, dan tidak memiliki analogi dalam teori gravitasi Newton. Dengan bilangan Love dan deformabilitas tidal yang telah dihitung untuk berbagai model bintang, langkah selanjutnya adalah menelusuri bagaimana kuantitas-kuantitas ini memodifikasi fase gelombang gravitasi yang dipancarkan selama proses inspiraling. Efek Tidal pada Fase Gelombang Gravitasi Biner Dalam proses inspiraling, dua bintang neutron mengorbit satu sama lain sambil kehilangan energi melalui pemancaran gelombang gravitasi. Lintasan orbitnya perlahan menyusut, frekuensi meningkat, dan amplitudo gelombang membesar. Pada orde terendah, gerakan ini dapat didekati dengan dua benda titik yang mengikuti persamaan relativistik umum. Namun, efek tidal memperkenalkan koreksi pada fase gelombang yang mulai muncul secara signifikan ketika jarak antarbintang cukup dekat, biasanya pada frekuensi di atas 100 Hertz. Koreksi fase ini sebanding dengan λ dibagi massa total pangkat lima per tiga, sehingga sangat sensitif terhadap nilai Λ masing-masing bintang. Parameter yang terukur langsung dari data bukanlah Λ per bintang, melainkan kombinasi berbobot yang disebut Λ tilde. Bobot ini bergantung pada rasio massa kedua bintang melalui parameter simetri massa. Untuk sistem dengan massa hampir sama, Λ tilde mendekati nilai rata-rata Λ kedua bintang. Namun, jika massa bintang sangat berbeda, bobot lebih besar diberikan kepada bintang yang lebih ringan, karena bintang dengan massa lebih kecil memiliki radius lebih besar untuk massa yang sama dan karenanya lebih mudah dideformasi. Inilah sebabnya mengapa pengukuran tunggal Λ tilde tidak dapat secara unik menentukan Λ masing-masing bintang tanpa informasi tambahan tentang rasio massa. Koreksi fase akibat efek tidal muncul pada orde 5 post-Newtonian, yang berarti efek ini sangat lemah dan memerlukan pencocokan bentuk gelombang yang sangat presisi. Para analis menggunakan model gelombang yang disebut waveform template, di mana efek tidal dimasukkan sebagai deret perturbatif dalam kecepatan orbit relatif. Ketidakcocokan antara data dan template akan menghasilkan sisa-sisa fase yang kemudian diinterpretasikan sebagai batas atas atau bawah untuk Λ tilde. Proses ini melibatkan metode statistik Bayesian untuk memperoleh distribusi probabilitas dari parameter tidal, dengan mempertimbangkan ketidakpastian dari noise detektor dan ketidaksempurnaan model. Setelah memahami mekanisme modifikasi fase gelombang oleh efek tidal, tahap akhir adalah menggunakan pengukuran ini untuk menyaring dan membatasi model-model persamaan keadaan yang mungkin bagi materi neutron. Pengaruh Pengukuran Tidal terhadap Model Persamaan Keadaan Setiap model persamaan keadaan menghasilkan kurva hubungan antara massa dan jari-jari bintang neutron yang berbeda. Dengan menghitung Λ untuk setiap titik sepanjang kurva tersebut, para peneliti dapat memetakan wilayah yang diizinkan dalam ruang parameter massa-Lambda. Pengukuran Λ tilde dari suatu peristiwa merger kemudian memproyeksikan wilayah ini ke dalam batasan untuk massa individual. Hasilnya, model-model yang memprediksi Λ terlalu tinggi untuk massa tertentu akan secara otomatis ditolak, karena akan menghasilkan deformasi yang berlebihan dan mengubah fase gelombang di luar batas ketidakpastian pengukuran. Batas bawah massa bintang neutron hasil pengamatan juga berperan penting. Bintang dengan massa di bawah sekitar 1,1 massa Matahari umumnya tidak terbentuk dari evolusi supernova standar, sehingga rentang massa yang dipertimbangkan biasanya dimulai dari 1,2 massa Matahari. Pada massa rendah, radius bintang cenderung lebih besar dan kompakness lebih kecil, sehingga Λ meningkat drastis. Ini menjadikan pengukuran Λ sangat sensitif terhadap struktur lapisan luar bintang, yang sebagian besar terdiri dari kulit atom dan neutron superfluida. Itu berarti, data tidal memberikan informasi komplementer terhadap pengukuran massa dan radius dari pengamatan sinar-X atau radio. Keterbatasan utama dari pendekatan ini adalah degenerasi antara efek tidal dan spin bintang. Spin bintang neutron dapat mencapai hingga beberapa ratus Hertz, dan rotasi cepat menghasilkan deformasi sentrifugal yang juga memodifikasi momen kuadrupol. Namun, dalam tahap inspiraling pada frekuensi rendah hingga menengah, kontribusi spin orde pertama dapat dipisahkan karena memiliki ketergantungan frekuensi yang berbeda dengan efek tidal. Untuk bintang neutron dengan spin lambat, seperti yang umum ditemukan dalam sistem biner galaktik, efek spin diabaikan. Untuk spin sedang, para periset menggunakan formalisme spin-tidal yang menggabungkan kedua efek dalam satu model perturbasi terpadu. Dengan berkembangnya jumlah deteksi merger bintang neutron, diharapkan distribusi statistik dari Λ tilde akan muncul. Distribusi ini tidak hanya akan menentukan rata-rata deformabilitas, tetapi juga menyelidiki variasi antar sistem, yang mungkin mencerminkan perbedaan komposisi atau usia bintang neutron. Saat ini, wilayah yang masih tersisa mencakup persamaan keadaan dengan kecepatan suara yang mendekati kecepatan cahaya, yang mengindikasikan bahwa materi neutron mungkin masih memiliki bentuk eksotis yang belum terbayangkan sebelumnya. Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih.


