Mengkaji Siklus Hidup Unsur Berat dari Penggabungan Bintang Neutron
Tulisan dari Aditiya Widodo Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Agustus 2017, untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ilmuwan berhasil mengamati langsung penggabungan dua bintang neutron melalui gelombang gravitasi dan cahaya secara bersamaan. Peristiwa yang diberi nama GW170817 ini membuka jendela baru dalam astrofisika, mengkonfirmasi bahwa tabrakan benda-benda superpadat ini adalah pabrik utama unsur-unsur paling berat di alam semesta. Dalam sekejap yang hanya berlangsung beberapa detik, material yang terlontar mengalami reaksi nuklir paling ekstrem yang pernah diketahui, menciptakan emas, platinum, uranium, dan puluhan unsur berat lainnya. Fenomena ini disebut kilonova, dan memahaminya berarti memahami asal-usul setengah dari unsur-unsur yang lebih berat dari besi yang membentuk planet, bintang, dan bahkan kehidupan itu sendiri. Untuk memahami bagaimana unsur-unsur berat itu terbentuk, pertama-tama kita harus menyelami kondisi ekstrem dari penggabungan dua bintang neutron itu sendiri dan karakteristik material yang terlontar ke angkasa. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja kita masuk kepada inti pembahasan-nya. Mekanisme Penggabungan dan Ejecta yang Kaya Neutron Dua bintang neutron yang saling mengorbit akan kehilangan energi melalui radiasi gelombang gravitasi, menyebabkan keduanya perlahan mendekat selama miliaran tahun. Pada saat jarak keduanya tinggal beberapa puluh kilometer, gaya pasang-surut gravitasi menjadi sangat kuat hingga merobek material dari permukaan kedua bintang. Saat benturan akhir terjadi dalam hitungan milidetik, suhu melonjak hingga puluhan miliar derajat Celcius dan tekanan menjadi sangat tinggi sehingga materi nuklir berperilaku seperti fluida super panas. Tidak semua material jatuh ke lubang hitam yang mungkin terbentuk dari sisa penggabungan. Sebagian material terlontar ke luar angkasa dengan kecepatan mencapai sepersepuluh kecepatan cahaya. Ejecta ini memiliki komposisi yang sangat spesifik dimana ia sangat kaya neutron karena bintang neutron sendiri terdiri dari neutron yang terikat secara gravitasi. Rasio jumlah neutron terhadap proton dalam ejecta ini sangat tinggi, dengan nilai Ye atau fraksi proton berkisar antara 0,1 hingga 0,4, tergantung pada posisi material saat terlontar. Kondisi inilah yang menjadi fondasi bagi proses pembentukan unsur-unsur berat yang akan terjadi kemudian. Ejecta yang terlontar mengembang dengan cepat ke segala arah. Dalam proses ekspansi ini, suhu dan densitas material menurun secara drastis. Dari puluhan miliar derajat, dalam hitungan milidetik suhu turun menjadi di bawah satu miliar derajat. Penurunan suhu yang sangat cepat ini menentukan jalur reaksi nuklir mana yang akan terjadi. Jika suhu turun terlalu cepat, beberapa reaksi tidak sempat berlangsung. Jika terlalu lambat, maka material akan mencapai kesetimbangan nuklir yang berbeda. Skala waktu ekspansi ini menjadi parameter kunci yang harus dimasukkan dalam setiap simulasi nukleosintesis. Yang membuat ejecta penggabungan bintang neutron unik dibandingkan sumber lain adalah jumlah neutron yang sangat melimpah. Dalam ledakan supernova, meskipun neutron juga dihasilkan, jumlahnya tidak cukup untuk membentuk unsur-unsur terberat secara efisien. Di ejecta penggabungan bintang neutron, fluks neutron mencapai tingkat yang sangat tinggi, memungkinkan proses penangkapan neutron berlangsung dengan kecepatan luar biasa. Inilah mengapa para astrofisikawan meyakini bahwa penggabungan bintang neutron adalah sumber dominan dari unsur-unsur r-process di alam semesta. Proses R-Process dan Pembentukan Unsur Berat R-process atau rapid neutron capture process adalah mekanisme di mana inti atom menangkap neutron dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada laju peluruhan radioaktif. Dalam kondisi ekstrem ejecta, neutron yang sangat melimpah bertumbukan dengan inti atom yang lebih ringan, seperti besi atau nikel. Setiap tangkapan neutron membuat inti menjadi lebih berat dan lebih kaya neutron. Proses ini berulang ratusan kali dalam hitungan detik, melampaui apa pun yang bisa terjadi di bintang normal. Yang membedakan r-process dari proses pembentukan unsur lainnya adalah ia dapat melompati daerah-daerah tidak stabil dalam tabel periodik. Dalam proses lambat atau s-process, inti atom harus menunggu sampai peluruhan beta terjadi sebelum bisa menangkap neutron lagi. Dalam r-process, neutron ditangkap begitu cepat sehingga inti tidak sempat meluruh. Akibatnya, r-process dapat menghasilkan unsur-unsur dengan massa atom yang sangat besar, termasuk aktinida seperti uranium dan torium, serta unsur-unsur langka seperti emas dan platinum. Proses ini jelas tidak berjalan tanpa hambatan. Ada titik-titik tertentu dalam tabel periodik di mana inti atom menjadi lebih stabil karena konfigurasi neutron yang lengkap, yang disebut sebagai cangkang tertutup atau shell closure. Dua shell closure yang paling penting dalam r-process adalah pada jumlah neutron 82 dan 126. Di titik-titik ini, laju penangkapan neutron melambat secara signifikan karena inti lebih sulit menangkap neutron tambahan. Akibatnya, material menumpuk di sekitar titik-titik ini, menciptakan puncak-puncak kelimpahan yang khas dalam hasil akhir r-process. Ketika neutron yang tersedia habis, yang terjadi dalam waktu kurang dari satu detik setelah penggabungan, proses r-process berhenti. Yang tersisa adalah ribuan isotop radioaktif yang sangat tidak stabil. Setiap isotop ini memiliki jumlah neutron dan proton yang tidak seimbang, dan mereka akan berusaha mencapai kestabilan melalui serangkaian peluruhan beta. Dalam proses peluruhan ini, neutron di dalam inti berubah menjadi proton, memancarkan elektron dan antineutrino. Inilah awal dari fase pemanasan radioaktif yang akan menghidupi cahaya kilonova. Peluruhan ribuan isotop radioaktif inilah yang kemudian menjadi sumber energi utama yang memanaskan ejecta dan menentukan terang tidaknya cahaya kilonova yang teramati dari Bumi. Dinamika Pemanasan Radioaktif dan Kurva Cahaya Setelah r-process berhenti, energi yang tersimpan dalam ketidakstabilan inti atom mulai dilepaskan. Setiap peluruhan beta melepaskan energi sekitar beberapa juta elektronvolt. Meskipun jumlah ini tampak kecil per inti, ketika dikalikan dengan jumlah inti yang sangat banyak dalam ejecta, total energinya luar biasa besar. Energi ini awalnya terlepas dalam bentuk partikel bermuatan dan sinar gamma yang sangat energik. Partikel-partikel ini kemudian bertumbukan dengan material di sekitarnya dan mengubah energi kinetiknya menjadi panas. Pemanasan radioaktif ini tidak seragam sepanjang waktu. Pada fase awal, kurang dari satu hari setelah penggabungan, isotop dengan waktu paruh pendek mendominasi. Isotop-isotop ini meluruh dalam hitungan menit hingga jam, melepaskan energi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Laju pemanasan pada fase ini sangat tinggi dan menyebabkan ejecta menjadi sangat panas. Namun karena ejekta juga mengembang, densitasnya menurun, dan panas dengan cepat berubah menjadi energi kinetik ekspansi. Memasuki fase hari-hari berikutnya, isotop dengan waktu paruh pendek sudah habis. Yang tersisa adalah isotop dengan waktu paruh yang lebih panjang, dari beberapa hari hingga beberapa tahun. Pada fase ini, laju pemanasan menurun mengikuti pola yang khas, yaitu berbanding terbalik dengan waktu. Pola ini merupakan ciri khas dari campuran ribuan isotop r-process yang meluruh secara independen. Tidak ada sumber energi lain di alam semesta yang menghasilkan pola pemanasan seperti ini, menjadikannya sebagai sidik jari yang unik untuk mengidentifikasi kilonova. Panas yang dihasilkan pun tidak langsung menjadi cahaya yang bisa diamati. Ejecta pada awalnya sangat padat dan buram terhadap radiasi. Foton yang dihasilkan di bagian dalam ejecta akan diserap dan dihamburkan berulang kali sebelum akhirnya mencapai permukaan. Proses ini memperlambat pelepasan energi dan membuat kurva cahaya kilonova mencapai puncaknya beberapa hari kemudian. Waktu puncak dan kecerlangan maksimum sangat bergantung pada opasitas material, yang ditentukan oleh komposisi unsur yang terbentuk dalam r-process. Namun seberapa terang kilonova dapat diamati dari Bumi sangat ditentukan oleh satu faktor kunci lainnya, yaitu kemampuan material ejecta dalam menyerap dan menghamburkan cahaya yang sangat bergantung pada keberadaan unsur-unsur lantanida. Peran Opasitas Lantanida dan Pengamatan Inframerah Unsur-unsur lantanida, yang terletak di deret bawah tabel periodik, memiliki sifat unik yang sangat memengaruhi pengamatan kilonova. Konfigurasi elektron pada kulit 4f yang tidak terisi penuh menyebabkan lantanida memiliki ribuan jalur transisi elektronik yang sangat rapat. Akibatnya, mereka dapat menyerap dan menghamburkan cahaya pada berbagai panjang gelombang dengan sangat efisien. Opasitas material yang kaya lantanida menjadi sangat tinggi, terutama di daerah optik atau cahaya tampak. Jika ejecta mengandung banyak lantanida, opasitasnya bisa mencapai nilai yang sangat besar. Cahaya optik tidak dapat keluar dengan mudah karena terus-menerus diserap dan dihamburkan. Foton-foton ini harus bolak-balik berkali-kali sebelum akhirnya mencapai permukaan. Akibatnya, kilonova yang kaya lantanida tampak sangat redup di optik dan puncak cahayanya terjadi lebih lambat. Namun ada konsekuensi lain yang menarik bahwa opasitas ini menurun secara signifikan pada panjang gelombang inframerah. Oleh karena itu, kilonova yang kaya lantanida justru akan lebih terang di inframerah daripada di optik. Sebaliknya, jika ejecta memiliki kandungan lantanida yang rendah, opasitasnya menjadi jauh lebih kecil. Cahaya optik dapat keluar dengan relatif mudah, menghasilkan kilonova yang terang di optik dengan puncak yang terjadi lebih cepat. Perbedaan ini menciptakan dua komponen kilonova yang dikenal sebagai komponen biru dan komponen merah. Komponen biru berasal dari ejecta dengan Ye tinggi di mana lantanida hampir tidak terbentuk. Komponen merah berasal dari ejecta dengan Ye rendah yang kaya lantanida. Observasi GW170817 menunjukkan dengan jelas kedua komponen ini. Dalam waktu kurang dari 24 jam, terdeteksi cahaya biru yang memudar dengan cepat, sesuai dengan prediksi untuk ejecta dengan opasitas rendah. Namun beberapa hari kemudian, tepatnya pada hari ketiga hingga kelima, cahaya inframerah justru semakin terang dan bertahan lebih lama. Menunjukkan bahwa ejecta dari penggabungan bintang neutron memang terbagi menjadi dua komponen dengan komposisi yang sangat berbeda. Komponen merah ini hanya bisa dijelaskan jika lantanida hadir dalam jumlah signifikan. Teleskop Luar Angkasa James Webb memainkan peran penting dalam mengamati komponen inframerah ini. Dengan sensitivitasnya yang luar biasa di panjang gelombang inframerah, JWST dapat mendeteksi kilonova hingga jarak yang sangat jauh. Lebih dari sekadar mengukur kecerlangan, JWST juga dapat mengambil spektrum yang menunjukkan garis-garis serapan dari unsur-unsur spesifik. Garis-garis dari telurium, sesium, dan lantanum telah diidentifikasi sebagai sidik jari yang memungkinkan para ilmuwan menentukan secara langsung unsur-unsur apa yang terbentuk dalam r-process. Data ini kemudian dibandingkan dengan prediksi dari simulasi nuklir untuk menguji akurasi model-model yang digunakan. Dan dengan setiap kilonova baru terdeteksi, kita semakin dekat untuk memahami secara lengkap asal-usul unsur-unsur yang membentuk dunia di sekitar kita. Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih.


