Konten dari Pengguna

Menurunkan Transisi Fase Gas Elektron Maxwell-Boltzmann ke Degenerasi Kuantum

Aditiya Widodo Putra

Aditiya Widodo Putra

Seorang profesional bidang Hukum Internasional dan Tata Kelola Global. Banyak menyelesaikan kursus online spesialis di Harvard Law School (Program tentang Hukum Internasional), University of Oxford, Stanford University, serta Leiden University.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditiya Widodo Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Visualisasi Artistik Matahari Ketika Dilihat dari Jarak Dekat (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)
zoom-in-whitePerbesar
Visualisasi Artistik Matahari Ketika Dilihat dari Jarak Dekat (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)

Tahukah kamu bahwa Matahari suatu saat akan mati. Maksudnya mati disini adalah Matahari akan menyusut jadi sebesar Bumi, panas membara di atas 100.000 derajat, tapi perlahan mendingin selama miliaran tahun. Inilah yang ilmuwan sebut sebagai katai putih. Istilah ini diperkenalkan oleh Willem Luyten pada tahun 1922, kemudian dipopulerkan oleh astronom lain untuk membedakannya dari bintang raksasa merah dan katai merah. Fisikawan tahu persis mengapa katai putih tidak runtuh jadi lubang hitam. Bukan karena panasnya, tapi karena ada tekanan aneh dari dalam yang dinamakan tekanan degenerasi elektron. Tanpa tekanan ini, semua katai putih akan lenyap dalam sekejap. Namun tekanan itu tidak selamanya kuat. Ada batas massanya, dikenal sebagai batas Chandrasekhar. Artikel ini akan mengupas transisi gas elektron dari perilaku biasa seperti udara di ruangan, menjadi 'padat kuantum' yang superkeras, serta mengapa transisi ini menentukan hidup-matinya sebuah katai putih. Tanpa berlama lama lagi, kita masuk ke pembahasan nya. Gas Elektron: Si Kecil yang Tak Suka Bersama Definisi pertama yang harus jelas, dalam bintang seperti Matahari, elektron bergerak bebas di antara inti atom. Mereka membentuk gas. Dalam fisika klasik, gas elektron ini mengikuti aturan Maxwell-Boltzmann, yaitu setiap partikel bebas menempati posisi dan kecepatan apa saja, asalkan energi totalnya sesuai suhu. Tapi elektron bukan partikel biasa. Mereka adalah fermion, satu jenis partikel yang memiliki aturan ketat, dua elektron tidak boleh berada dalam keadaan kuantum yang sama persis. Prinsip ini disebut larangan Pauli. Prinsip larangan Pauli menyatakan bahwa tidak ada dua fermion (partikel dengan spin setengah bilangan bulat, seperti elektron) dalam satu sistem kuantum yang boleh menempati keadaan kuantum yang sama secara bersamaan, di mana keadaan kuantum ditentukan oleh empat bilangan kuantum: utama, azimut, magnetik, dan spin. Untuk elektron dalam atom, ini berarti setiap orbital hanya dapat diisi maksimal dua elektron dengan arah spin berlawanan. Dalam bintang kompak, prinsip ini memaksa elektron untuk mengisi tingkat energi yang lebih tinggi meskipun suhu sangat rendah, sehingga menghasilkan tekanan degenerasi. Analogi sederhananya, dalam sebuah ruangan, setiap kursi hanya boleh diduduki satu orang. Jika kursi habis, orang berikutnya harus duduk di kursi lain dengan energi lebih tinggi. Di dalam bintang, saat kerapatan meningkat, jumlah elektron per volume membesar. Kursi-kursi keadaan kuantum mulai penuh dari tingkat energi terendah ke tertinggi. Saat suhu turun, elektron tidak bisa lagi turun ke kursi kosong karena semua kursi rendah sudah terisi. Mereka terpaksa menempati tingkat energi tinggi, meskipun suhu sangat dingin. Inilah degenerasi. Dari definisi ini, muncul pertanyaan, kapan persisnya gas elektron berubah dari perilaku klasik ke degenerasi kuantum? Jawabannya ada pada perbandingan antara suhu bintang dan suhu Fermi. Suhu Fermi: Batas Samar Antara Klasik dan Kuantum Dalam statistik Fermi-Dirac, dikenal besaran yang disebut suhu Fermi. Suhu ini dihitung dari energi Fermi, yaitu energi tertinggi yang ditempati elektron pada kondisi degenerasi sempurna (nol mutlak). Energi Fermi bergantung hanya pada kerapatan elektron. Semakin padat bintang, semakin tinggi energi Fermi. Ketika suhu bintang jauh di atas suhu Fermi, elektron berperilaku klasik dimana mereka seperti molekul gas biasa, tekanan termal mereka sebanding dengan kerapatan kali suhu. Ketika suhu bintang jauh di bawah suhu Fermi, elektron terdegenerasi sempurna, distribusi energinya seperti tangga, semua keadaan rendah penuh, keadaan kosong di atas. Pada kondisi antara, yaitu suhu sekitar sepersepuluh hingga satu kali suhu Fermi, terjadi degenerasi parsial. Di sini, distribusi energi masih mirip degenerasi sempurna tetapi ada sedikit lembutan di sekitar energi Fermi akibat agitasi termal. Dalam katai putih muda dengan suhu inti 10 juta Kelvin dan kerapatan pusat 10^6 gram per sentimeter kubik, suhu Fermi sekitar 10^10 Kelvin, sehingga suhu bintang hanya seperseribu suhu Fermi. Artinya, degenerasi di inti katai putih sudah sempurna. Namun di lapisan luar yang lebih renggang, suhu Fermi lebih rendah, sehingga degenerasi bisa parsial atau bahkan klasik. Transisi ini tentunya tidak tiba-tiba, melainkan gradual. Parameter yang mengukur derajat degenerasi adalah jumlah elektron per volume dikali panjang gelombang termal de Broglie pangkat tiga. Bila nilai ini besar, degenerasi kuat. Bila kecil, klasik. Para fisikawan menghitung batas transisi sebagai saat suhu sama dengan suhu Fermi. Pada saat itu, panjang gelombang termal elektron sama dengan jarak rata-rata antar elektron. Dari sini kita bisa melanjutkan ke pembahasan tekanan, karena tekanan inilah yang menopang bintang. Tekanan Degenerasi: Kerasnya Karena Terdesak, Bukan Karena Panas Tekanan degenerasi sempurna berbeda fundamental dari tekanan gas biasa. Dalam gas biasa, tekanan naik jika suhu naik. Dalam gas degenerasi, tekanan ada meskipun suhu nol mutlak. Sumbernya adalah prinsip larangan Pauli, karena elektron tidak bisa berdesakan dalam keadaan energi yang sama, mereka terpaksa memiliki momentum yang lebih besar. Momentum besar menghasilkan tekanan. Pada kerapatan rendah dan non-relativistik (kecepatan elektron jauh di bawah kecepatan cahaya), tekanan degenerasi sebanding dengan kerapatan pangkat 5/3. Pada kerapatan sangat tinggi, elektron bergerak mendekati kecepatan cahaya, dan tekanan menjadi sebanding dengan kerapatan pangkat 4/3. Perubahan eksponen ini krusial. Eksponen 5/3 menghasilkan gaya tolak yang cukup kuat untuk melawan gravitasi untuk semua massa, selama kita bisa menambah kerapatan cukup. Tapi eksponen 4/3 menghasilkan tekanan yang naik lebih lambat terhadap kerapatan. Akibatnya, saat kerapatan semakin tinggi, tekanan relativistik tidak bisa lagi mengimbangi gravitasi. Batasnya dihitung Subrahmanyan Chandrasekhar pada 1930-an. Ia menemukan bahwa untuk katai putih dengan komposisi khas (inti helium atau karbon), massa maksimum sekitar 1,4 kali massa Matahari. Di atas massa ini, degenerasi elektron, bahkan relativistik sekalipun, kalah oleh gravitasi. Bintang akan hancur menjadi bintang neutron atau lubang hitam. Di sini kita melihat transisi fase yang menentukan, dari gas klasik ke degenerasi non-relativistik, lalu ke degenerasi relativistik, lalu gagal total. Katai putih stabil hanya pada rezim degenerasi non-relativistik dan sebagian relativistik di bawah batas Chandrasekhar. Namun satu pertanyaan tersisa, apa yang terjadi pada transisi dari parsial ke sempurna, apakah ada semacam 'titik kritis' seperti air mendidih? Degenerasi Parsial: Daerah Peralihan yang Lembut, Tanpa Loncatan Fase Tidak seperti air yang mendidih tiba-tiba pada suhu tertentu, transisi degenerasi gas elektron bersifat kontinu. Tidak ada panas laten, tidak ada diskontinuitas densitas. Degenerasi parsial hanyalah kondisi ketika koreksi termal terhadap tekanan degenerasi mulai terasa. Dalam katai putih, lapisan luar yang tipis bisa berada dalam rezim degenerasi parsial. Di lapisan ini, tekanan masih didominasi degenerasi, tetapi ada tambahan tekanan termal kecil. Koreksi ini penting untuk menghitung laju pendinginan katai putih. Karena semakin panas katai putih, semakin besar koreksi termal, sehingga bintang mendingin lebih lambat dari perkiraan degenerasi sempurna. Pengamatan teleskop luar angkasa seperti Gaia dan Hubble menunjukkan bahwa kurva pendinginan katai putih sangat cocok dengan model yang memperhitungkan degenerasi parsial di lapisan luar. Selain itu, pada katai putih bermassa sangat rendah (sekitar 0,2 massa Matahari), kerapatan pusat rendah sehingga suhu Fermi bisa sepuluh kali lebih rendah dari katai putih biasa. Akibatnya, seluruh bintang bisa berada dalam rezim degenerasi parsial hingga klasik. Katai putih semacam ini masih langka karena butuh waktu lebih lama dari usia alam semesta untuk mendingin hingga titik itu dari bintang induk bermassa rendah. Tetapi para astronom telah menemukan kandidatnya. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa transisi fase dalam statistik Fermi-Diraca terjadi secara gradien halus dari klasik ke degenerasi sempurna, dengan degenerasi parsial sebagai jembatan. Dan batas Chandrasekhar adalah tembok pamungkas, di bawahnya, degenerasi—baik parsial maupun sempurna—menjamin stabilitas, di atasnya, gravitasi menang. Ini menjadi fondasi mekanika statistik yang membuat katai putih bisa diamati, dipelajari, dan diprediksi oleh fisika modern.

Visualisasi Artistik Bagaimana Transisi Fase Gas Elektron dari Maxwell-Boltzmann ke Degenerasi Kuantum (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)
zoom-in-whitePerbesar
Visualisasi Artistik Bagaimana Transisi Fase Gas Elektron dari Maxwell-Boltzmann ke Degenerasi Kuantum (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)