Konten dari Pengguna

Relativitas Einstein: Memutar Ulang Waktu dan Membengkokkan Ruang

Aditiya Widodo Putra

Aditiya Widodo Putra

Seorang profesional bidang Hukum Internasional dan Tata Kelola Global. Banyak menyelesaikan kursus online spesialis di Harvard Law School (Program tentang Hukum Internasional), University of Oxford, Stanford University, serta Leiden University.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditiya Widodo Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Illustrasi Sederhana Lengkungan Ruang-Waktu dalam Relativitas Einstein (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi Sederhana Lengkungan Ruang-Waktu dalam Relativitas Einstein (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)

Coba lompat dari kursi kamu sekarang. Kamu jatuh ke bawah, kan? Isaac Newton bilang itu karena ada gaya gravitasi yang menarik tubuhmu ke bumi. Rumusnya sederhana, dan selama 200 tahun, semua orang di planet ini percaya Newton adalah raja fisika yang tidak terkalahkan. Namun, di penghujung abad ke-19, para ilmuwan mulai gelisah. Ada satu hal kecil yang mengganggu yaitu kecepatan cahaya. Mereka menemukan bahwa cahaya selalu bergerak pada kecepatan yang sama, sekitar 299.792 kilometer per detik, tidak peduli seberapa cepat kamu bergerak mengejarnya atau menjauhinya. Coba bayangkan, jika kamu naik kereta 100 km/jam dan melempar bola ke depan dengan kecepatan 50 km/jam, maka bagi orang di tanah, bola melaju 150 km/jam. Itu logika Newton. Tapi anehnya, jika kamu menyalakan senter di kereta yang sama, kecepatan cahaya tetap sama persis bagi semua orang—baik di dalam kereta maupun di tanah. Ini mustahil menurut fisika klasik. Pada tahun 1905, seorang pegawai kantor paten di Bern, Swiss, yang bernama Albert Einstein, memberanikan diri untuk tidak percaya pada Newton. Dia berkata: "Mungkin bukan cahaya yang aneh. Mungkin yang aneh adalah waktu dan ruang itu sendiri." Relativitas Khusus – Waktu Bukan Jam Dinding yang Sama untuk Semua Einstein mengajukan dua postulat sederhana yang mengubah segalanya. Pertama, hukum fisika itu sama untuk semua orang yang bergerak dengan kecepatan tetap. Kedua, kecepatan cahaya di ruang hampa adalah sama untuk semua pengamat, tanpa terkecuali. Tidak ada yang lebih cepat dari cahaya. Dari dua postulat ini, muncullah konsekuensi yang benar-benar aneh bagi orang awam bahwa waktu itu relatif. Jam yang bergerak sangat cepat akan berdetak lebih lambat dibandingkan jam yang diam. Ini disebut dilatasi waktu. Pada tahun 1971, fisikawan Joseph Hafele dan Richard Keating membawa jam atom presisi tinggi naik pesawat komersial mengelilingi dunia. Hasilnya, jam di pesawat benar-benar menunjukkan selisih waktu beberapa nanodetik lebih lambat dibanding jam di darat. Prediksi Einstein terbukti tepat hingga 10 digit di belakang koma. Efek lain dari relativitas khusus adalah kontraksi panjang. Benda yang bergerak mendekati kecepatan cahaya akan memendek dalam arah geraknya dari sudut pandang pengamat yang diam. Tapi bagi penumpang di dalam benda itu, semuanya terasa normal. Yang paling terkenal tentu saja rumus E=mc². Energi sama dengan massa dikali kecepatan cahaya kuadrat. Rumus ini menjelaskan mengapa matahari bisa terus menyala miliaran tahun dimana sebagian kecil massanya berubah menjadi energi yang sangat besar. Bom atom juga bukti nyata dari rumus ini. Relativitas Umum – Ketika Gravitasi Bukan Gaya Setelah relativitas khusus, Einstein tidak puas. Teorinya hanya berlaku untuk gerak lurus beraturan. Padahal di dunia nyata, ada percepatan, ada gravitasi, ada benda jatuh ke tanah. Butuh 10 tahun kerja keras—dari 1905 hingga 1915—untuk melahirkan relativitas umum. Inti dari relativitas umum sangat sederhana dalam konsep namun sulit dalam matematika bahwa gravitasi bukanlah gaya tarik menarik, melainkan efek dari kelengkungan ruang dan waktu. Benda masif seperti bumi melengkungkan ruang-waktu di sekitarnya, dan benda lain hanya mengikuti kelengkungan itu. Coba lakukan ini, regangkan kain sprei kamu. Letakkan bola bowling di tengahnya. Kain akan melengkung ke bawah. Sekarang gulingkan kelereng di tepi kain. Kelereng itu tidak "ditarik" oleh bola bowling; ia hanya mengikuti jalur lengkung kain. Bumi adalah kelereng, matahari adalah bola bowling. Konsekuensi pertama yang mengejutkan yaitu waktu berjalan lebih lambat di dekat benda masif. Jam di permukaan laut berdetak lebih lambat daripada jam di puncak gunung. Ini sudah diuji dengan jam atom. Bahkan sistem GPS di ponselmu harus dikoreksi dengan efek ini, kalau tidak, posisimu akan meleset hingga beberapa kilometer per hari. Bukti Nyata yang Membungkam Para Penentang Salah satu prediksi paling dramatis dari relativitas umum adalah pembelokan cahaya oleh gravitasi. Cahaya bintang yang melewati dekat matahari seharusnya membelok sedikit karena ruang-waktu yang melengkung. Masalahnya, kita tidak bisa melihat bintang di siang hari—kecuali saat gerhana matahari total. Pada 29 Mei 1919, astronom Inggris Arthur Eddington memimpin dua ekspedisi ke Pulau Principe di Afrika dan Sobral di Brasil. Saat gerhana, mereka memotret bintang-bintang di sekitar matahari. Hasilnya, cahaya bintang membelok tepat seperti prediksi Einstein. Keesokan harinya, koran New York Times menyambutnya dengan judul besar. Einstein menjadi superstar dunia dalam semalam. Prediksi lain yang baru terbukti 100 tahun kemudian adalah gelombang gravitasi. Einstein sendiri sempat ragu apakah gelombang ini benar-benar ada atau sekadar artefak matematika. Pada 14 September 2015, observatorium LIGO di AS mendeteksi riak di ruang-waktu yang berasal dari dua lubang hitam bertumbukan 1,3 miliar tahun cahaya jauhnya. Tiga ilmuwan LIGO—Rainer Weiss, Barry Barish, dan Kip Thorne—mendapat hadiah Nobel Fisika 2017. Gelombang gravitasi kini menjadi mata baru bagi para astronom untuk melihat alam semesta, tidak hanya dengan cahaya tapi juga dengan getaran ruang-waktu. Mengapa Relativitas Penting untuk Hidupmu Hari Ini Kamu mungkin berpikir relativitas hanya untuk ilmuwan di laboratorium. Padahal, setiap kali kamu menggunakan Google Maps atau Waze di ponsel, kamu sedang menikmati relativitas. Satelit GPS mengorbit bumi dengan kecepatan tinggi dan berada di luar medan gravitasi bumi yang lebih lemah. Kedua efek ini—kecepatan dan gravitasi—mempengaruhi waktu di satelit. Tanpa koreksi relativitas, jam di satelit GPS akan meleset 38 mikrodetik per hari. Kelihatannya kecil, tapi untuk penentuan posisi, kesalahan itu membesar menjadi 10 kilometer per hari. Aplikasi navigasimu akan membawamu ke sungai, bukan ke alamat temanmu. Jadi, setiap kali kamu tidak tersesat, kamu berterima kasih pada Einstein. Kabar baiknya, kamu tidak perlu paham matematikanya untuk menikmati betapa gilanya alam semesta ini bekerja. Cukup ingat bahwa waktu tidak pernah sama untuk semua orang, dan gravitasi hanyalah ruang yang sedang membengkok karena keberatan membawa kita.

Illustrasi Artistik Bagaimana Rumitnya Relativitas Umum & Khusus (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi Artistik Bagaimana Rumitnya Relativitas Umum & Khusus (Gambar dibuat oleh Nano Banana AI)