Gaya Dakwah Retorika Habib Husein Jafar Al-Hadar

Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang
Tulisan dari Aditya Fatur Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia bersyukur memiliki Habib Muda yang turut menyebarkan Islam yang ramah, bukan marah marah; yang merangkul, bukan memukul. Husein Ja'far Al-Hadar adalah pemuda yang lahir di Bondowoso, Jawa Timur pada tanggal 21 Juni 1988 dan merupakan salah satu keturunan Nabi Muhammad yang sah. Gelar Habib ia dapatkan karena garis keturunan Nabi Muhammad melalui pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah. Garis keturunan tersebut ia dapatkan dari ayahnya. Habib Husein Ja'far lahir dan besar di keluarga keturunan Arab. Diawali dengan kakeknya yang datang ke Indonesia untuk berdagang, maka lahirlah seorang Habib Husein dikeluarga tersebut.
Menurut Habib Husein Jafar: “Dakwah bukan hanya bersifat kognitif, tetapi juga bersifat afeksi. Bukan hanya transfer knowledge, tetapi juga akhlak”. Menyampaikan dkawah bukanlah hal yang mudah, termasuk menyampaikan dakwah kepada anak muda. Oleh karena itu cara dakwah Habib Husein Jafar berbeda dari stereotip habib-habib selama ini. Menurutnya, berbicara kebenaran harus diiringi dengan kebaikan dan keindahan; kebenaran harus disampaikan dengan cara yang baik, dan lebih baik lagi jika dengan cara yang indah. Dakwah memang ada seni nya. Gaya dakwah Habib Husein Jafar dikenal membaur, toleran, dan tidak menggurui. Banyaknya pertanyaan dari netizen yang dianggap “nyeleneh” adalah bukti bahwa Habib Husein Jafar bernalar dalam menjawab isu keagaamaan namun tetap tidak keluar dari pakem syariat-syariat Islam. Dalam buku nya “Seni Merayu Tuhan”, Habib Husein Jafar mengatakakan bahwasanya; Jika ada pendakwah Islam yang justru mencerai-berai sesama muslim atas nama perbedaan pandangan, ia berarti telah mengkhianati Nabi. Karena Nabi mempersatukan, tapi ia mencerai-beraikan.
Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian, dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata kata yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu berarti orang lain dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Dengan demikian, secara sederhana dapat dikemukakan Retorika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau mempersoalkan tentang bagaimana cara berbicara yang mempunyai daya tarik yang mempesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah perasaannya. Pada saat ini para pendakwah berlomba-lomba menggunakan retorika yang menarik mad'u nya agar dakwah tersampaikan dengan baik. Termasuk Habib Husein Ja'far al Hadar yang menggunakan retorika dakwah untuk menarik audience. Logika yang sangat mendasar, sederhana, dan mudah dimengerti membuat banyak kaum millennial banyak menyukainya.
Sebelum berkadwah Habib Husein Jafar terlebih dahulu menulis dakwahnya di website atau koran nasional lalu diterbitkan dalam sebuah buku. Hal itu merupakan bentuk dakwah bil-qolam dan dakwah bil-lisan. Setelah itu ketika ia melihat peluang Youtube sangat besar untuk penyebaran dakwah, maka Habib Husein membuka saluran Youtube pribadi sebagai media untuk memperluas dakwahnya. Berdasarkan banyaknya orang yang berinteraksi dalam video dakwahnya, konsep retorika dialogika dan monologika adalah yang dilakukan Habib Husein. Konsep ini menerapkan diskusi dan tanya jawab. Tanya jawab ini biasa ia gunakan untuk segmen video dengan tema "Pemuda Tersesat" dengan Coki Pardede dan Tretan Muslim. Sedangkan diskusi ini biasanya kolaborasi dengan pemuka agama lain, seperti pendeta. Retorika monologika digunakan ketika ia sedang membuat ceramah, Habib Husein sendirian tanpa kolaborasi dengan siapapun. Contoh yang dilakukan Habib Husein ketika ia berbicara tentang Palestina. Tipe dakwah Habib Husein adalah rhetorically sensitive, yaitu tipe orator yang adaptif, cepat menyesuaikan dengan keadaan lingkungannya. Dibuktikan dengan Habib Husein yang mengetahui bahwa sasaran dakwahnya adalah anak muda, maka ia menyesuaikan caranya berdakwah dengan style yang menarik para pemuda untuk mendengar dakwahnya.
