Konten dari Pengguna

Opini - Jika Semua Orang Menjadi Sarjana, Apa yang Membuat Kita Berbeda?

Aditya Firmanto

Aditya Firmanto

mahasiswa universitas pamulang serang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditya Firmanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

kredit : dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
kredit : dokumen pribadi

Mengantongi gelar sarjana kini bukanlah sesuatu yang mustahil, termasuk bagi kalangan pekerja. Waktu kuliah yang fleksibel dan biaya yang relatif terjangkau membuat minat terhadap kuliah kelas karyawan semakin tinggi. Tentu hal tersebut menjadi sesuatu yang positif karena semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Namun, ketika bangku kuliah semakin mudah diakses dan gelar sarjana menjadi hal yang umum, muncul pertanyaan: setelah mendapatkan gelar sarjana, apakah satu lembar ijazah yang kita dapatkan akan memiliki nilai yang tinggi nantinya? Dalam pandangan saya, jika kita kuliah hanya sekadar datang, mengisi presensi, duduk, mengikuti pembelajaran, lalu pulang tanpa benar-benar memahami apa yang dipelajari, maka kuliah tersebut akan kehilangan maknanya. Bahkan, gelar yang diperoleh belum tentu menjadi pembeda ketika kita kembali bersaing di dunia kerja.

kredit : dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
kredit : dokumen pribadi

Kelelahan setelah bekerja dan kurangnya minat untuk belajar secara mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi karyawan yang mengambil kuliah di kelas karyawan. Di sisi lain, kemudahan dalam memperoleh akses pendidikan dengan biaya yang relatif terjangkau juga dapat membuat sebagian mahasiswa memandang kuliah hanya sebagai kewajiban yang perlu dijalani. Datang ke kelas, mengisi presensi, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, kemudian pulang menjadi rutinitas tanpa benar-benar memikirkan apa yang diperoleh dari proses tersebut. Terlebih lagi bagi karyawan yang sudah mempunyai keluarga yang pastinya akan memakan waktu luangnya yang bisa digunakan untuk belajar mandiri.

Sebagai karyawan yang juga berstatus sebagai mahasiswa perguruan tinggi, tentunya kita bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Misalnya, pada hari biasa ketika bekerja, waktu luang yang kita miliki dapat digunakan untuk mencicil belajar materi perkuliahan yang sudah dipelajari maupun yang akan dipelajari nantinya. Dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih dan serba AI seperti sekarang ini, seharusnya teknologi juga dapat kita manfaatkan untuk mendukung aktivitas belajar. Kita dapat meminta AI untuk merangkum artikel atau materi mata kuliah dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, atau memintanya membuat kuis sederhana agar kita dapat lebih memahami mata kuliah yang sedang dipelajari ataupun memintanya untuk membuatkan sebuah kuis sederhana agar kta bisa lebih makin memahami mata kuliah yang sedang kita pelajari.

Menurut saya, kuliah tidak hanya berakhir sekadar mendapatkan ijazah. Ada pengalaman, proses, serta cara berpikir yang ikut kita bawa setelah lulus. Karena ketika semakin banyak orang yang memiliki gelar sarjana, ijazah sudah tidak lagi menjadi satu satunya patokan kemampuan seseorang untuk dilihat. Soft skill yang perlu kita perbanyak agar mampu bersaing dengan lulusan yang sama atau bahkan lulusan dari perguruan tinggi ternama.

kredit : dokumen pribadi

Penulis : Aditya Firmanto (Mahasiswa Universitas Pamulang)