Dari GBK ke CFD, 40 Tahun Nenek Diah Menyusuri Jalan Jakarta Setiap Minggu Pagi

Langkah kaki Diah (57) menyusuri jalanan Jakarta pada Minggu pagi. Dari rumahnya di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, ia berjalan kaki sekitar 10 menit menuju kawasan Car Free Day (CFD) HR Rasuna Said.
Pagi itu, Diah tidak datang sekadar untuk berjalan-jalan. Ia ingin berolahraga, mencari keringat, sekaligus menikmati suasana Jakarta yang sementara terbebas dari padatnya lalu lintas kendaraan.
Bagi Diah, Minggu pagi di ruang publik Jakarta bukan sekadar rutinitas. Kebiasaan itu telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun, jauh sebelum CFD dikenal seperti sekarang.
Ia mengaku mulai rutin berolahraga sejak 1987, ketika usianya masih sekitar 20-an tahun. Kala itu, Diah lebih dulu menjadikan kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, sebagai tempat berolahraga.
"Saya CFD dari tahun 87 sebelum ada CFD. Tapi di Senayan, GBK. Subuh lari di GBK. Akhirnya kalau saya setiap minggu dulu ke GBK sebelum ada CFD," kata Diah saat ditemui kumparan di acara Jakarta Penuh Warna (JPW) di CFD HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (27/9) pagi.
Waktu berlalu. Ruang publik Jakarta berubah, begitu pula tempat Diah berolahraga. Kebiasaannya kemudian berpindah mengikuti perkembangan CFD di Ibu Kota. Ia mulai rutin mengikuti CFD di kawasan Sudirman.
Hampir setiap Minggu, Diah berjalan kaki dari rumah menuju kawasan CFD. Ia mengaku tidak pernah absen.
"Makin rutin lagi. Tiap Minggu nggak pernah libur," ujarnya.
Kini, Diah mulai mencoba suasana baru di CFD HR Rasuna Said. Minggu (27/9) merupakan kali kedua ia mengikuti CFD di kawasan tersebut.
Jarak bukan persoalan bagi Diah. Berjalan kaki sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Bahkan, ia mengaku sanggup berjalan kaki hingga kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) setiap Minggu.
"Orang saya ke HI aja kuat, tiap minggu jalan kaki pulang pergi. Tiap minggu. Dari dulu. Dari muda," katanya.
Diah tidak menggunakan aplikasi olahraga untuk mencatat kecepatan ataupun jarak tempuh. Baginya, olahraga tidak perlu dibuat rumit. Yang terpenting adalah tubuh tetap bergerak.
"Pake Strava? Nggak pernah. Ibu yang penting olahraga," ucapnya.
Minggu pagi bagi Diah juga bukan hanya soal olahraga. CFD menjadi ruang untuk berjalan-jalan, menikmati suasana kota, sekaligus kulineran. Pagi itu, ia datang bersama dua orang lainnya. Salah seorang temannya merupakan penyandang tunawicara yang ia ajak menikmati suasana CFD.
"Ya CFD aja. Kulineran, jalan-jalan gitu," kata Diah.
Ada alasan lain yang membuat Diah datang ke CFD HR Rasuna Said pagi itu. Ia mengetahui kegiatan Jakarta Penuh Warna melalui media sosial Instagram.
"Karena ada Ayu Tingting. Selain rutinitas ada Ayu Tingting. Kita kan update Instagram," ujarnya sambil tertawa.
Hampir empat dekade menjalani rutinitas olahraga di ruang publik Jakarta membuat Diah menyaksikan perubahan kota dari dekat. Salah satu yang paling terasa menurutnya adalah semakin banyak warga yang memanfaatkan ruang publik untuk berolahraga.
"Bedanya ya kayaknya semakin ramai aja ya," jelasnya.
Menurut Diah, pembagian lokasi CFD di beberapa kawasan juga membuat kepadatan warga tidak terpusat di satu tempat. Kawasan HR Rasuna Said, menurutnya, relatif lebih ringan dibandingkan kawasan Sudirman yang ramai.
Perubahan juga ia rasakan dari sisi fasilitas. Menurut Diah, ruang publik Jakarta kini semakin baik dan semakin banyak digunakan pejalan kaki.
"Banyak sih. Makin bagus," katanya.
Bagi Diah, CFD juga memberikan kesempatan bagi warga untuk sejenak menikmati Jakarta tanpa kepadatan kendaraan. Suasana itu menjadi ruang untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari.
"Bagus banget sih. Bagus buat kalau kita pikiran lagi sumpek gitu ya, pikiran lagi sumpek jalan-jalan begini kan enak ya dilihat," tegasnya.
Ia juga merasakan manfaat lain dari penutupan sementara sejumlah ruas jalan untuk kendaraan bermotor. Jalanan yang biasanya padat berubah menjadi ruang bagi warga untuk bergerak.
"Nggak macet, kosong," katanya.
Sebagai warga yang tinggal di kawasan Setiabudi, Diah tahu betul bagaimana kemacetan menjadi bagian dari keseharian Jakarta Selatan. Bahkan, menurutnya, kemacetan tidak hanya terjadi di jalan-jalan besar.
"Pokoknya Jakarta Selatan nggak di daerah Satrio apa di gang-gang kecil aja macet," ujarnya.
Kini, di usia 57 tahun, Diah masih mempertahankan kebiasaan yang dimulainya ketika berusia sekitar 20-an. Hampir empat dekade berlalu, Minggu paginya masih diisi dengan langkah kaki, keringat, dan ruang publik Jakarta.
