Kumparan Logo

Bagaimana Cara Temukan 3 Planet Layak Huni di Galaksi Lain?

kumparanTECHverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi sistem galaksi Trappist-1. (Foto: NASA / JPL-Caltech)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sistem galaksi Trappist-1. (Foto: NASA / JPL-Caltech)

Penemuan soal sistem tata surya dengan 7 planet dan 3 di antaranya dinyatakan layak huni, membuat dunia astronomi bersorak gembira karena memberi harapan alternatif rumah baru bagi manusia. Sistem tata surya itu berada nun jauh di sana, sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi, dan diberi nama galaksi Trappist-1. Ihwal pemberian nama galaksi Trappist-1 itu dimulai dari Chile di pada Mei 2016. Nama Trappist sendiri diambil dari sebuah sistem teleskop canggih bernama The Transiting Planets and Planetesimals Small Telescope ITRAPPIST). Awalnya, para peneliti mengumumkan Trappist-1 memiliki tiga planet. Penelitian ini kemudian dilanjutkan dengan memanfaatkan beberapa teleskop di darat, termasuk Very Large Telescope dari European Southern Observatory. NASA kemudian ikut meneliti Trappist-1 memanfaatkan kecanggihan teknologi teleskop inframerah di angkasa, Spitzer Space Telescope, yang dioperasikan dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di Pasadena, California, AS. Melalui Spitzer ini, NASA kemudian menggunakan metode transit untuk mengukur orbit, massa, dan ciri lain dari ketujuh planet, ketika mereka lewat di depan bintang induknya sehingga menyebabkan cahaya yang dipantulkannya meredup sesaat.

video youtube embed

Untuk sementara ini para peneliti memberi nama bintang induk dan nama planet dalam sistem Trappist-1, dengan urutan alfabet. Bintang induk diberi nama "a" dan planet yang paling akhir adalah "h." Tiga exoplanet yang diprediksi oleh NASA layak huni adalah planet e, f, dan g. Ketiganya bisa jadi rumah baru bagi manusia karena memiliki air cair di permukaannya dalam bentuk danau atau lautan yang bisa menjadi kunci kehidupan.

Ilustrasi air di planet dalam Trappist-1. (Foto: NASA / JPL-Caltech)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi air di planet dalam Trappist-1. (Foto: NASA / JPL-Caltech)

Pengamatan 7 planet dari sistem Trappist-1 tidak hanya dilakukan dengan satu teleskop saja. NASA dibantu dengan dukungan teleskop darat lainnya yang tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk The Transiting Planets and Planetesimals Small Telescope (TRAPPIST) di Chile yang namanya kemudian diabadikan untuk sistem bintang layak huni itu. Teleskop Universitas Liverpool John Moores di La Palma, Spanyol, juga turut berperan dalam penelitian ini. Teleskop ini dapat dikontrol secara robotik serta mengobservasi sendiri tanpa campur tangan manusia. Pada saat matahari terbenam misalnya, jika kondisi cuaca mendukung, maka teleskop akan membuka diri dan bekerja mengobservasi sesuai dengan yang diperintahkan sebelumnya. Penemuan terbesar NASA ini bisa menjadi bagian penting dalam teka-teki menemukan lingkungan layak huni yang kondusif untuk hidup. Maka dari itu, penelitian lebih lanjut mengenai exoplanet di sistem Trappist-1 ini akan terus dilancarkan para ilmuwan astronom dunia. Teleskop NASA Hubble Space Telescope kini juga dikerahkan untuk meneliti planet-planet dalam sistem bintang yang layak huni itu. Pengamatan itu bertujuan untuk mengetahui kandungan hidrogen di atmoster dan kandungan gas lain yang ada di sana. Amerika Serikat melalui NASA berjanji mengerahkan sumber daya alat dan tim peneliti astronomi lain dalam Kepler, Jet Propulsion Laboratory (JPL), dan nanti ada James Webb Space Telescope di tahun 2018 yang akan membantu penelitian Trappist-1. Webb dirancang agar turut mengamati kandungan kimia pada air, metana, oksigen, ozon, dan komponen lain pada atmosfer planet di Trappist-1. Webb juga akan menganalisis suhu dan tekanan permukaan.