• 7

Melihat Peluang di Tengah Kebutuhan Profesi Programmer di Indonesia

Melihat Peluang di Tengah Kebutuhan Profesi Programmer di Indonesia


Ilustrasi mengetik di laptop

Ilustrasi mengetik di laptop. (Foto: Pexels)
Di luar perusahaan teknologi, kebutuhan pasar atas pekerjaan ahli pemrograman terus meningkat. Digitalisasi nyaris di semua lini membuat kebutuhan programmer terus meningkat, bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan Glassdoor, delapan dari 25 pekerjaan paling diinginkan adalah dari industri teknologi.
Kebutuhan atas ahli pemrograman komputer di Indonesia pun, bukan hanya dibutuhkan oleh perusahaan swasta, tetapi juga ada kebutuhan besar di sektor pemerintahan.
Di tengah geliat kebutuhan atas programmer ini, mulai lah bermunculan startup yang kemudian sangat agresif memberikan semacam pendidikan singkat bagi mereka yang hendak menjadi programmer. Sebut saja Hactiv8 yang berbasis di Jakarta dan Refactory.id yang berbasis di Bandung.
mengakui jika peluang besar sebagai programmer di industri digital terbuka sangat lebar, terlebih untuk pasar Asia, termasuk Indonesia.
Refactory.id sendiri mencoba untuk mengambil peluang tersebut dengan membuka bootcamp singkat di Bandung, bagi programer kelas menangah untuk meningkatkannya pada level profesional setiap tiga bulan sekali. Kursus semacam ini diselenggarakan untuk memantapkan langkah para programmer untuk masuk ke dalam industri, karena kebutuhan industri belum bisa terpenuhi dengan sumber daya manusia yang ada saat ini.
"Sulit memang jika yang ikut bootcamp kami itu tanpa dasar sama sekali di dunia coder dan pemrograman. Karena waktu yang singkat hanya tiga bulan. Tapi tidak menutup kemungkinan ke depan untuk membuka kelas bagi para peminat newbie," ujar Taufan, Rabu (6/9).
Di Indonesia sendiri, belum banyak penyedia bootcamp profesional seperti Refactory.id, namun hal itu akan menjadi tren dalam beberapa tahun kedepan. Beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya telah hadir beberapa bootcamp, dengan harga yang bervariasi antara Rp 30 hingga Rp 40 juta untuk setiap batch, dalam waktu 12 pekan, dengan tingkat kepadatan belajar yang luar biasa.
"Di Refactory, kelas kami gelar lima hari seminggu, per harinya 12 jam selama satu batch atau 12 minggu. Sangat, padat kan?"
Cukup mahal, namun jika dibandingkan kursus singkat yang setara bagi para coder dan programer di luar negeri, itu berada di angka 10 ribu dolar AS hingga 15 ribu dolar AS atau Rp 130 juta sampai 180 jutaan.
Laporan dari Burning Glass di tahun lalu mengatakan jika ada 7 juta lapangan pekerjaan bagi para programmer dan hal itu sangat impresif sejauh 12 persen dari rata-rata serapan lapangan pekerjaan secara global. Burning Glass pun mencatat, pendapatan seorang programmer lebih tinggi 22.000 dolar AS dari pekerja profesional lainnya dalam rata-rata per tahun.
Di Indonesia sendiri, ladang industri digital yang begitu luas masih mengalami keterbatasan "petani penggarap." Itulah yang menjadi tantangan Pemerintahaan Joko Widodo yang bertekad memberikan akses internet di seluruh Nusantara pada 2019. Sementara itu, bersamaan dengan tumbuhnya digitalisasi di segala sektor, kebutuhan atas para programmer otomatis tak bisa dipisahkan.
Dengan koneksi internet yang baru dirasakan tidak lebih dari 80 juta orang Indonesia, bisa dibayangkan seberapa besar peluang saat internet telah merata di Nusantara yang menghinggapi 250 juta jiwa? Tapi peluang itu berlaku bagi mereka yang telah siap.

Maka persiapkanlah sedari sekarang. Dan perlu diingat, itu hanya di Indonesia saja, karena dunia saat ini adalah sebuah 'Global Village'.

- Taufan Aditya, CEO Refactory.id



TeknologiStartupAplikasi MobileAndroidiOS

500

Baca Lainnya