Siang-Malam yang Abadi di 3 Planet Layak Huni Mengandung Air

Masih banyak hal misterius belum terungkap atas tiga planet layak huni, dari total tujuh planet dalam sistem tata surya Trappist-1 yang hari ini diumumkan oleh NASA. Dari sekian banyak fakta yang telah terungkap, NASA mengungkapkan fenomena menarik bahwa sistem pasang-surut di planet-planet itu terkunci. Ini berarti cuaca di sana sama sekali tak seperti Bumi. Di sana tak ada angin kencang yang berubah dari siang ke malam hari atau perubahan suhu ekstrem. Siang hari dan malam hari, juga abadi di sana. NASA mengatakan sisi permukaan yang sama dari planet akan selalu menghadap ke bintang induk. Sisi gelap permukaan planet juga tak akan pernah bertemu dengan sinar dari bintang induk. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada tiga planet yang disebut NASA layak huni di dalam sistem Trappist-1. Empat planet lain yang sejauh ini disebut tidak layak huni, juga mengalami sistem pasang-surut yang terkunci. NASA mengatakan galaksi Trappist-1 berjarak 40 tahun cahaya dari Bumi. Jarak sistem planet ini, relatif dekat dengan sistem tata surya kita, Bima Sakti. Nama Trappist-1 merupakan singkatan dari The Transiting Planets and Planetesimals Small Telescope (TRAPPIST), yang pertama kali diberikan di Chile pada Mei 2016. Waktu itu, para peneliti mengumumkan Trappist memiliki tiga planet. Penelitian ini kemudian dilanjutkan dengan memanfaatkan beberapa teleskop di darat, termasuk Very Large Telescope dari European Southern Observatory. Tim yang mengoperasikan Spitzer Space Telescope di NASA awalnya membenarkan ada dua planet dalam sistem tata surya tersebut, kemudian ditemukan lima planet tambahan, sehingga meningkatkan jumlah planet dalam Trappist-1 menjadi tujuh.

Penelitian untuk menemukan fakta baru atas planet-planet di Trappist-1 bakal gencar dilakukan oleh NASA yeng bakal mengerahkan sumber daya manusia dan alat penelitiannya. Badan antariksa lain juga kemungkinan besar akan mengarahkan penelitiannya ke sana. "Sistem Trappist-1 memberi salah satu peluang terbaik untuk dekade berikutnya dalam mempelajari atmosfer di sekitar planet seukuran Bumi," kata Nikole Lewis, pemimpin dalam studi Hubble dan astronomi di Space Telescope Science Institute di Baltimore, Maryland. Sejauh ini juga diketahui, tujuh planet dalam Trappist-1 mengorbit lebih dekat dengan bintang induk mereka daripada jarak mengorbit Merkurius dengan Matahari kita. Planet-planet di Trappist-1 berada sangat dekat satu sama lain. NASA mengatakan, jika seseorang berdiri di salah satu permukaan planet pada Trappist-1, mereka bisa melihat dan berpotensi melihat fitur geologi atau awan dari planet tetangga. Bisa jadi planet tetangga itu terlihat lebih besar dibandingkan Bulan jika dilihat dari Bumi.
