Konten dari Pengguna

Di Kelas Itu, Saya Melihat Keadilan Sosial Tidak Lagi Ada di Buku

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditya Perdana Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak-anak menerima menu MBG setelah Tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Foto: Dok. Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak menerima menu MBG setelah Tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Foto: Dok. Bakom RI

Ada satu pemandangan yang cukup sering saya lihat di kelas pada jam-jam pelajaran siang: beberapa kepala anak-anak mulai tertunduk di atas meja. Sebagian terlihat kehilangan fokus, sebagian lainnya mulai lebih banyak diam.

Awalnya, saya mengira mereka hanya lelah setelah mengikuti pelajaran sejak pagi.

Namun, semakin lama mengajar, saya mulai memahami bahwa kondisi anak-anak di kelas tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka di rumah.

Saya mengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sebuah SMK Negeri di pedesaan Lampung Barat. Di tempat saya mengabdi, kehidupan anak-anak sangat dekat dengan realitas keluarga mereka. Sebagian besar orang tua bekerja di ladang dan kebun, bergantung pada hasil panen dan cuaca yang tidak selalu bersahabat.

Ada anak yang harus membantu orang tuanya sebelum berangkat sekolah. Ada yang menempuh perjalanan cukup jauh. Ada pula yang pola makan hariannya belum selalu ideal karena kondisi dan kemampuan masing-masing keluarga.

Bukan berarti mereka tidak mendapatkan makanan sama sekali. Bukan pula karena orang tua tidak memperhatikan anak-anaknya.

Hanya saja, dalam kondisi tertentu, pemenuhan kebutuhan keluarga memang harus disesuaikan dengan kemampuan yang ada. Pilihan makanan pun terkadang lebih banyak ditentukan oleh apa yang tersedia dan terjangkau.

Sebagai guru, saya tidak melihat persoalan ini dari angka-angka statistik. Saya melihatnya dari perubahan kecil di dalam kelas.

Ketika memasuki jam-jam pelajaran siang, beberapa anak mulai kehilangan konsentrasi. Ada yang terlihat mengantuk. Ada yang tidak seaktif biasanya. Diskusi yang pada pagi hari cukup hidup, perlahan menjadi lebih sepi.

Saya kemudian berpikir tentang hal yang sangat sederhana: bagaimana anak-anak bisa mengikuti proses belajar dengan baik jika kebutuhan dasar tubuh mereka belum sepenuhnya terpenuhi?

Di titik itu, saya sering merasakan ironi sebagai guru PPKn.

Bagaimana saya mengajak mereka memahami makna sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, sementara di dalam kelas sendiri saya melihat bahwa kondisi setiap anak untuk mengikuti pembelajaran tidak selalu sama?

Kemudian program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah kami.

Pada awal pelaksanaannya, saya tidak serta-merta melihatnya sebagai sesuatu yang sederhana. Ada berbagai penyesuaian yang harus dilakukan sekolah. Jadwal belajar berubah, distribusi makanan membutuhkan koordinasi, presensi harus dicatat dengan cermat, dan guru ikut memastikan makanan dibagikan secara tertib serta wadahnya kembali terkumpul.

Dalam praktiknya, guru memang mendapatkan pekerjaan tambahan.

Kami yang semestinya lebih banyak berkonsentrasi pada pembelajaran harus ikut memikirkan jumlah porsi, kehadiran siswa, hingga distribusi makanan.

Namun, pandangan saya perlahan berubah ketika saya berhenti melihat MBG sebagai urusan administrasi dan mulai melihatnya dari sudut pandang anak-anak.

Saya melihat sesuatu yang sederhana: mereka mendapatkan tambahan asupan yang bisa menunjang aktivitas mereka di sekolah.

Dan setelah itu, saya mulai melihat perubahan kecil di dalam kelas.

Anak-anak yang biasanya mulai kehilangan fokus pada jam pelajaran siang terlihat lebih mampu mengikuti pembelajaran. Mereka duduk lebih tegak. Mereka lebih aktif menjawab pertanyaan. Diskusi kelas terasa lebih hidup.

Perubahannya mungkin tidak dramatis. Tidak serta-merta membuat semua anak berubah menjadi siswa berprestasi.

Tetapi sebagai guru, saya bisa merasakan adanya energi yang sebelumnya mulai menurun, kemudian kembali muncul.

Saya tidak ingin meromantisasi keadaan. Gizi bukan sihir. Seporsi makanan tidak serta-merta membuat nilai ujian berubah menjadi sembilan atau sepuluh. Kemampuan berpikir kritis, kecerdasan, dan prestasi akademik dibentuk melalui proses panjang.

Tetapi proses panjang itu membutuhkan tubuh yang memiliki cukup energi untuk menjalaninya.

Dan bagi saya, di situlah arti penting MBG mulai terasa.

Bukan sekadar memberikan makanan kepada anak-anak, tetapi membantu memastikan mereka memiliki bekal fisik yang lebih baik untuk mengikuti proses belajar.

Yang lebih menarik bagi saya justru terjadi setelah makanan dibagikan.

Anak-anak belajar antre. Mereka belajar menunggu. Mereka belajar bahwa makanan yang tersedia harus dibagikan secara tertib dan adil.

Ketika ada teman yang sakit atau tidak masuk sekolah, saya melihat mereka berdiskusi sendiri tentang siapa yang akan mendapatkan porsi tambahan.

Tidak jarang mereka memilih memberikannya kepada teman yang dianggap lebih membutuhkan.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa. Namun, bagi saya sebagai guru PPKn, justru di situlah pendidikan karakter berlangsung.

Saya tidak perlu selalu berdiri di depan papan tulis dan berbicara panjang tentang gotong royong. Saya tidak harus berulang kali menjelaskan tentang tenggang rasa.

Mereka mempraktikkannya sendiri.

Di satu kesempatan, setelah makan, saya melihat anak-anak membersihkan meja mereka bersama-sama. Butiran nasi yang berserakan dikumpulkan. Wadah makanan ditata kembali.

Tidak ada perintah panjang dari guru. Mereka melakukannya karena mulai memahami bahwa makanan yang mereka terima juga membawa tanggung jawab.

Saat itulah saya berpikir: mungkin inilah salah satu bentuk pendidikan yang paling nyata.

Nilai-nilai Pancasila ternyata tidak selalu harus diajarkan melalui definisi dan hafalan dari buku. Kadang-kadang, ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: menunggu giliran, berbagi lauk, membantu teman, membersihkan meja, dan memastikan tidak ada orang di sekitar kita yang terabaikan.

Bagi saya, pengalaman itu mengubah cara pandang terhadap program MBG.

Tentu saja, masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Dari sisi rasa makanan, misalnya, saya pernah mencicipi sedikit sisa makanan yang tidak dihabiskan siswa. Menurut saya, makanan untuk anak-anak seharusnya lebih menekankan kualitas dan keseimbangan gizi daripada sekadar mengejar rasa yang kuat.

Evaluasi terhadap menu, distribusi, dan pelaksanaan tetap penting agar tujuan program benar-benar tercapai.

Namun, pengalaman di kelas mengajarkan saya satu hal: asupan yang baik memang bukan tujuan akhir pendidikan, tetapi dapat menjadi salah satu fondasi agar proses belajar berjalan lebih baik.

Karena itu, saya menyebut MBG sebagai bentuk investasi “leher ke bawah.” Negara memastikan kebutuhan gizi anak-anak mendapatkan perhatian agar mereka memiliki energi untuk tumbuh dan belajar.

Namun, setelah itu, kita tidak boleh lupa pada “leher ke atas.”

Untuk apa anak-anak mendapatkan makanan bergizi jika mereka belajar di ruang praktik yang fasilitasnya masih terbatas? Untuk apa tubuh mereka sehat jika perpustakaan sekolah kekurangan buku bermutu yang dapat menghidupkan rasa ingin tahu? Untuk apa kita berharap lahir generasi unggul jika guru yang mendampingi mereka setiap hari belum mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan yang layak?

Anak-anak membutuhkan keduanya: tubuh yang sehat dan pikiran yang dirawat.

Dan di situlah saya melihat pekerjaan pendidikan sesungguhnya belum selesai.

Sebagai guru yang mengajar di ujung Lampung Barat, saya mungkin tidak selalu bisa melihat hasil pendidikan dalam hitungan bulan atau bahkan tahun. Saya tidak tahu akan menjadi apa anak-anak yang hari ini duduk di depan saya.

Mungkin sebagian akan menjadi pekerja, pengusaha, teknisi, petani, birokrat, atau bahkan guru seperti saya.

Tetapi setiap kali melihat mereka makan bersama, tertawa, berdiskusi, berbagi, dan kembali bersemangat mengikuti pelajaran, saya mendapatkan alasan untuk tetap percaya.

Masa depan Indonesia ternyata tidak selalu tampak dalam gedung-gedung tinggi, angka pertumbuhan ekonomi, atau pidato tentang Indonesia Emas.

Kadang-kadang, masa depan itu duduk diam di bangku kelas paling sederhana, dengan seragam sekolah yang mulai lusuh, lalu mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya.

Dan tugas kita adalah memastikan anak-anak itu mendapatkan asupan yang cukup untuk belajar, cukup ilmu untuk berpikir, cukup ruang untuk bermimpi, dan cukup keadilan untuk percaya bahwa masa depan memang layak mereka perjuangkan.