Di Balik Filosofi Making Ever-Better Cars Toyota, Mengapa Mobil Harus Terus Diuji?

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota
zoom-in-whitePerbesar
Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota

kumparan bertemu Naoyuki Sakamoto, Chief Engineer GR Company yang tengah menggarap GR Corolla Morizo RR, di Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang pada pekan lalu.

Di tengah pembicaraan mengenai pengembangan mobil, Sakamoto menjelaskan makna di balik filosofi Making Ever-Better Cars yang selama ini menjadi pegangan Toyota dalam menciptakan kendaraan.

Baginya, tujuan dari proses tersebut sebenarnya sederhana. Toyota ingin membuat mobil yang bisa menghadirkan pengalaman menyenangkan bagi siapa saja yang mengemudikannya.

“Tujuannya untuk membuat siapa saja pengemudinya tersenyum dan mau lanjut berkendara lagi dan lagi,” ujar Sakamoto di Shimoyama, Jepang, Selasa (20/10).

Test course di Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota

Pernyataan itu memberi gambaran bahwa mobil yang lebih baik dalam pandangan Toyota, tidak berhenti pada urusan spesifikasi atau kemampuan teknis. Ada pengalaman yang ingin dirasakan pengemudi ketika berinteraksi dengan kendaraannya, hingga karakter yang muncul saat dikendarai.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pengembangan mobil melibatkan proses panjang yang terus berulang. Insinyur perlu menemukan kekurangan, mengevaluasi karakter kendaraan, kemudian memperbaikinya sebelum kembali melakukan pengujian.

Inilah implementasi dari filosofi Kaizen yang jadi pedoman Toyota, semangat untuk terus memperbaiki diri.

Test course di Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota

Lanjutnya Making Ever-Better Cars juga tak cuma pekerjaan satu tim. Pengembangan kendaraan melibatkan berbagai fungsi di Toyota, termasuk Lexus dan Gazoo Racing Company.

“Making Ever-Better Cars bukan cuma membuat mobil, tetapi benar-benar membuat mobil yang semakin baik. Di sini Lexus dan Gazoo Racing Company bersatu, termasuk dalam riset, engineering, marketing, sampai sales,” katanya.

Kerja bersama itu juga bisa melibatkan pebalap profesional. Bagi Toyota, masukan dari orang yang terbiasa mengemudikan mobil di lintasan dapat memberikan sudut pandang lain dalam menilai karakter kendaraan.

“Kadang kami berkolaborasi juga dengan pebalap profesional untuk mendapatkan sudut pandang atau pendapat lain dalam pengembangan. Jadi, pengembangannya dilakukan bersama-sama,” ujar Sakamoto.

Test course di Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota

Proses tersebut menjadi salah satu alasan Toyota mengembangkan Toyota Technical Center Shimoyama sebagai fasilitas yang memungkinkan kendaraan diuji secara langsung di lintasan.

Berada di kawasan pegunungan antara Toyota City dan Okazaki, Prefektur Aichi, fasilitas ini memiliki jalan berliku dengan perubahan elevasi yang membantu insinyur mengevaluasi perilaku kendaraan dalam berbagai kondisi.

Salah satu lintasannya membentang sekitar 5,3 kilometer dengan perbedaan elevasi mencapai 75 meter. Di sini, respons kemudi, kestabilan saat menikung, hingga perilaku suspensi dapat diamati ketika mobil menghadapi perubahan kontur jalan.

Toyota C-HR generasi terbaru di test course Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota

Temuan dari pengujian tersebut kemudian menjadi bahan untuk menyempurnakan kendaraan. Mobil kembali dievaluasi setelah perbaikan dilakukan, sehingga insinyur dapat melihat apakah perubahan yang dibuat benar-benar menghasilkan karakter berkendara yang diinginkan.

"Kami tidak pernah percaya bahwa satu pendekatan bisa cocok untuk semua orang. Kami menerapkan prinsip genchi genbutsu, yaitu mendatangi langsung tempat atau sumber suatu persoalan untuk melihat dan memahami sendiri apa yang sebenarnya terjadi," tambah President Toyota Motor Asia Hao Quoc Tien.

Prinsip genchi genbutsu mendorong para insinyur Toyota untuk memahami langsung bagaimana kendaraan digunakan. Mereka menghabiskan waktu di jalan dan bersama keluarga pengguna mobil, untuk melihat kebutuhan yang mungkin tidak sepenuhnya terwakili dalam proses pengembangan di atas kertas.

Test course di Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota

Dari situ, pengembangan kendaraan tidak hanya berangkat dari apa yang ingin dibuat oleh insinyur, tetapi juga dari kebutuhan orang yang akan menggunakannya. Perbedaan karakter pengemudi, kondisi jalan, dan aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari hal-hal yang perlu dipahami sebelum kendaraan disempurnakan.

“Makna ever better adalah kami tidak pernah merasa bahwa pekerjaan sudah selesai. Selalu ada cara yang lebih baik untuk melakukan sesuatu, dan setiap perbaikan ditujukan bagi orang-orang yang mengemudikan mobil, menjadi penumpang, serta menggantungkan aktivitasnya pada kendaraan tersebut,” kata Hao.

Toyota C-HR generasi terbaru di test course Toyota Technical Center Shimoyama, Nagoya, Jepang. Foto: dok. Toyota

Bagi Toyota, kemampuan teknis tetap penting, tetapi perbaikan yang dilakukan perlu memberikan manfaat bagi orang yang menggunakan kendaraan. Cara pandang serupa juga diterapkan dalam strategi mobilitas Toyota di Asia.

Hao menjelaskan, setiap negara memiliki infrastruktur, sumber energi, serta pola hidup dan mobilitas yang berbeda. Karena itu, Toyota menggunakan pendekatan multi-pathway untuk mencapai netralitas karbon, dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara.

“Tujuannya sama, tetapi jalannya beragam. Jalur yang tepat adalah jalur yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayaninya. Pemikiran yang sama juga menjadi pedoman kami dalam merancang kendaraan,” kata Hao.