Menperin: Pemerintah Tetapkan Arah Pengembangan Mobil Listrik Berbasis Nikel

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita membuka pameran otomotif GIIAS 2026.  Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita membuka pameran otomotif GIIAS 2026. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah mengarahkan pengembangan industri kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) yang memanfaatkan sumber daya alam Indonesia, khususnya nikel. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri.

Pernyataan itu disampaikan Agus saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (30/7). Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan mineral yang menjadi modal besar dalam membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.

"Di sisi lain kita wajib memanfaatkan kekayaan sumber daya alam kita, terutama nikel dan bahan-bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi BEV," ujar Agus.

Test drive Hyundai Kona EV Bekasi-Semarang single charge penuh. Foto: dok. HMID

Karena itu, lanjutnya, arah kebijakan pemerintah akan mendorong pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai yang memanfaatkan bahan baku domestik.

"Oleh sebab itu secara alamiah, secara wajar, tendensi kebijakan pemerintah pasti mengarah kepada produksi BEV yang berbasis nikel dan berbasis kekayaan bahan baku kita, sehingga penguatan industri dapat meningkatkan nilai tambah yang tetap berada di Indonesia," katanya.

Meski demikian, Agus menegaskan pemerintah tidak menempatkan satu teknologi sebagai lawan dari teknologi lainnya dalam proses transisi menuju kendaraan rendah emisi. Menurutnya, kendaraan listrik berbasis baterai, hybrid, mesin pembakaran internal yang semakin efisien, hingga penggunaan biodiesel dan bioetanol memiliki tujuan yang sama.

"Kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan hybrid, mesin pembakaran internal yang semakin efisien, pemanfaatan biodiesel maupun bioetanol, seluruhnya adalah jalan menuju tujuan yang sama, yaitu emisi yang lebih rendah dan ketahanan energi yang lebih kuat," ujarnya.

Baterai nikel Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Ia menambahkan, fokus utama pemerintah bukan menentukan teknologi mana yang akan mendominasi pasar di masa depan, melainkan memastikan semakin banyak teknologi tersebut diproduksi di dalam negeri.

"Pertanyaan strategis bagi Indonesia bukan teknologi mana yang akan memenangkan 10 tahun kemudian. Pertanyaannya adalah berapa besar bagian dari teknologi tersebut dibuat sendiri oleh anak bangsa," ucap Agus.

Lebih lanjut, Agus mengingatkan bahwa transisi energi harus dibarengi dengan penguatan struktur industri nasional. Menurutnya, elektrifikasi tanpa pendalaman industri hanya akan menciptakan ketergantungan baru terhadap produk impor.

"Transisi yang tidak disertai pendalaman industri hanya akan memindahkan ketergantungan kita dari satu bentuk impor kepada bentuk impor lainnya. Itu bukan merupakan transformasi, itu hanya pergantian ketergantungan," tutupnya.