Manchester United yang Menjadi Klub Medioker

mahasiswa ittp
Tulisan dari Aditya Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manchester United Football Club adalah sebuah klub sepak bola profesional Inggris yang berbasis di Old Trafford, Manchester Raya, yang bermain di Liga Inggris. Didirikan sebagai Newton Heath LYR Football Club pada tahun 1878, klub ini berganti nama menjadi Manchester United pada 1902 dan pindah ke Old Trafford pada tahun 1910. Manchester United telah memenangkan banyak trofi di sepak bola Inggris, termasuk rekor 20 gelar Liga, 12 Piala FA, 4 Piala Liga dan rekor 21 FA Community Shield. Klub ini juga telah memenangkan tiga Piala Eropa, satu Piala UEFA, satu Piala Winners UEFA, satu Piala Super UEFA, satu Piala Interkontinental dan satu Piala Dunia sesama klub FIFA. Pada 1998-1999, klub memenangkan tiga piala sekaligus dari Liga Premier, Piala FA dan Liga Champions, prestasi belum pernah terjadi sebelumnya untuk klub Inggris.
Pada saat itu, Manchester United dipimpin oleh Sir Alex Ferguson sejak tahun 1986 dan Beliau menyatakan pensiun pada tahun 2013. Sir Alex Ferguson sendiri adalah mantan manajer dan pemain sepak bola Skotlandia. Terdapat empat pelatih yang menggantikan Sir Alex setelah pensiun, namun tidak bisa dipungkiri keempat pelatih tersebut masih belum bisa menerapkan permainan terbaik layaknya saat dilatih oleh Sir Alex Fergusion
Dimulai dari David Moyes yang menggantikan Sir Alek pertama kalinya. Para penggemar sepertinya tidak terlalu yakin akan kinerja sang Pelatih dikarenakan prestasi-prestasi sebelumnya yang kurang begitu menonjol. Akan tetapi, David Moyes sejatinya orang pilihan yang dipilih langsung oleh Sir Alex Ferguson sebagai suksesor di Manchester United pada Mei 2013. Pria Skotlandia itu sebenarnya dikontrak Manchester United selama enam tahun, namun kenyataannya David Moyes hanya dipertahankan selama 10 bulan saja. Kondisi itu membuat salah satu pemain andalan United, Marouane Fellaini frustrasi dan putus asa hingga menangis saat mengetahui Moyes dipecat. Manchester United harus puas berada di posisi ke-8. Memang ini adalah hasil terburuk United setelah ditangani David Moyes di musim 2013-2014, tetapi David Moyes berhasil mendapatkan trofi Community Shield di awal musim. Mungkin itu menjadi satu-satunya nilai positif yang David Moyes untuk timnya di musim ini. Karena nilai negatif yang ditorehkan pelatih asal Skotlandia ini lebih banyak selama kepelatihan.
Setelah David Moyes dipecat, United merekrut pelatih asal Belanda yaitu Louis van Gaal. Pada era Louis van Gaal, United jorjoran beli kurang lebih 13 pemain yang merapat ke Manchester United. Dua musim menangani Setan Merah, alhasil Louis van Gaal gagal menjuarai Premier League. Meski begitu, dia berhasil mempersembahkan Piala FA pada musim 2015-2016. Nama Adnan Januzaj sempat meroket ketika Manchester United dipimpin oleh David Moyes. David Moyes memberikan debut untuk Adnan Januzaj ke tim utama Manchester United pada musim 2013-2014. Beroperasi sebagai pemain sayap, Januzaj diberi kepercayaan oleh Moyes tampil sebanyak 27 kali di Liga Inggris. Dari penampilan tersebut, winger asal Belgia itu mampu menorehkan 4 gol dan 4 assist. Nasib Januzaj berubah total ketika estafet kepemimpinan United berpindah tangan ke Louis van Gaal. Januzaj yang sempat berlabel wonderkid itu justru lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai penghangat bangku cadangan. Dan setelah itu sang wonderkid meninggalkan klub lalu bersinar di klub spanyol yaitu Real Sociedad. Terdapat banyak pemain bintang di era Louis van Gaal seperti Angel Dimaria, Memphis Depay, dan masih banyak lagi namun meredup saat di Manchester United dan bersinar di klub yang dibelanya.
Kemudian diganti oleh Jose Mourinho, salah satu pelatih yang memiliki banyak sekali gelar yang diraih sebelum menangani United, bahkan Uefa Champions League paling bergengsi di dunia pun sudah pernah diraihnya. Pelatih yang dijuluki The Special One tersebut tidak terlalu menonjol karena formasi yang diterapkan dominan bertahan dan cenderung mengandalkan serangan balik, sehingga semua pemain tidak bisa bermain dengan skema yang baik karena keseringan untuk bertahan. Lugas, menjengkelkan, dan tanpa kompromi, itulah tiga kata yang tepat untuk menilai bagaimana kepemimpinan seorang Jose Mourinho. Meskipun karakternya tidak begitu disukai, namun sifat tadi yang justru membawa dirinya sampai saat ini masih bertahan sebagai salah satu manajer terbaik di dunia. Selama dua setengah musim menangani Manchester United, The Special One mempersembahkan tiga trofi, yakni Liga Europa dan gelar juara Piala Liga Inggris, satu trofi Community Shield. Semua pencapaian ini diraih Mourinho pada saat memimpin United, yaitu pada musim 2016-2017. Setelah itu permainan United tidak ada perkembangan, namun kian memburuk. United pun memecatnya pada tahun 2018 dan digantikan oleh Ole Gunnar Solskjaer.
Ole Gunnar Solskjaer adalah sosok yang pernah menorehkan sejarah emas bersama The Red Devils. Beliau ditunjuk menjadi pelatih sementara Manchester United pada 19 Desember 2018. Pada awal kepelatihan Ole, United tampil sangat impresif dengan kemenangan yang meyakinkan atas tuan rumah Cardiff City. Dalam 19 pertandingan pertamanya sebagai pelatih, Ole Gunnar Solskjaer sukses mempersembahkan 14 kemenangan. Karena penampilannya tersebut Ole sempat digadang-gadang akan menjadi penerus Sir Alek Ferguson. Akan tetapi, setelah resmi menjadi pelatih kepala, Ole tidak bisa meneruskan performa impresif seperti sebelumnya. Bahkan pada musim penuh pertamanya, Ole meraih catatan buruk usai tim besutannya gagal di tiga semi final, yakni Piala FA, Piala Liga Inggris, dan Liga Europa. Pembelian tersukses Ole hanya pada sosok Bruno Fernandes yang saat itu membela klub asal Portugal yaitu Sporting Lisbon. Selain itu tidak ada yang menonjol, bahkan pembelian bek United dengan nominal termahal di dunia, justru sering melakukan kesalahan sendiri saat di lapangan sehingga merugikan kiper. Kedatangan Bruno menjadi penyegar bagi United dan pembeda dalam melakukan serangan yang awalnya pasif menjadi kreatif di lapangan tengah sehingga aliran bola sangat cepat. Akan tetapi, United tidak bisa terus-menerus mengandalkan satu pemain karena membutuhkan koordinasi antar pemain. Setelah penampilan Bruno buruk, United juga tampil buruk karena otak permainan ada di Bruno Fernandes.
Seharusnya Ole bisa merotasi pemain yang ada dan tidak tergantung dengan satu pemain tersebut. Hasilnya pun tidak ada perbedaan dan selalu malakukan permainan yang membosankan untuk ditonton. Saat dipegang Ole, United belum mendapatkan satupun gelar juara. Pada awal tahun 2021, Ole mendatangkan Megabintang Cristiano Ronaldo yang diharapkan membangkitkan penampilan United dan dapat bersaing di papan atas Premier League. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi Ronaldo masih bisa membuktikan untuk bersaing dengan penyerang lainnya dan mencetak beberapa gol di United. Sampai saat ini perubahannya tidak terlalu menjanjikan karena skema permainan United masih buruk dan masih mengandalkan serangan balik. Manchester United memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Solskjaer usai kekalahan 1-4 di markas Watford. Pemecatan ini memang sudah bisa diprediksi jika melihat tren negatif yang dijalani Manchester United belakangan ini. Setan Merah hanya 4 kali meraih kemenangan dalam 13 laga terakhir di semua kompetisi. Manchester United menunjuk Michael Carrick untuk menjadi caretaker sembari melakukan pencarian manajer sementara hingga akhir musim. Ketika Ralf Rangnick datang, nasib Jadon Sancho dan wonderkid lain dipastikan akan berubah drastis.
Manchester United sejatinya masih membutuhkan lini belakang dan lini tengah bertahan yang memadai. Meskipun lini tengah sudah banyak, tetapi penampilan di lapangan tidak begitu bagus dan sering kehilangan bola. Untuk kiper dan penyerang sudah cukup bagus, ditambah lagi stok penyerang di bangku cadangan lumayan banyak. Namun masih banyak kekurangan perihal ketenangan saat menguasai bola, akurasi umpan antar pemain, terlalu lama memegang bola sehingga bola sering lepas, dan cara bertahan yang baik. Selebihnya masih lumayan, karena United saat ini dihuni oleh pemain pemain bagus. Sehingga hal tersebut harus bisa dimanfaatkan oleh pelatih berpengalaman yang memiliki banyak taktik sesuai kemampuan sang pemain. Semoga dengan datangnya Ralf Rangnick ini, Manchester United bisa kembali ke performa terbaik seperti saat dilatih oleh Sir Alex dan dapat memenangkan gelar juara baik di liga Domestik maupun di liga lainnya.
