Ritual Perjalanan dari Masa Dewasa – Masa Kematian dalam Masyarakat Jepang

Mahasiswa Universitas Airlangga
Tulisan dari Aditya Gilang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari manusia lahir sampai tumbuh besar pasti melewati beberapa tahapan kehidupan. Dimulai dari kelahiran, masa anak-anak, masa remaja, lalu masa dewasa, melewati masa tua, dan diakhiri dengan masa kematian. Terdapat banyak sekali kebudayaan yang dilakukan di seluruh penjuru dunia, di antaranya ialah upacara kelahiran, pernikahan, dan upacara kematian. Dari beberapa negara tertentu upacara kebudayaan memiliki keunikannya masing-masing dikarenakan faktor kondisi alam dan kebiasaan masyarakatnya. Upacara kedewasaan merupakan salah satu upacara yang banyak diadakan karena manusia yang mencapai usia dewasa adalah salah satu tahapan yang penting dalam kehidupan. Ritual kebudayaan dalam menyambut masa dewasa juga dapat disebut dengan inisiasi kedewasaan. Ritual kebudayaan di setiap daerah atau negara memiliki inisiasi kedewasaannya masing-masing. Terdapat upacara yang dilakukan dengan hanya mengecat tubuh dan ada juga upacara yang lebih meyakinkan dengan membuat tato di tubuh.
Benua Asia merupakan salah satu benua yang memiliki upacara kedewasaan yang terbanyak. Salah satunya adalah negara Jepang yang masih melakukan upacara kedewasaan hingga saat ini. Upacara kedewasaan di negara Jepang disebut dengan seijin shiki (成人式). Selain upacara kedewasaan, di Jepang juga terdapat tradisi yang dilakukan orang lanjut usia yang sudah mencapai 60 tahun. Ada pula upacara kematian di Jepang yang disebut dengan soushiki (葬式) Dalam kehidupannya, ritual-ritual kebudayaan dan perayaan keagamaan melekat pada masyarakat di Jepang. Secara tidak langsung, berbagai kepercayaan yang ada di Jepang turut mempengaruhi ritual atau upacara yang ada seperti upacara pemakaman yang sampai saat ini masih dilaksanakan.
1. Seijin shiki (成人式)
Seijin shiki (成人式) adalah upacara kedewasaan di Jepang yang dirayakan pada tanggal 15 Januari setiap tahunnya. Upacara kedewasaan ini diperuntukkan untuk masyarakat yang sudah menginjak usia 20 tahun. Upacara ini biasa diikuti oleh para wanita yang mengenakan furisode dan laki-laki yang mengenakan setelan jas atau hakama. Upacara ini biasanya berlangsung di aula dan terdapat pemberian hadiah upacara. Dalam pelaksanaan upacara kedewasaan tokoh penting juga turut hadir seperti walikota, kepala eksekutif komite, dan siapapun yang memiliki kepentingan signifikan di kota. Tokoh-tokoh tersebut akan memberikan pidato-pidato saat upacara berlangsung dan memberikan informasi penting, misalnya ketika sudah mencapai umur 20 tahun sudah berhak berpartisipasi dalam pemilihan umum dan telah dilegalkan untuk merokok, minum minuman keras, dan mengemudi. Upacara kedewasaan yang dilakukan di negara Jepang memiliki tujuan untuk membantu kaum muda agar mereka dapat berjalan mulus menghadapi perubahan yang ada. Karena dengan menjadi dewasa berarti menjadi individu yang dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan bertanggung jawab dalam komunitasnya.
Dalam seijin shiki setiap daerahnya memiliki struktur acara yang berbeda, berikut tata pelaksanaannya.
a. Pemberian Undangan
Karena seijin shiki adalah perayaan tahunan resmi dari pemerintah, maka para peserta seijin shiki akan mendapatkan undangan. Undangan biasanya didistribusikan pada 1 bulan hingga 1 minggu sebelum acara berlangsung.
b. Susunan Pelaksanaan Seijin Shiki
Waktu pelaksanaan biasanya berlangsung selama 1-2 jam, dan peserta yang datang diwajibkan untuk membawa undangan yang telah diterima sebelumnya. Selanjutnya terdapat pidato dan ucapan selamat dari tokoh-tokoh penting yang ada, dilanjutkan dengan pertunjukkan kebudayaan, video motivasi kedewasaan, atau hiburan lain dengan tujuan memeriahkan jalannya upacara.
c. Pakaian Seijin Shiki
Sebagai sebuah upacara, pakaian yang dikenakan ketika berpartisipasi dalam upacara seijin shiki umumnya menggunakan pakaian yang formal. Para perempuan Jepang yang berpartisipasi dalam seijin shiki biasanya mengenakan kimono formal berlengan panjang yang disebut dengan furisode. Furisode (振袖) ialah salah satu pakaian tradisional yang diperuntukkan bagi perempuan di Jepang yang belum menikah. Perbedaan antara furisode dengan kimono terletak pada panjang lengannya. Sedangkan, untuk laki-laki mengenakan setelan jas formal lengkap dengan dasi atau biasanya mengenakan haori dan hakama. Haori adalah pakaian formal tradisional dan kemudian dipasangkan dengan bawahannya yaitu hakama.
2. Perayaan Ulang Tahun ke-60
Setelah melewati masa dewasa, orang Jepang memiliki tradisi lain yang biasanya dilakukan di masa tua. Tradisi tersebut ialah perayaan ulang tahun bagi orang yang sudah mencapai usia 60 tahun. Di Jepang, seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun dianggap berhasil dan memiliki umur yang panjang. Ketika melakukan perayaan ulang tahun ke-60 ini, orang yang berulang tahun akan mengenakan pakaian serba merah. Alasan mengapa orang yang berulang tahun mengenakan pakaian serba merah adalah karena warna merah melambangkan kelahiran kembali. Merah dalam bahasa Jepang adalah aka (赤) diibaratkan sebagai bayi yang dalam bahasa Jepang adalah aka-chan (赤ちゃん). Perayaan ulang tahun ke 60 tahun diadakan dengan keluarga, kerabat, dan orang terdekat. Kemudian, mereka akan berdoa agar setiap orang yang hadir dalam perayaan ulang tahun tersebut dapat memiliki hidup yang sehat dan dapat berumur panjang juga.
3. Soushiki (葬式)
Upacara pemakaman atau dalam bahasa Jepang bisa disebut dengan soushiki (葬式). Soushiki dilaksanakan dengan tujuan untuk mendoakan roh orang yang meninggal ke dunia selanjutnya meliputi masa semayam jenazah, kremasi, dan penguburan. Upacara pemakaman biasanya akan diadakan di kuil, aula pemakaman, atau di rumah orang yang telah meninggal. Kematian merupakan hal yang mustahil untuk dihindari, ketika saat itu sudah tiba upacara yang sakral akan diadakan menurut tradisi yang sudah ada. Di Jepang upacara pemakaman dilaksanakan dengan tata cara Budha dan jenazahnya tidak dikuburkan, tetapi dikremasi. Upacara Pemakaman di Jepang dibagi menjadi dua yaitu Otsuya dan Ososhiki. Otsuya adalah upacara yang di mana semua orang terdekat mulai dari keluarga, kerabat, dan teman-teman mendiang memberikan penghormatan terakhir dan mempersembahkan dupa. Sedangkan, ososhiki adalah upacara pemakaman yang di dalamnya terdapat beberapa rangkaian upacara. Dimulai dari upacara sougi yang mirip dengan otsuya, kemudian dilanjutkan dengan melakukan penghormatan terakhir pada mendiang. Dan diakhiri dengan upacara kremasi yang hanya dilakukan oleh keluarga orang yang meninggal.
Dalam menghadiri upacara kematian, penampilan sangat perlu diperhatikan dan terdapat aturan saat menghadiri upacara. Pakaian bagi pria dan wanita pastinya berbeda. Pakaian yang dikenakan pria adalah jas hitam dan kemeja putih, berdasi hitam tanpa pin. Sepatu sampai kaus kaki pun harus berwarna hitam. Sedangkan, pakaian wanita yang dikenakan adalah dress atau kimono formal yang berwarna hitam. Sepatu, tas, dan lain-lainnya juga berwarna hitam.
Kemudian terdapat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan ketika menghadiri upacara pemakaman, yaitu persembahan dupa kepada mendiang. Ketika menghadiri soushiki tidak lupa untuk memberikan okoden atau uang duka. Okoden diberikan untuk membantu meringankan beban biaya yang ditanggung pihak keluarga yang ditinggalkan. Perilaku ketika menghadiri upacara juga perlu diperhatikan dalam memberikan simpati kepada keluarga yang berduka dengan mengucapkan belasungkawa. Ketika upacara berlangsung, para hadirin diharap untuk tenang mendengarkan doa yang dilantunkan oleh biksu Budha.
Kebudayaan adalah suatu kebiasaan-kebiasaan yang ada di masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun. Jepang memiliki ritual atau upacara yang dilakukan selama kita berada di masa dewasa sampai dengan masa kematian dan pastinya memiliki tujuannya masing-masing. Masa dewasa terdapat upacara kedewasaan yang mencerminkan betapa pentingnya usia dewasa dalam kehidupan masyarakat. Ketika seseorang telah melewati masa anak-anak sampai masa remaja, maka masa dewasa adalah titik di mana perubahan besar akan terjadi dalam hidup seseorang mulai dari perubahan fisik, mental, dan spiritualnya. Setelah masa dewasa, terdapat masa tua yang biasanya pada ulang tahun ke 60 tahun akan diadakan perayaan dengan tujuan untuk berdoa dan bersyukur diberikan umur yang panjang. Dan terakhir masa kematian, kematian merupakan akhir dari kehidupan yang pastinya tidak dapat dihindari. Semua makhluk yang hidup pada akhirnya akan mengalami kematian entah itu dengan cara alami melalui penyakit atau karena suatu kecelakaan.
Perjalanan semua manusia selalu saja sama yang dimulai dari kelahiran, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, masa tua, dan diakhiri dengan kematian. Sebagai manusia yang masih diberikan umur yang panjang kita harus selalu memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada, agar supaya kita tidak menyesal ketika kita sudah tidak dapat melakukannya.
