Pura Segara Wukir dan Wisata Religi: Mengukir Kebinekaan di Bumi Handayani

Tulisan-tulisan ini tidak akan jauh-jauh dari penugasan saya sebagai mahasiswa Prodi Pariwisata FIB UGM
Konten dari Pengguna
1 Desember 2022 16:34
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari I Ketut Aditya Prayoga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Sumber: Dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen pribadi
Berbicara mengenai pura tentu yang terlintas dibenak kita adalah tempat peribadatan umat Hindu yang dijalankan dari, oleh, dan untuk umat Hindu. Namun, dengan autentik pura dengan arsitektur yang dibaluti filosofi membuat pura sering kali memiliki fungsi sekunder sebagai destinasi wisata yang mengundang berbagai wisatawan dari latar belakang. Hal ini juga yang berlaku pada Pura Segara Wukir yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
ADVERTISEMENT

Mengenal Lebih Dekat Pura Segara Wukir

Pura Segara Wukir menawarkan atraksi foto di depan gapura yang memiliki percampuran arsitektur khas Bali dan Jawa di kawasan Madya Mandala. Selama di sana, wisatawan juga dapat belajar filosofi dan sejarah Pura Segara Wukir dari pengempon (sekelompok pengusung) pura, salah satunya Pak Kadarismanto yang merupakan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memiliki Asma Paring Dalem Mas Surakso Kadar. Secara filosofi, nama pura ini berarti pertemuan antara laut dan gunung karena segara berarti laut dan wukir berarti gunung dalam bahasa Sanskerta.
Pura ini juga diyakini oleh masyarakat setempat sebagai lokasi pamoksan (pelepasan diri dari keduniawian dan lepas dari ikatan reinkarnasi) Raja Brawijaya V. Sehingga dari kepercayaan tersebut, kawasan pura yang satu areal dengan Pantai Ngobaran ini dijadikan tempat melasti oleh umat Hindu sejak dahulu hingga pada tahun 2005 dibangunlah Pura Segara Wukir oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
ADVERTISEMENT
Kini, Pura Segara Wukir telah berkembang dengan dibarengi tumbuhnya industri pariwisata di sekitarnya seperti toko perlengkapan sembahyang, suvenir, hingga makanan yang berbau seafood. Sementara itu, pengempon pura dan Kelompok Sadar Wisata Sido Rukun juga bergotong royong membangun citra wisata religi yang makin baik melalui pemasaran digital terutama lewat media sosial Instagram dan Facebook.

Toleransi adalah Kunci

Terletak di daerah yang bukan basis kepercayaan agama Hindu, bukan sebuah kendala bagi pelaksanaan pariwisata religi di Pura Segara Wukir. Di antara 16 pura yang ada di bumi Handayani, Gunung Kidul, Pura Segara Wukir memiliki kekhasan karena pengelolaannya bersinergi dalam kebinekaan.
Pengelola utama pura diusung oleh pengempon pura yang tentunya beragama Hindu tetapi lebih banyak yang mengarah pada Hindu Kejawen. Sementara itu, Kelompok Sadar Wisata Sido Rukun didominasi oleh masyarakat sekitar yang beragama Islam yang turut ambil bagian dalam pengelolaan parkir, photographer, dan pedagang yang bersama-sama mengelola pura dengan pengempon baik dari urusan lingkungan, ekonomi, politik, hingga sosial budaya.
ADVERTISEMENT

Setiap hari Senin dan Jumat, kami (pengempon, pokdarwis, pedagang, dan komunitas fotografi) diwajibkan mengikuti kerja bakti untuk membersihkan sampah lingkungan sekitar pura.

Ujar Pak Kadarismanto

Toleransi yang dibangun dalam pengelolaan Pura Segara Wukir disampaikan Pak Kadar hadir karena keberagaman tersebut. Hampir setiap hari bertemu antar pengelola membuat mereka telah mengenal satu sama lain dan mencoba menghormati kepercayaan orang lain. Bekerja dalam satu atap Pura Segara Wukir, mau tidak mau ego mereka harus dikesampingkan dan saling bekerja sama demi kemajuan pariwisata di Pura Segara Wukir.
Sumber: Dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen pribadi
Walaupun begitu, berada dalam keberagaman yang bukan hanya antar pengelola tetapi juga wisatawan, tentu terdapat peluang terjadinya gesekan. Pihak pengelola membuat peraturan bagi wisatawan yang akan masuk ke areal pura terutama terkait pakaian dan halangan bagi perempuan yang sedang datang bulan. Selain itu, pengempon pura membatasi wisatawan sekuler hanya bisa memasuki kawasan Nista Mandala dan Madya Mandala. Sedangkan kawasan Utama Mandala hanya diperuntukan bagi pengunjung atau wisatawan yang ingin bersembahyang.
ADVERTISEMENT
Namun, berdasarkan observasi dan wawancara dengan Pak Kadar, pada saat terdapat kunjungan kelompok umat yang sebelumnya telah menyampaikan akan melakukan persembahyangan di Pura kepada pihak pengempon. Maka, pihak pengempon akan membantu menyiapkan sarana persembahyangan mereka dan di hari pelaksanaan persembahyangan, kawasan Madya Mandala dan Utama Mandala disterilkan dari kunjungan wisatawan. Hal ini dilakukan untuk membantu umat yang bersembahyang dalam kondisi tenang dan meminimalkan gangguan.
Batasan tersebut hadir bukan dan dalam tulisan, namun secara lisan yang kemudian dari pihak pengelola yang lain menghormati batasan tersebut. Wisatawan pun akan diberikan pemahaman dan alasan untuk ikut serta menghormati bentuk batasan zonasi. Harapannya zonasi tersebut sebagai upaya untuk mengukir kebinekaan ke arah persatuan antar umat beragama guna menciptakan kehidupan yang sido rukun di bumi Handayani, di bumi Nusantara.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020