Hanna Keraf, Membangun Kemandirian Wanita Indonesia melalui Anyaman

Tulisan dari Adiyasa Prahenda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perempuan merupakan sosok yang begitu dihormati dan selalu mempertaruhkan nyawa untuk keluarga dan anak yang dilahirkannya.
Namun, banyak sekali masalah yang sering dialami, mulai dari masalah finansial sampai urusan melahirkan. Hal ini sering terjadi di daerah yang akses ke puskesmas begitu sulit. Terutama di daerah pedalaman, seperti di Nusa Tenggara Timur. Karena itu, Hanna Keraf, Co-Founder Du’Anyam tergerak hatinya untuk membantu para ibu-ibu ini.
Dimana, mereka tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Dan semuanya harus melalui suaminya. Apalagi, untuk pemeriksaan kandungan saja harus gunakan transportasi yang notabene begitu sulit sekali.
“Saat saya bekerja di LSM yang kebetulan di kampung saya di Nusa Tenggara Timur. Saya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sudah hamil anak ke-7 dan tidak tahu dia hamil,” ujar Hanna Keraf, Co-Founder Du’Anyam.
Karena latar belakang masalah itu, membuat Hanna dan temannya buat solusi terbaik untuk para perempuan di wilayah NTT, terutama akses transportasi dan bisa mandiri dalam memiliki uang.
“Untuk itu, kami membangun Du’Anyam untuk membantuk perempuan punya uang sendiri atau dana ekstra untuk membantu kehidupan mereka. Serta, bisa digunakan untuk biaya persalinan seperti ongkos transportasi ke Puskesmas atau Bidan,” tukas Hanna dalam takshow Kumparan.
Uniknya produn Du’Anyam begitu disukai oleh konsumen
Sebagai produsen barang kerajinan, Du’Anyam sendiri memiliki beberapa produk yang kualitasnya sangat dijaga. Apalagi, pertama kalinya mereka kenalkan produk seperti tenun NTT. Cuma tenun sendiri proses pembuatannya bisa memakan waktu lama. Untuk itu, ada sebuah kerajinan anyaman yang sering dibuat oleh mereka. Namun, kendala pun kembali datang.
“Tantangannya adalah membangun produk yang sesuai dengan keinginan konsumen dan klien. Tetapi, ibu perajin sendiri tidak bisa membuat produk dengan keinginan klien seperti desainnya sendiri pada belum bisa.” tambah Hanna.
Untuk itu, Hanna Keraf dan teman-teman sedikit berkorban dengan menolak salah satu orderan pertama dan terbesar. Demi mengajarkan para perempuan yang buat anyaman ini. Hal ini sedikit membuahkan hasil, Dimana mereka dapatkan order pertama setelah pelatihan terhadap perajin dari resor di Bali.
Berbentuk sendal hotel dan beberapa item untuk keperluan kamar. Tentunya, ini menjadikan pemasukan perdana bagi ibu-ibu perajin NTT.
Dengan target B2B, Du’Anyam sendiri mulai perlahan bangkit dan bisa membuat produk sesuai keinginan konsumen yang mayoritas perusahaan dan perhotelan.
“Kita selalu menjaga kualitas produk dengan melihat hasil pekerjaan mereka dan juga pengiriman dari NTT ke Jakarta atau ke tempat klien. Sebelumnya, hasil kerajinan ini kita tampung terlebih dahulu di salah satu ketua yang ditunjuk oleh kami,” ucap Hanna.
Selain itu, mereka juga membuat sebuah trip untuk melihat langsung pembuatan anyaman. Hal ini sekaligus menjawab rasa penasaran klien dan juga konsumen bahkan mahasiswa yang ingin mempelajari kehidupan warga NTT terutama Larantuka.
“Kita sebenarnya buka open trip ini karena adanya demand dari beberapa klien, konsumen bahkan media yang ingin melihat langsung pengerjaan produk Du’Anyam. Maka pertama kalinya kita coba di Bulan Maret kemarin dan hasilnya positif,” tukasnya.
Bahkan mereka akan membuka open trip perdana dengan harga yang kompetitif. Bahkan bisa kustomisasi tempat tujuannya.
Kesempatan untuk bangkitkan kemandirian perempuan Indonesia
Ada alasan tersendiri mengapa Hanna Keraf dan kawan-kawannya membangun Du’Anyam selain masalah kesehatan. Ternyata, Hanna melihat kalau mereka punya kesempatan besar untuk mandiri.
Mandiri dari segi ekonomi, sosial dan kesehatan. Dimana pemerintah sudah membuat segala macam program namun mereka tidak bisa mengakses karena kurangnya pendapatan.
“Saya inginnya tidak hanya di NTT saja, karena disana jadi proyek pertama dan nantinya kami kembangkan lagi ke beberapa daerah,” jawab Hanna.
Beberapa daerah yang menjadi proyek dari Du’Anyam kali ini adalah Morotai, Maluku Utara. Lalu, Sidoarjo, Jawa Timur dan beberapa daerah di Kalimantan sudah banyak berminat. Salah satu daerah yang sudah memulai proyek Du’Anyam ini adalah Sidoarjo, Jawa Timut dengan anyaman dari Bambu. Tentunya, konsep yang ada di NTT pun diterapkan di Sidoarjo.
“Harapannya, selain memajukan dunia kerajinan Indonesia juga membantu perempuan bisa mandiri secara finansial dan tidak tergantung lagi terhadap suami atau keluarga lainnya,” tutup Hanna.
